Ular Memangsa Kodok, Hukum Alam itu Berlaku

Ular memakan Kodok itu memang kodrat dari Illahi. Mangsa dimakan sama Pemangsa itu sudah sewajarnya. Ya,. itulah yang terjadi pada suatu pagi di Way Rilau. Kawasan Hutan Lindung di Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Tanpa sengaja ketika sedang memperhatikan kawan-kawan membersihkan Kiambang(tanaman air) tiba-tiba ada pergerakan yang membuat saya terpancing untuk mengintipnya. Berada dibawah batang pohon yang tumbang rumput yang masih basah karena embun itu bergerak. Seekor Ular Picung Leher Biru(Macripisthodon rhodomelas) sedang melumpuhkan Kodok Puru Hutan(Bufo biporcatus). Menjadi saksi berjalanya proses rantai makanan adalah hal yang sangat menarik dan sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja tanpa ada pendokumentasian. Bergegas saya mengambil Kamera dan segera mengabadikan fenomena alam yang jarang saya temui ketika berada di lapangan.

Hampir satu jam proses itu berjalan. Dengan sabar menunggu untuk mengabadikan momment berharga itu. Bukan sepuluh tapi lebih jepretan demi jepretan foto memenuhi file di memory card 4 GB di kamera pinjaman yang saya bawa. Dan, saya menganggap ini adalah Hukum Alam yang berlaku.Yang jelas di pertegas bahwa yang lemah menjadi mangsa dari sang pemangsa.

Kodok Puru Hutan atau yang bernama inggris Crested Toad yang ukuran tubuhnya 3 kali lipat dari ukuran tubuh si Ular Picung ini tanpa mengalami kesulitan. Perlahan namun pasti.

Yang menarik adalah ketika saya menunjukan foto Perilaku Ular dengan nama inggris Blue-necked Keelback ini ke kawan saya, Sasi Kirono yang akrab dipanggil “Ucok”.

“Ular picung ini melumpuhkan Mangsanya(baca: Bufo biporcatus) dengan racun di Bufo”. Kata Ucok yang alumni Fakultas Kehutanan Instutt Pertanian Bogor itu.

“Kok bisa, Bang?”. serentak kawan-kawan di Uni Konservasi Fauna(UKF) itu bertanya penasaran. Pun demikian saya.

“Bufo biporcatus kelenjar kulitnya itu terkandung racun yang sebenarnya sebagai perlindungan diri dari pemangsa. Tapi, dalam kasus ini racun yang terkandung dikumpulkan di mulut Ular Picung ini yang kemudian dimasukan kembali ke tubuh si Bufo melalui gigitan si Ular yang lama kelamaan melumpuhkan si bufo tersebut”. Jelas si Ucok.

Ah, ini seperti senjata makan tuan.

Memang, pada saat gigitan pertama Kodok Buduk itu, begitu warga sekitar menyebutnya, terlihat kuat meronta mencoba melepaskan diri dari bencana maut yang menimpa dirinya. Tapi, tidak kurang dari sepuluh menit tubuh si Bufo mulai lemas dan mati. Ular Picung Leher Biru ini tidak melilit mangsanya seperti yang terjadi pada perilaku ular yang lain. Mangsa akan tetap dalam gigitan sampai benar-benar tidak berdaya yang kemudian secara perlahan, sedikit demi sediki tubuh si kodok dimasukan kedalam perutnya.

Gigitan pertama tepat di perut. Ketika kodok sudah lemas perlahan gigitan bergeser ke Kepala. Mulut Ular sedikit demi sedikit terbuka. Sungguh ini sebuah keagungan Tuhan yang sangat luar biasa. Mulut si ular memang di design untuk hal-hal seperti ini. Mulutnya terbuka menganga hampir mencapai 180 derajat. Mampu melumat mangsa yang ukuran tubuhnya 3 kali lipat dari dirinya. Dan lagi saya bilang ini adalah kejadian yang sangat luar biasa dan saya beruntung karena jadi orang yang menjadi saksi berlangsungnya proses seleksi alam.

Ah,.. saya harap ini adalah foto terbaru dari jenis yang berbeda untuk koleksi di Foto Biodiversitas Indonesia. Dari sekian banyak foto yang saya ambil 16 di antaranya yang merekam proses alamiah itu saya setorkan ke FOBI. Senang karena ternyata itu koleksi baru untuk album Reptilia di Fobi.

Gallery>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s