Berbagi Keceriaan bersama anak-anak Pulau Rupat

Hari itu (11/03/12)  ada yang aneh dan beda di Lokasi Wisata Pantai Pesona, Teluk Rhu, Pulau Rupat. Segerombolan anak muda membawa tas dan beberapa perlatan turun dari mobil dinas kecamatan Rupat Utara. Meraka menuju pantai teluk rhu. Beberapa dari mereka terlihat membentagkan spanduk bergambar elang dan beberapa Tulisan.

Along bocah laki – laki kelas 4 SD terlihat malu – malu untuk mendekat. Rasa penasaran itu yang membuat dia berani mendekat dan melihat – lihat. Bukan hanya Along tapi beberapa anak gadis seumuran dia pun ikut mendekat dan melihat. Bukan hanya melihat tapi ada yang berkomentar ” Elang Ayam ” ketika melihat foto Elang Bondol (Haliastur indus) pada salah satu standing banner yang kami bawa.

Dua kakak adik sedang mengamati spanduk dan banner raptor

Ya, segerombolan anak muda yang saya bilang itu adalah KAMI, anggota RAIN (Raptor Indonesia ) dan simpatisan KSLH Riau sengaja datang ke pantai teluk rhu untuk Monitoring dan Sosialisasi mengenai migrasi raptor di Pulau Rupat yang selama ini tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang bahwa pulau tersebut menjadi pintu gerbang masuk dan keluarnya burung – burung yang bermigrasi ke Sumatera. 

Ini merupakan kegiatan awal dimana pada bulan September minggu ketiga hingga November kegiatan besarnya akan dilakukan. Survey awal untuk identifikasi lokasi dan juga sosial masyarakatnya dirasa sangat perlu sehingga kami harus berangkat dan stay beberapa hari di Pulau Rupat yang teryata disisi lain banyak permasalahan kerusakan lingkungan. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana masyarakat peka terhadap fenomena alam yang sudah terjadi selama bertahun – tahun menjadi bagian dari pulau rupat.

Selain mensosialisasikan melalui spanduk, standing banner dan big banner yang kami bawa, interaksi langsung dengan warga sekitar juga dilakukan. Hal tersebut untuk menjalin kedekatan antara tim dan warga sekitar. Hasilnya diluar dugaan kami. Awalnya kami menduga warga kepulauan yang berada dititik terluar NKRI ini garang – garang dan sulit menerima pendatang ternyata sangat terbuka dan menyambut baik apa yang kami lakukan.

Pak Jaman salah satu sesepuh Pulau Rupat bahkan sangat senang dan mempersilahkan tim datang kerumah beliau. Pak Jaman selaku orang yang di Tuakan di Rupat Utara ternyata sudah paham bahwa ada ratusan bahkan ribuan elang yang pada waktu – waktu tertentu melintas di Pulau yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu.

Sosialisasi Elang bersama warga

” Kami menyebutnya Elang Penyakit. Itu karena elang yang begitu banyaknya hanya terbang berputar – putar di atas pulau ini tapi tidak hinggap dan singgah selayaknya burung – burung yang kami ketahui selama ini” Ungkap Pria yang pantas di panggil Mbah atau Eyang itu.

Pak Jaman yang seumur hidupnya dihabiskan di Pulau Rupat paham betul apa yang terjadi di lokasi tinggalnya itu. Bahkan beliau bercerita bahwa ditahun 60-an beliau sudah mengetahui kalau ada ribuan burung yang datang dari arah Tanjung Tuan (Malaysia) ke Pulau Rupat. Hal itu beliau ketahui ketika hampir seminggu sekali beliau dan beberapa warga lainya menyeberang ke Tanjung Tuan untuk berbelanja keperluan sehari -hari. Ketika ditanya kenapa belanjanya ke Malaysia?

” Ke Malaysia hanya satu jam sedangkan kalau ke Dumai perlu waktu setengah hari. Bukan hanya itu, pada masa itu warga rupat lebih kenal malaysia daripada dumai yang bagian dari Indonesia” Tambah beliau.

Bermain bersama Anak – anak

Bercerita dan berbagi informasi dengan para sesepuh merupakan satu dari beberapa agenda kami datang ke pulau tersebut. Kegiatan lainya adalah pemantauan migrasi raptor yang kami lakukan selama tiga hari itu. Nah, setelah pemantauan berakhir karena tidak ada yang melintas itu menjadi waktu dimana kami berbagi keceriaan bersama anak – anak pulau. Anak – anak begitu ceria dan senang dengan adanya kegiatan yang kami lakukan karena mereka bisa ikut menggunakan Monoculars dan Binoculars yang kami bawa. Itu merupakan hal baru bagi mereka.

Namanya juga anak – anak pasti senangnya bermain apalagi kalau permainan itu baru bagi mereka. Permainan “bisik kata” menjadi permainan yang paling disukai oleh anak – anak. Tim menggunakan kata “Elang” untuk menanamkan pada anak – anak mengingat kegiatan kami berhubungan dengan elang. Anak – anak yang mengikuti permainan, terutama pemimpin kelompok, diminta melihat dan memilih salah satu jenis elang yang ada pada big banner dan membisikan nama elang yang dipilihnya ke kawan – kawan satu tim. Nah, disini yang kalah harus mengumpulakan sampah botol air mineral serta plastik yang berserakan di pantai lokasi pemantauan. Kemudian yang menang pun tidak serta merta mendapatkan hadiah. Yang menang kami minta untuk menyayikan lagu wajib yang biasa dinyanyikan di Sekolah.

Nah, yang kedua ini yang sedikit mengecewakan. Anak – anak yang rata – rata masih duduk di sekolah dasar tidak begitu kenal dan paham dengan lagu wajib seperti Garuda Pancasila, Padamu Negeri, dll. Justru mereka lebih kenal dengan lagu orang dewasa seperti lagunya D Bagindas C.I.N.T.A, Gayus, Wali Band dan Band Malaysia. Dan ini menjadi tantangan tim untuk mengenalkan lagu – lagu wajib. Hahaha,.. modar koen,.. Walaupun sebenarna bukan hanya di pulau rupat anak – anak menyanyikan lagu orang dewasa. Along adalah salah satu dari mereka yang begitu fasih menyanyikan lagu – lagu orang dewasa itu dan itu tidak seimbang dengan kemampuan dia di Sekolah. Ya, Along sudah 3 kali tinggal kelas. Kasihan juga sih,.. dan itu yang terpikir di kawan – kawan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi adik – adik di pulau rupat. Ilmu yang akan menjadi modal mereka kelak.

Bukan hadiah dan hukuman tapi keceriaan yang sepertinya jarang mereka dapatkan. Bukan hanya itu, informasi baru yang mereka tidak pernah dapat di sekolah mereka. Selama ini mereka mengenal Elang/Raptor Migrant itu sebagai elang penyakit dan sekarang mereka tahu kalau yang melintas dan soaring di atas tempat kelahiran mereka itu merupakan satwa liar yang harus dijaga.

Pulang, berarti harus berpisah

Kegiatan selama tiga hari di Pulau Rupat ternyata belum memberikan suatu yang berharga bagi Along dan kawan – kawannya. Banyak hal yang belum kami berikan pada mereka. Raut muka sedih terlihat sekali di wajah anak – anak yang selama kami berkegiatan selalu nimbrung dengan kami. Tapi kami meyakinkan kepada mereka kalau kami pasti akan datang lagi dan membawakan sesuatu buat mereka.

One thought on “Berbagi Keceriaan bersama anak-anak Pulau Rupat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s