Arsip

Archive for the ‘raptorwatching’ Category

Terjerat dan terbelenggu seutas tali pengikat

24 November 2009 Asman Adi Purwanto 6 komentar

Burung ini bukan diam karena lelah, tapi dia tak bisa kenmana-mana karena salah satu kakinya terikat tali panjang

Entah apa maksudnya tapi yang jelas agar si burung tidak bisa terbang dan bisa teta menjadi tontonan. Itulah yang terjadi pada Great Egret,Egretta alba, di sebuah perkampungan di Sungai Kapuah, Kalimantan Barat. Dia hanya bisa diam menghuni tempat berlumpur dengan sedikit air. Ikan kecil-kecil pun malas untuk menghuni tempat itu yang terlihat ada beberapa bekas kantong plastik yang entah bekas pembungkus apa.

Read more…

Jum’at,09 Oktober 2009 Kembali menyambut sang pengembara

Jum’at 09 Oktober 2009 di Bukit Paralayang, puncak melintas ratusan Burung Elang yang melakukan perjalanan panjang dari belahan bumi bagian utara. Mereka melakukan perjalanan panjang dalam rangka untuk mencari kehidupan yang lebih beradab ketika di daerah berbiaknya kondisi lingkungan sedang dalam keadaan yang sangat ekstrim. Ketika di daerah berbiaknya sedang masuk musim dingin yang cukup ekstrim burung-burung pemangsa itu akan melakukan perlanan panjang ke Bumi bagian selatan dan pengamat terakhir yang saya tau selama ini hanya melintas di indonesia. Tidak sampe ke Australia. apa alasannya?… kami masih belum dapat jawaban itu.

Photo by: Iwan Londo/WCS-IP

Photo by: Iwan Londo/WCS-IP

Setelah sebelumnya yaitu hari Sabtu tanggal 3 Oktober pengamatan selama sehari tidak mendapatkan hasil yang cukup memuaskan maka hari jum’at di minggu berikutnya kembali berangkat menuju Puncak dengan harapan akan mendapatkan hasil yang lebih bagus dari waktu sebelumnya. Berangkat dari Bogor jam setengah delapan pagi dengan menggunakan Si kuda Besi yang akan siap mengantarkanku kemanapun saya mau itu tidak sampai satu jam waktu yang saya tempuh untuk sampai ke lokasi pengamatan.

Nasib bagus memang sedang berpihak kepada saya. 50-an Chinese Goshawk,Accipiter soloensis, terlihat soaring dalam jarak tidak kurang dari 100 meter. Kemudian di susul oleh Japanese SparowHawk,Accipiter gularis, 5 ekor terbang berkelompok. Pagi yang menyenangkan…

Read more…

Menyambut sang pengembara dari utara

Bukit Paralayang, Puncak

Sabtu, 03/10/2009. Menggunakan sepeda motor para pengamat burung yang tergabung di Sahabat Burung Indonesia info dan Raptor Indonesia berangkat menuju Bukit Paralayang atau yang dikenal orang dengan bukit Gantole, Puncak Bogor. Ada apa disana? Apa mereka mau mengamati orang terbang menggunakan Parasut?. Jelas tidak. Mereka, termasuk saya sendiri yang ikut juga dalam rombongan itu pergi ke puncak bermaksud untuk mengamati Raptor yang melakukan migrasi musim dingin. Ratusan bahkan ribuan burung pemangsa yang terdiri dari Elang Alap Cina,Accipiter soloensis, Elang Alap Jepang,Accipiter gularis dan Sikep Madu Asia,Pernis ptilorhynchus orientalis melakukan migrasi ke indonesia ketika di tempat asalnya sedang terjadi musim dingin sehingga untuk bertahan hidup mereka sulit. Untuk itu setiap musim dingin berlangsung mereka melakukan migrasi dan kembali lagi ketika musim semi berlangsung.

Sikep Madu Asia(Pernis ptilorhynchus orientalis)
Sikep Madu Asia(Pernis ptilorhynchus orientalis)

Puncak, merupakan tempat yang paling banyak ditemukan jumlah yang melintas jika dibanding dengan daerah lain di Bogor. Di tempat itu setiap tahunya dilakukan pengamatan bersama untuk mengetahui jumlah dan jenis yang bermigrasi. Nah, saya dan beberapa teman dari Sahabat Burung Indonesia Info dan Raptor Indonesia meluncur kesana untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para pengamat burung lainya setiap tahun di tempat tersebut. Berangkat dari depan Masjid Agung Bogor jam setengah sembilan pagi. Sempat terkena macet di kawasan pasar Cisarua menuju Taman Safari Indonesia. Hampir setiap kendaraan yang tersendat berplat nomor B yang berarti pengendara yang melintas ke arah puncak bukan berasal dari warga Bogor melainkan dari jakarta. Kami yang menggunakan sepeda motor tidak sampai terkena macet cukup lama dan kami sampai di pucak paralayang sekitar pukul 09:30. Belum ada aktivitas yang cukup rame di tempat itu. Ada satu orang yang terlihat sudah memasang Monocullare. Orang yang dimaksud itu ternyata dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Read more…