Bird Banding di Suaka Elang #2 (habis)

Rasanya saya sudah lupa sudah berapa kali saya lihat blog saya yang lama tak update. Tulisan Bird Banding di Suaka Elang #1 seperti menunggu kelanjutan cerita hari kedua. Saya pun hanya mikir kapan meh nulis neh? (kapan mau nulis lagi). Rasa malas  membuat semua menjadi terhambat dan itu benar terjadi pada diri saya yang malas sekali untuk nulis. Walaupun hanya sekedar beberapa paragraf saja. Wes ra sah kakean cing cong,..

Hari kedua jam/waktu pemasangan jaring dilakukan lebih awal dari hari sebelumnya untuk antisipasi waktu yang terlalu kesiangan sehingga burung yang tertangkap jadi sedikit. Hari kedua pemasangan jaring kabut dilakukan sebelum waktu Shalat Subuh(04:00). Mata masih burem karena baru bangun dan badan masih nagih karena tidur sudah larut malam dan tidur tidak nyenyak karena kedinginan.

Lokasi pemasangan dilakukan di lokasi berbeda dari hari sebelumnya yaitu di seberang Kantor Resort TNGHS atau seberang Kali Cibadak. Satu demi satu jaring dipasang di lokasi yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya oleh kelompoknya masing – masing. Seperti biasa saya hanya menjadi juru potret. Lokasi yang dipilih berada di lokasi bekas sawah yang memiliki semak cukup rimbun. Memang, kalau ikut kegiatan persiapanya ndak matang ya pasti ada saja kejadian yang  bakal jadi bahan tertawaan. Untung saja ndak ada yang lihat pas tersungkur pagi – pagi buta. Waktu pemasangan jaring rata – rata selesai 30 – 45 menit untuk 2 –  3 pasang jaring.

Istirahat 45 menit bisa digunakan untuk Shalat Subuh dan sekedar bikin teh untuk menghangatkan tenggorokan dan sedikit merilekskan badan yang kedinginan. Setelah semua ritual dilakukan baik yang Shalat maupun yang melakukan hal lain selesai, waktu pengecekan jaring dilakukan. Kondisi dan situasi lokasi Suaka Elang sudah mulai terlihat seiring naiknya Matahari di ujung timur Bumi ini. Semakin mendekat ke Jaring rasa was – was selalu ada berharap ada makhluk berbulu yang nyangkut dijaring.

“asiikkk,.. “. Noni memasang muka senang. Tapi jangan senyum dulu kawan “ ah sial!”. Apa yang terjadi saudara – saudara? Dan apa yang tersangkut pada jaring Noni dan Putri?.. eng ing eng,.. satu ekor kelelawar atau yang biasa dijuluki “ngket ngket” karena bunyinya hampir mirip seperti itu. Satu ekor kelelawar nasibnya sedang sial karena masuk ke jaring kabut. Sial, apes karena harus berurusan dengan manusia. Harus rela diremas. Bukan hanya Noni dan Putri yang dapet bonus kelelawar. Cepi dan Aron pun demikina. Doble pula. Hanya satu jaring yang ada burungnya dan kalau ndak salah itu jaring yang dipasang oleh Mono dan Bu Yeni. Udin yang bertugas meng-ekstrak si Cinenen. Sedangkan saya, cepi dan aron sibuk mengeluarkan Kelelawar dari dua jaring yang berbeda.

Entah hari itu yang memang sedang beruntung apa memang lokasinya yang tepat. Setelaah pagi butaa harus berurusan dengan Kelelawar, di trip pengecekan kedua beberapa individu burung dari beberapa species seperti Cucak Kutilang, Perenjak Jawa dan Cinenen Pisang tertangkap mengawali pagi yang penuh keceriaan itu. Bahkan, untuk tiga individu Cucak Kutilang dua diantaranya Re-Trap. Keduanya merupakan burung yang dipasang Ring beberapa tahun sebelumnya. Sedangkan yang satunya diperkirakan anak dari kedua Kutilang tersebut. Mengapa demikian? Satu: masih muda, dua: berbarengan dengan tertangkapnya sepasang kutilang tadi, dan tiga: lokasinya sama dalam satu jaring. Jika memang demikian fungsi Bird Banding berjalan sesuai dengan targetnya. Penelitian awal dan Monitoring jangkan panjang daur hidup burung yang dipasang cincin.

Ketika hasil tangkapan banyak proses belajar Pencincinan pun lebih merata karena bisa semua anggota tim yang masih baru – baru bisa belajar ke tahap yang lain. Misalkan yang belum pernah masang cincin tapi jam terbang sudah tinggi maka pada saat itu bisa melakukan penyincinan. Hari kedua terbilang lumayan banyak jika dibanding hari sebelumnya.

Cerita dihari kedua ada kejadian yang kalau dibilang seru ya memang seru karena mampu membuat Aron tertawa ngakak sejadi – jadinya. Padahal kalau lihat proses kenapa dia bisa tertawa seperti itu ada rasa was –was ketika melihat salah seorang kawan yang terpeleset sampai jungkir balik nyungsep ke lumpur dibawahnya. Miris dan was – wasnya karena posisi jatuhnya sampai muter sehingga kepala jadi tumpuan badan sebelum benar – benar berbaring di lumpur. Kejadian yang rasanya tak pantas untuk di dokumentasikan karena itu sudah pasti sakit. Demi seekor cinenen dia rela jungkir balik nyungsep di lumpur, dan itu yang harus di apresiasi. Dua jempol lah buat yang Nyungsep,..

Bonus buat yang nyngsep adalah masang cincin pada burung yang dia selamatkan,.. horeeee,.. Tapi yakin, dirumah pasti badan pada sakit – sakit tuh,.. sampai pada saat saya posting tulisan ini saya senyum – senyum ingat kejadian pada saat itu,..

Pelatihan Bird Banding di Suaka Elang hari itu diakhiri dengan sebuah cerita kenapa kok sampe nyungsep dilumpur?.. eh bukan, salah,.. hehehe,..

Dokumentasi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s