‘Menengok’ Elang Jawa Berjumpa Si Imut

Suasana Tlogo Nirmolo masih tampak sepi. Lengang, nyaris tidak ada aktifitas yang berarti. Pintu gerbang masih tertutup. Hanya ada bapak – bapak yang hanya memutar sepeda motornya dan kembali turun.

Suara Takur Bultok (Megalaima lineata) yang khas terdengar sangat keras meski tidak terlihat posisi dia bertengger dan suara – suara burung yang lain yang riuh menambah suasana sabtu pagi itu (7/03) menjadi lebih ramai. Coba kalau sepi nyenyet tidak ada suara burung pasti tlogo nirmolo akan terasa seram.

Seperti biasa, Saya menggunakan jalur khusus pengamat burung di Jogja untuk masuk ke tlogo nirmolo kalau gerbang tiket belum di buka. Dengan catatan tidak ada orang lain (pengunjung) disekitar situ. Mengapa demikian? Ya iya laaahh,. kalau banyak orang sudah pasti orang – orang disitu juga akan ikut – ikutan masuk. Hehehe,. peace pak penjaga,.😀

Sambil menunggu kawan yang lain, Wahab dan Zul, saya pengamatan di taman tlogo nirmolo. Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) tampak beriringan pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Sesekali menyingkap daun – daun tempat ulat dan serangga kecil bersembuyi. Di Pohon Damar Cica-daun Sayap-biru (Chloropsis cochinchinensis) begitu asik bernyanyi menyambut pagi sambil mencari makan. Suaranya begitu nyaring, pantas kalau dia digandrungi banyak kicau mania.

Sikatan Ninon (Eumyias indigo) bercuit dari balik dedaunan. Sesekali menyambar serangga yang ada di pohon. Cuma dia yang berhasil terfoto. Yang lain tinggi – tinggi, lensa tidak mendukung.

Indigo Flycatcher/ Tlogo Nirmolo. 7.03.14

Indigo Flycatcher/ Tlogo Nirmolo. 7.03.14

Si biru yang imut – imut itu sedikit menggoda. Menyambar serangga, bertengger agak lama, didekati terbang, begitu seterusnya.

Kondisi mulai ramai, pintu gerbang sudah terlihat dibuka dan beberapa pengunjung mulai masuk, begitu juga dengan dua orang yang saya tunggu. Yang memang janjian mau nengokin Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) penghuni Merapi.

Tiba – tiba saja bayangan hitam meluncur dari pohon turun ke tanah. Ah, itu si Ciung Batu Kecil-sunda(Myophonus glaucinus) si burung penyambut. Saya senang menyebut burung ini sebagai si penyambut tamu karena setiap kali saya ke lokasi itu pasti selalu jumpa dengan burung ini.

Sunda Whistling Thrush/ Tlogo Nirmolo. 7.03.14

Sunda Whistling Thrush/ Tlogo Nirmolo. 7.03.14

Burung dengan nama inggris Sunda Whistling Thrush ini memang umum di Merapi. Bahkan saking umumnya, burung ini di daulat sebagai Cover Buku Burung – Burung di Taman Nasional Gunung Merapi karya Mas Irwan Yuniatmoko yang terbit tahun 2014 dan launching sewaktu event Lomba Pengamatan Burung.

Wahab, Zul, Panji dan Nina datang ketika saya sedang motret ciung batu itu. Saya harus sedikit menahan mereka supaya si ciung itu tidak terbang.

Bersalam – salaman ketika berjumpa adalah hal biasa. Kemudian, seperti biasa, ngobrol, basa – basi sebelum nanik menuju titik pengamatan elang jawa.

Setelah sedikit basa – basi kami pun naik menuju titik pengamatan yang sudah disepakati. Ada satu mbak dari Taman Nasional yang saya lupa siapa namanya bersama putranya juga ikut naik, meskipun pada akhirnya gak sampai ke spot pengamatan elang.

Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis) atau Black-banded Barbet adalah burung berikutnya yang kami jumpai di jalur Goa Jepang sekaligus menjadi catatan baru ke 69 untuk list burung tahun 2015 bulan ketiga ini. Ah, ini rejeki anak sholeh. haha,..

#69. Black-banded Barbet. Merapi.

#69. Black-banded Barbet. Merapi.7/03/15

Burung muda itu tampak tenang sehingga kami bisa mengamatinya lumayan lama sampai akhirnya dia terbang kebawah.

Berikutnya adalah Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) dengan santapan paginya. Seekor caterpilar besar jadi menu sarapan si ciu besar jantan pagi itu.

Ciu Besar/Pied Shrike

Ciu Besar/Pied Shrike

Seperti biasa, ciu besar memiliki kecenderungan bergabung dengan jenis – jenis burung pemakan serangga yang lain. Bersama si doi pun ada jenis – jenis lain seperti Wegan Jawa, Opior Jawa dan masih ada beberapa jenis yang lain. Pun demikian dengan Sikatan Belang (Ficedula westermanni) jantan yang mondar – mandir di depan kami ketika kami sudah berada di posisi penak untuk ngamatin elang jawa.

Little Pied Flycatcher_male_merapi_aap-4

Elang jawa yang ada di Merapi sudah kami pantau dari tahun 2013 bersama kawan – kawan PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja). Kegiatan itu rutin dilakukan setiap tahun secara sukarela bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Tahun ini kami pun terus melakukan pemantauan untuk memastikan keberhasilan berbiak satwa karismatik pulau jawa itu.

Mengamati sarang

Mengamati sarang

Kemudian, Burungmadu Gunung (Aethopyga eximia) atau White-flanked Sunbird betina pun tak mau kalah ikut tampil meskipun hanya sebentar untuk menyambar belalang kecil dan mengambil sedikit nektar pada bunga sepatu.

White-flanked Sunbird_Merapi_aap-1

Burung – burung imut ini adalah bumbu – bumbu dikala kami mengamati elang jawa yang selalu memberi kami PHP dengan perilakunya itu. Tapi, meskipun seperti itu tak lantas membuat semangat kami menurun. Kami akan terus memantau sang garuda itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s