Anggrek “ Chibi- chibi” dari gunung Belerang

Liparis crenulata - CA Kawah Ijen

Liparis crenulata – CA Kawah Ijen

Rupanya elok nan cantik. Biarpun mereka berada diantara rumput ilalang dan semak belukar namun kecantikanya tetap tampak mempesona. Ya, itulah sekumpulan anggrek tanah yang saya temukan di pegunungan belerang terkenal di negeri Minak Jinggo itu.

Tanaman rumput itu ternyata anggrek. Padahal kalau saya bilang itu tetaplah rumput liar yang tumbuh bersama dengan rumput – rumput yang lain. Ketika dia berbungan pun sama seperti rumput – rumput yang lain. Sama – sama mengenyangkan bagi kambing dan sapi. Tapi kenapa dibedakan menjadi Anggrek? Itu hanya keheranan saya saja ketika beberapa kawan menunjukan kepada saya bahwa rumput diantara rerumputan dan semak itu adalah anggrek.

Ini adalah cerita saya ketika berkegiatan di kawasan Cagara Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kawah Ijen selain si Api Biru yang terkenal adalah dapur Belerang dan para penambang belerang. Bagi orang awam pada umumnya kalau ditanya ada apa di kawah ijen pasti akan menjawab ada belerang dan kawah berair biru. Tetapi akan beda kasusnya kalau yang ditanya para bioders. Pasti akan menjawab “Misteri”.

Antara Chibi dan si Bulu mata lentik

Malaxis kobi si chibi nan imut/ Kawah Ijen Oleh: Asman A. Purwanto

Malaxis kobi si chibi nan imut/ Kawah Ijen Oleh: Asman A. Purwanto

Entah kenapa banyak bioders atau mungkin lebih tepat kalau disebut “anggrekers” itu menyebut anggrek dengan istilah chibi. Apa mungkin karena banyak anggrek yang rupanya cantik dan imut seperti para personil Girl Band Cheribelle yang kesemuanya beranggotakan wanita muda itu? Entahlah, saya sendiri tidak tahu asal muasal dan siapa pemberi nama chibi itu pada anggrek – anggrek itu.

Selama beregiatan di CA/TWA Kawah Ijen setidaknya saya bisa mengumpulkan 4 jenis anggrek dan saya berterima kasih kepada kawan – kawan yang telah menunjukan pada saya bahwa itu adalah anggrek. Angrek pertama yang saya temukan adalah Malaxis kobi si anggrek mini yang memiliki banyak warna bunga. Awalnya saya pikir yang saya foto lebih dari empat karena untuk malaxis kobi sendiri saya motret  dua warna bunga yaitu Hijau dan Merah. Warna bunganya cantik dan pantas kalau ini disebut chibi.

Bukan chibi namanya kalau hanya beranggotakan satu personil. Selain Malaxis kobi saya juga tak melewatkan dua jenis anggrek dari Genus Liparis yaitu Liparis crenulata dan Liparis pallida. Keduanya merupakan anggrek yang hidup  menempel pada pohon atau epifit. Keduanya memilki bunga yang cantik. Yang mampu membuat orang lain merasa cemburu ketika kami (saya, Imam Kholil dan Zulfikar”zul”) berhasil mencumbuinya. Saking asiknya kami bersama dua chibi itu sampai Elang Hitam ( Ictinaetus malayensis ) lewat di depan kami pun kami abaikan. Sungguh luar biasa pesona kedua Liparis itu.

Keindahan bunga anggrek memang sudah tak dipungkiri lagi. Keindahannya sudah tersiar sedari dulu. Karena keindahannya itulah bunga anggrek banyak diburu sebagai tanaman hias. Khususnya untuk angrek – anggrek yang memiliki bentuk bunga dengan warna mencolok dan berbunga banyak.

Perkenalan saya dengan chibi di ijen sebenarnya bukan yang pertama, akan tetapi untuk kali ini bisa dibilang lebih intim dibanding perkenalan saya ketika di Merapi. Bahkan bukan hanya chibi yang saya temui di Ijen pada waktu itu. Paras cantik dengan bulu mata lentik begitu mempesona yang mampu menyedot perhatian saya untuk sejenak meninggalkan chibi. Ya, Habenaria multipartita, anggrek tanah dengan bentuk bunga yang menyerupai bulu mata itu rasa – rasanya lentiknya mengalahkan bulu mata gelombang samudranya Syahrini. Banyak tumbuh bersama rumput liar di pinggir jalan dari arah Bondowoso yang berjarak sekitar 300 meter dari pos paltuding.

Habenaria multipartita "si bulu mata lentik"

Habenaria multipartita “si bulu mata lentik”

Perkenalan dengan bulu lentik itu tidak lepas dari jasa Shaim Basyari dan Zulqarnain “zuqi” yang pulang blusukan pada waktu itu. Rasa penasaran itulah yang mendorong saya di hari berikutnya(17/02/13) untuk segera menemui si mata lentik itu. Seperti tidak mau melewatkan si mata lentik itu saya terus menunduk seperti orang yang sedang mencari uang yang jatuh. Pagi itu sebenarnya sudah sedikit putus asa karena si mata lentik itu tak kunjung ketemu. Tapi dengan niat yang begitu kuat akhirnya ketemu juga. Dua pohon Habenaria yang bunganya sudah mekrok nampak subur tumbuh ditebing jalan raya.

Setelah penemuan pagi itu beberapa hari kemudian habenaria itu kembali dikeroyok oleh Zul, Kholil, Raden, Samsul, Heru dan saya juga tak mau ketinggalan meskipun sudah banyak file di SD Card yang isinya ratusan habenaria. Rasanya tak bosan untuk ikut memotret rumput liar yang ternyata memiliki nilai keindahan bentuk dari maha karya Allah.

Berada di ketinggian 1850mdpl Paltuding, Ijen, selain terkenal karena belerang ternyata memiliki mutiara alam yang tersimpan rapi sesuai kehendakNya. Beliau itu memang Maha Kaya dan Maha Memiliki. Siapa sangka kawah ijen yang memilki tingkat kepekatan belerang cukup tinggi itu menyimpan berbagai species yang begitu menarik dan saya rasa masih tinggi dan banyak misteri biodiversitas yang belum terungkap dari kawasan yang masuk dalam pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BBKSDA) Jawa Timur Seksi Banyuwangi.

Pengalaman baru

Dunia anggrek adalah dunia baru bagi saya. Pengalaman baru yang cukup menguras waktu untuk bisa tahu dan mengenal siapa dan apa mereka itu. Meskipun ini hal baru akan tetapi cukup mengasikan dan cukup membuat saya ketagihan berburu foto anggrek.  Pengalaman baru, pelajaran baru dan tentunya ilmu baru buat saya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s