Si Bondol 2000 rupiah

Lonchura leucogastroides

Aku teringat betul masa dulu ketika harus pergi kesawah menunggui tanaman padi yang belum juga berumur satu bulan dari masa dia keluar dari batangnya. Orang-orangan sawah menjadi andalan ketika padi sudah mulai keluar. Orang-orangan sawah itu terus di goyang-goyangkan untuk menakut-nakuti Burung emprit yang mempunyai nama Bondol Jawa. Dalam jumlah besar segerombol bondol datang ke tanaman padi yang sudah mulai berbuah. Sedikit yang mereka perlukan untuk memenuhi temboloknya tetapi buat para petani merupakan rugi besar kalau harus berbagi dengan para burung pemakan biji ini.

Javan Munia bahasa inggrisnya dan Lonchura leucogastroides nama ilmiahnya. Jenis burung yang perilaku hidupnya membentuk sebuah kelompok hingga 50-an ini kerap menjadi musuh para petani sehingga para petani rela menghabiskan hari-harinya untuk menunggui tanaman padinya supaya tidak habis dimakan oleh burung-burung yang orang sunda bilang Piit itu.

Bondol Jawa

Saat ini, kondisinya mungkin sudah mulai berubah. Untuk sekarang ini saya pribadi sudah jarang melihat burung ini ada di sawah dalam jumlah sebanyak yang dulu aku lihat ketika harus menghabiskan waktu bermainku di ladang untuk mengusir mereka. Perburuan untuk di perdagangkan menjadi pemicu semakin berkurangnya burung yang sebenarnya bisa dibilang menjadi teman buat para anak-anak yang bermain disawah menemani orangtuanya menunggui tanaman padinya. Selain itu, mungkin juga, selain perburuan juga penggunaan pestisida yang menyebabkan burung yang memakan padi itu mengalami keracunan atau bahkan telur yang dihasilkan terkontaminasi dengan bahan kimia dari pestisida itu sehingga telur gagal menetas.

Burung yang dibilang musuh pak tani ini kalau kita coba ingat mungkin salah satu dari adik-adik kita yang masih SD ada yang pulang dari sekolah bawa sangkar kecil dengan isi satu burung. Dewasa ini, banyak orang sudah meutar otak bagaimana bisa mendapat uang dengan memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar yang salah satunya dengan memanfaatkan banyaknya burung-burung kecil ini. Burung bondol jawa yang kadang di beri pewarna itu di jual di sekolah-sekolah dengan harga yang relatif murah sehingga dengan uang 2000-5000 rupiah murid-murid sekolah dasar bisa pulang dengan membawa peliharaan.

Anak-anak yang terlahir sebagai anak petani mungkin akan akrab dengan burung ini. Tapi bagaimana dengan yang terlahir sebagai anak gedongan? dia akan tahu kalau beli dari abang-abang yang berjualan di sekolah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s