Salah Jurusan

Saya pikir ini akan menjadi menarik untuk di tulis dimana dua orang yang tinggal dibogor lebih dari dua tahun bisa salah naik angkot .

Jadi begini. Malam itu kami(saya, dan kedua teman saya, Aris dan Ayut) menyambangi tempat teman di Warung Jambu. Kami berangkat dari kosan yang berlokasi di Ciapus sekitar jam setengah tujuh karena menunggu teman saya pulang kerja.

Singkat cerita kami pun berada di tempat teman yang tadi saya sebutkan yaitu di tempat Masbro AW.

Setelah ngobrol banyak dan sudah ngopi dan segala macam waktunya pulang pun tiba. Kami berpamitan untuk pulang karena jam sudah menunjukan jam sepuluh malam.

Begitu sudah di perempatan Warung Jambu angkot dengan Nomor 08. Tanpa tanya ba bi bu kami bertiga naik ke angkot tersebut. Pikir kami ya angkot dengan nomor 08 ya pasti itu jurusan ke Ramanyana dimana kami akan naik angkot dengan jurusan berikutnya yaitu angkot yang ke ciapus.

Nah,.. yang kami bingun adalah ketika angkot sampai di Pasar Anyar jalan dewi sartika kok angkot itu berputar dan mengarah ke jurusan yang sepertinya salah. Jalan yang dilewati sih Jalan Jenderal Soedirman dan sepertinya itu adalah jalan yang mengarah ke Istana bogor dan berarti akan menuju ke Ramayana. Tapi kok balik lagi ke Air Mancur.

Tambah bingung.

”Ini gak ke Ramayana ya A?” Tanya saya ke AA Sopir.

”Mau ke Ramayana, A?” tanya si sopir

“Iya. Ini gak ke Ramayana?”

“Tidak, A” Kata AA sopir tadi”Kalau yang ke Ramayana yang warna Ijo dan ada cat merah bagian bawahnya”.

Kami turun dong dan pastinya harus nyari angkot dengan ciri-ciri yang disebutkan sopir 08 tadi.

Kami bertiga hanya tertawa dan di tertawain teman saya, Ayut, yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Yang jadi bahan tertawaan adalah kami yang sudah lama di bogor masih bisa salah angkutan umum. Itu hal yang pantas untuk di tertawakan.

Begitu ada angkutan yang lewat kami coba stop.

“Ramayana?”.

“Wah, kalau dari sini(air mancur) tidak ada yang ke Ramayana. Cuma sampai ke Kejaksaan” Kata sopir 07” Nanti dari kejaksaan nyambung lagi ke ramayana”.

Tetep, kami gak naik dan berpikir masa sih kota dengan julukan Seribu Angkot tidak ada angkutan yang ke ramayana?

Akhirnya kami berjalan sambil sesekali memperhatikan angkutan umum yang lewat dan kali ini benar-benar teliti melihat ke tulisan trayek. Apa yang terjadi? Setiap angkot yang lewat tidak ada yang bertuliskan Ramayana-Warung Jambu. Yang ada hanya Warung Jambu-Ciparigi atau Warung Jambu-Bojong Gede.

Malam-malam akhirnya kami berjalan di sepanjang Jalan Jend.Soedirman dengan seseklai tertawa menertawai kebodohan kami pada saat itu.

Dua tahun tinggal di Bogor baru kali ini salah jurusan naik angkot.

Alhasil, kami berjalan dari air mancur sampai ke depan Istana Bogor dan baru bisa naik angkot ke Ramayana. Ngantuk pun harus ditahan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa walaupun kita tinggal di kota dengan beribu-ribu angkot tetap saja kita harus lebih teliti ketika kita akan menggunakan jasa angkutan tersebut.

Ini buktinya. Walupun sudah dua tahun dan tinggal di tempat yang berjubel dengan angkot tetap saja masih salah jurusan,..

It’s stupid,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s