Ada Capung di Rumahku

Sebenarnya seberapa besar kah kita peka terhadap hal- hal kecil yang ada di sekitar kita? Apakah kita benar – benar peduli dengan yang ada di lingkungan kita? Mungkin kita selalu memandang hal – hal besar diluaran sana yang jauh dari pandang. Kadang kita lupa bahwa banyak hal kecil yang sepele dan kita sering menyepelekan hal itu.

Selama satu bulan lebih selama bulan Ramadhan saya tinggal dirumah dan benar – benar menghabiskan waktu puasa saya di rumah. Satu hari sampai satu minggu mungkin akan biasa saja tapi hal yang biasa saja itu tak akan bertahan lama. Rasa bosan mulai datang, mati ide dan gaya. Kenapa gak keluar bawa kamera dan cari object yang bisa di foto? Saya lupa bahwa rasa penasaran saya pada sesosok misterius yang selalu berterbangan dekat kandang sapi Bapak saya pas waktu Maghrib. Ya, saya sangat penasaran dengan capung misterius yang saya yakini dari keluarga capung besar. Rasa penasaran itu yang mengajak saya membawa kamera andalan saya Canon SX40HS menuju kebun belakang rumah dengan beberapa pohon bambu yang mulai rindang. Tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan sosok misterius yang bikin penasaran. Satu ekor Capung dengan abdomen panjang dan mata majemuk yang lumayan besar. Alhasil si Gynacantha subinerupta sedang tidur siang di batang pohon Angsana (mbuh bener mbuh ora),. Si gyna kadang terbang dan pindah ketika merasa terganggu.

Gynacantha subinterrupta, capung misterius yang aktif diwaktu petang.

Gynacantha subinterrupta, capung misterius yang aktif diwaktu petang.

Kinjeng, sebutan untuk capung – capung di sekitar rumahku untuk jenis – jenis capung ukuran sedang seperti Capungsambar Biru, Neurothemis sp, Itik untuk jenis – jenis dari keluarga Zygoptera dan Kemalau untuk jenis capung besar seperti Paragmphus, Ictinogomphus, dll,.

Capungjarum centil (Agriocnemis femina) menjadi catatan pertamaku terhitung bulan Ramadhan yang lalu. Mungkin lebih tepatnya catatan yang terlewat, karena dulunya gak pernah peduli dan mencoba mencarinya. Lumayan banyak individunya dari yang remaja sampai yang dewasa.

Jenis lain yang juga tak kalah menarik dari ragam capung yang ada di sekitar rumahku adalah jenis Neurothemis terminata.

Untuk temuan Neurothemis terminata – 1, dirumah itu buanyak, akeh.

Kemudian Capungsambar garishitam (Crocothemis servilia) saya temukan di aliran sungai serayu. Bulan Ramadhan kemarin hanya beberapa individu saja baik jantan maupun betina. Ini menarik karena saya selalu menjumpai jenis sambar garis hitam ini diwaktu kemarau saja. 

Kemudian yang paling umum baget, nget, nget, mainan saya dulu waktu kecil adalah Capungsambar Hijau (Ortrethum sabina). Jenis ini sakbajek akehe dan sangat mudah, termasuk Capungsambar perutpipih (Pontamarcha congener) yang banyak bertengger di kabel – kabel maupun tali jemuran. 

Capungsambar Hijau

Capungsambar Hijau

Yang belum sempat dapet fotonya adalah Capungpancing Jawa (Paragomphus reinwardtii) dan jenis capung yang punya nama Kinjeng Kebo dikampungku itu hanya ketemu sekali. Itu pun pas lihat si kebo langsung terbang nyari posisi yang lebih tinggi.

Capungsambar perutpipih, penunggu kabel-kabel listrik

Capungsambar perutpipih, penunggu kabel-kabel listrik

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s