Arsip

Archive for the ‘konservasi’ Category

perkembangan elang laut yang nyasar ke IAR Indonesia

Sebenarnya International Animal Rescue(IAR) Indonesia tidak menanganai satwa jenis elang terutama untuk aktivitas perawatan di dalam kandang karena memang di IAR Indonesia tidak ada kandang untuk elang. Yang ada adalah kandang untuk Macaca dan kukang. Tapi ketika ada satwa yang harus benar-benar di tolong karena menjadi korban ketidak tahuan masyarakat yang mengatasnamakan penyayang satwa dan bermaksud baik melepaskanya tapi salah, maka IAR tidak bisa tinggal diam. Hal itu pula yang terjadi dengan latar belakang Elang Laut Perut Putih(Haliaeetus leucogaster) itu sekarang berada di IAR Indonesia. Tepatnya pada bulan Agustus sekitar pukul 14:00 selepas hujan salah seorang Perawat Satwa IAR menenmukan ada seekor elang bertengger di atas kandnag kukang dengan kondisi terluka di dada dan basah kuyup karena hujan. Akhirnya kami putuskan untuk menangkapnya dan merawatnya.

haliaeetus leucogaster/by; Asman A. PurwantoTiga bulan sudah berlalu si elang kondisinya pun berangsur membaik dan menujukan kondisi yang cukup bagus. Ditempatkan pada kandang berukuran 3X3X4meter elang laut tersebut kini menjalani hari-harinya. prilakunya pun mulai terlihat sangat bagus. Ketika dikasih makan dan tetap di tungguin sama si perawat maka si elang tidak mau makan. Tapi ketika si perawat itu pergi maka si elang akan langsung mencengkeram ikan yang di sediakan menggunakan bak kecil dan langsung membawanya ke tenggeran. Kondisi luka di dadanya pun sudah sembuh dan sudah tidak terlihat lagi kalau ada tanda-tanda bekas terjadinya luka. Kondisi kaki yang mengalami Bumblefoot juga mulai mengecil. Hal itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada keseriusan si perawat dan kerjasama tim perawat yang cukup serius dalam menanganinya. Kondisi bulu-bulu kusam ketika masih sakit kini sudah tak terlihat lagi. Yang ada sekarang sudah mulai terlihat terang pada bulu-bulu kepala, dada sampai perutnya menandakan sebuah perubahan.

Saat ini kami masih menunggu kapan waktunya si elang itu bisa kembali bebas menghirup udara alam bebas tanpa kurungan. Kalau kita mau merunut ke belakang kemungkinan elang tersebut asal mulanya bisa sampai ke IAR Indonesia sepertinya tidak jauh dari lokasi IAR berada. Kemungkinan elang tersebut berasal dari sebuah Pura atau tempat peribadatan umat Hindu yang melakukan prosesi pembebasan terhadap satwa liar. Hal tersebut didukung dengan hasil temuan kami ketika kami mendapat info bahwa di sekitar pura itu ada yang memelihara burung elang. Setelah kami cek kebenaran berita tersebut ternyata benar adanya. Di tempat tersebut kami menemukan dua elang berada di dalam kandang. Memang, ketika kami ingin memastikan masuk kelokasi kandang tersebut kami tidak bisa, tapi dari suara yang dikeluarkan elang yang ada didalam kandang itu kami yakin kalau itu adalah jenis Elang Ikan Kepala Kelabu(Ichthyophaga ichthyaetus). Bukan hanya itu. Untuk mengobati rasa penasaran kami maka kami coba menemui seseorang yang kebetulan berada di situ(saya lupa siapa namanya) untuk ngobrol-ngobrol dan menanyakan elang yang ada di dalam rumah yang menyimpan elang ikan tersebut. Setelah kami ngobrol-ngobrol, terlontar dari orang tersebut bahwa sebelumnya ada 2 ekor elang yang dilepas di kawasan itu. Dari situlah kami menyimpulkan bahwa elang laut yang nyasar ke IAR Indonesia berasal dari tempat itu juga.

Setelah tiga bulan menjalani perawatan secara intensive kini si elang laut itu tinggal menunggu saat-saat kebebasanya.

Elang jawa citayam dilepasliarkan

30 Oktober 2008 Asman Adi Purwanto 7 komentar

Info mengenai adanya Elang jawa(Spizaetus bartelsi) yang dipelihara di salah satu kios tanaman hias di daerah Citayam, Depok-Jawa Barat diketahui oleh IAR Indonesia pada bulan Desember 2007 yang kemudian dilakukan pendekatan terhadap pemilik kios tersebut. Setelah dilakukan pendekatan, ternyata elang jawa tersebut hendak dijual jika ada orang yang berminat membelinya. Penempatan elang jawa di Kios/Toko Tanaman hias yang memang berada tepat dipinggir jalan itu memang mudah sekali mendapat perhatian dari pengenadara sepeda motor maupun mobil yang lewat dilokasi tersebut. Selain lokasinya tepat dipinggir jalan raya, lokasi tersebut juga kerap terjadi kemacetan pada jam-jam tertentu yang disebabka oleh jalanan yang rusak akibat genangan air ketika musim hujan.

Asal mula Elang jawa itu berada di toko itu berawal dari salah seorang murid dari orangtua pemilik toko tersebut. Menurut informasi pemilik toko sekaligus pemilik elang jawa itu, orang tuanya di kasih anakan elang jawa sebagai hadiah dari salah satu muridnya sebagai ucapan terima kasih. Namun semakin bertumbuh kembangnya elang jawa tersebut menjadi dewasa, pemilik toko tersebut mempunyai keinginan atau bermaksud untuk menjual elang itu jika ada orang yang berminat membelinya. Harga yang di tawarkan pun terhitung mahal. Satu juta rupiah harga yang ditawarkan.

Evakuasi

Setelah melalui beberapa kali pedekatan yang dilakukan oleh IAR Indonesia akhirnya pemilik elang jawa tersebut secara sukarela mau menyerahkan elangnya setelah tahu bahwa elang jawa itu merupakan satwa yang dilindungi undang-undang dan hampir punah.

Tepat pada tanggal 23 Februari 2008 elang jawa di evakuasi oleh IAR Indonesia yang kemudian di translokasikan ke Pabaruban Raptor Center di daerah subang yang tepatnya di Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Panaruban Raptor Center dibangun berdasarkan inisiasi dari YPAL(Yayasan Pribumi Alam Lestari) sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang Pelestarian Keanekaragaman hayati di Indonesia dengan bekerjasama dengan PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater serta masyarakat Kampung Panaruban. Panaruban Raptor Center didirikan dan diresmikan pada tanggal 4 Juni 2006 dengan tujuan melakukan upaya-upaya pelestarian jenis burung pemangsa dan habitatnya melalui peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat.

Sebelumnya IAR Indonesia sudah menjalin hubungan kerjasama dengan Panaruban Raptor Center dalam hal penanganan raptor maka dari itu Elang jawa yang berhasil di evakuasi IAR di translokasi ke Panaruban Raptor Center. Perjalanan ke Panaruban Raptor Center dari lokasi elang jawa dipelihara ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil.

Sesampainya di Panaruban Raptor Center, tindakan selanjutnya adalah pengecekan secara keseluruhan kondisi fisik elang jawa tersebut yaitu dengan melakukan morfometrik bagian tubuh dan kelengkapan sayap. Dari hasil pengecekan, diketahui bahwa kondisi bulu sayap Primer telah dipotong. Pada bagian sayap kanan bulu primer yang sudah dipotong ada 8 bulu primer dan sayap kiri 5 bulu primer yang dipotong dan diketahui juga pada sayap kiri pada bagian bulu primer terdapat dua bulu primer yang baru tumbuh. Sedangkan untuk tindakan medis akan dilakukan menyusul.

Rehabilitasi

Hari-hari berikutnya elang jawa tersebut terus dilakukan pemantauan oleh Team Panaruban Raptor Center dan setiap perkembangannya akan dilakukan pencatatan sehingga dapat diketahui bahwa elang jawa tersebut dapat masuk ke tahapan rehabilitasi lebih lanjut.

Habituasi

Setelah beberapa bulan dilakukan pemantauan secara terus menerus akhirnya pada bulan Agustus 2008 elang jawa tersebut dimasukan ke kandang habituasi yang lebih besar yang lokasinya berada di pinggir hutan perbatasan antara Perkebunan Teh dan hutan panaruban. Hal itu dilakukan bertujuan supaya elang jawa tersebut bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu, tujuan dari habituasi yang dilakukan juga berdasarkan hasil observasi ketika dikandang sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi dari kandang sebelumnya perkembanganya terlihat cukup bagus. Ketika ada elang liar yang datang ke kandang observasi, elang jawa itu langsung coba menyerang dari dalam kandang. Dari hal-hal seperti itu dan beberapa perkembangan prilaku yang lain akhirnya pada bulan agustus elang jawa di pindahkan ke kandang habituasi. Kandang terakhir dari tahapa rehabilitasi.

Release

Setelah dua bulan melalui tahapan habituasi akhirnya pada tanggal 21 oktober 2008 si elang jawa di release di hutan Panaruban. Release elang jawa yang dilakukan Panaruban raptor center juga diliput oleh Nippon Hoso Kyokai(NHK) Jepang yang sebelumnya ketika evakuasi juga ikut meliput. TV dari jepang yang mengikuti proses dari evakuasi, rehabilitasi sampai dengan release serta moitoring itu sedang melakukan pembuatan film bertajuk ”garuda”.

Tepat pukul 11:00 elang jawa dilepas dengan cara membuka salah satu sisi kandang dengan cara membuka jaring kandang yang bertujuan supaya elang jawa tersebut bisa terbang keluar. Realease kali ini sama seerti dengan release sebelumnya yang selalu menggunakan metode yang sama yaitu dengan membuka jaring di salah satu sisi kandang. Selanjutnya elang jawa ini akan terus di moitoring perkembanganya setelah reselase. Hal itu bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan perkembangnya ketika berada diluar setelah release. Untuk memudahkan dalam monitoring, Panaruban Raptor center memasang Transmiter dan Wingmarker pada elang jawa itu. Sebelum kegiatan reselase dilakukan, terlebih dahulu tim monitoring melakukan pengecekan transmiter menggunakan Transceiver atau radio penerima signal dari transmiter yang dipasang pada elang jawa itu. Pengecekan dilakukan dengan cara menyamakan frequency yang ada pada transmiter ke receiver.

Setelah team menunggu sekitar dua jam setengah akhirnya elang jawa tersebut keluar dari kandangnya dengan cara di usir oleh tim yang nantinya akan terus memonitor perkembanganya. Uniknya yang dilakukan oleh panaruban raptor center dalam pengelolaan rehabilitasi dan kegiatan monitoring serta penelitian raptor selalu melibatkan masyarakat kampung panaruban. Monitoring kali ini pun sama. Untuk monitoring elang jawa kali ini dilakukan oleh masyarakat yang ikut terlibat dalam program rehabilitasi dan di dampingi oleh staff Panaruban Raptor Center.

photo:

Asman A. Purwanto

Panaruban Raptor Center


Pedagang burung mulai dengan jenis elang

19 Oktober 2008 Asman Adi Purwanto 5 komentar

Berawal dari info yang dikasih sama teman, saya coba memastikan kebenaranya. Pas hari Sabtu Tanggal 4 Oktober 2008 saya coba untuk memastikan kebenaran info tersebut. Ternyata benar apa kata teman saya. Pertama ketika masuk ke pasar hewan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tadinya hanya menjual Kambing dan Sapi kini pedagang burung juga sudah mulai banyak. Target saya kepasar yang kebetulan tidak jauh dari rumah adalah untuk memastikan info dari teman saya kalau di pasar tersebut menjual jenis Elang. Ternyata benar. Seekor Elang Brontok(Spizaetus cirrhatus) sedang ditawarkan kepada pengunjung yang datang. Walaupun sebenarnya banyak juga pengunjung yang datang hanya ingin sekedar melihat-lihat saja. Elang brontok tersebut ditarus ditanah, disamping kandang-kandang burung yang lain. Kalau melihat beberapa jenis burung yang dijual ada juga yang masuk dalam kategori burung dilindungi selain elang brontok itu tadi.

Rasa penasaran saya memicu saya  untuk menanyakan kepada sipedagang… Obrolan saya awali dengan menanyakan bahwa itu burung elang seolah kalau saya orang yang memang awam dengan burung tersebut. Pedagang menjawab kalau itu burung Garuda, Rajawali dan Elang karena itu nama yang lazim digunakan oleh para pedagang. Dari obrolan tersebut saya coba lontarkan beberapa pertanyaan dari mana asal elang tersebut diperoleh. Dari keterangan si pedagang, elang itu didapat dari daerah Banjarnegara. Saya agak sedikit kurang percaya karena daerah tersebut yang saya tahu kondisi hutanya sudah tidak begitu bagus untuk jenis elang berbiak. Ternyata kebiasaan pedagang memperoleh elang bukan hanya dari Banjarnegara tapi dari daerah lain seperti Dieng(Wonosobo), Bobotcari dan Slamet. Informasi dari pedagang sama seperti yang info yang diperoleh sama teman saya yang kemungkinan dari pedagang yang sama. Waktu itu teman saya datang kepasar tersebut satu minggu sebelum saya datang dan katanya jenis elang yang dijual adalah jenis Elang Ular Bido(Spilornis cheela) 2 ekor.

Masih menurut pedagang, katanya mereka setiap bulan bisa memperoleh atau bisa mengumpulkan sekitar 4 ekor elang dari daerah Slamet. Untuk harga jenis Elang Brontok di pasang harga Rp.300.000-Rp.750.000(Tigaratus ribu rupiah sampai dengan tujuhratus ribu rupiah). Kata pedagang yang menjual elang dan burung-burung kecil itu menyebutkan kalau mereka justru untungnya bisa lebih besar ketika mereka menjual elang dibanding dengan jualan burung-burung kicau. Selain menjual burung, ternyata ditempat itu juga ada Landak(Hystrix braychura) dan Lutung Jawa(Trachypytecus auratus) . Kebetulan saya tidak menanyakan harga dari satwa tersebut yang juga dilindungi.

Ternyata pasar yang terbilang kecil ini justru menjadi ladang bagi pedagang atau lebih jelasnya pembisnis burung lebish leluasa berbisnis karena jauh dari pantauan pihak yang berwenang dan bisa jadi mereka berlindung dibawah orang yang cukup punya pengaruh didaerah itu.