Tanam Pohon Untuk Burung

Paguyuban Pengamat Burung Jogja PPBJ melakukan penanaman pohon pada saat pelaksanaan Jogja Bird Walk (JBW)  edisi Maret di hari sabtu, 26 Maret 2016 di kawasan terdampak letusan Gunung Merapi yakni di Umbul Wadon, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan ini di koordinir oleh KP# Forestation Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.  Continue reading

Bali, Dari Gunung Hingga Pantai Semua Tentang Burung

Minggu lalu dari hari Rabu hingga hari Jum’at tiba – tiba saya berada Bali. Padahal tidak ada perencanaan saya berangkat ke sana. Bahkan rencana saya ke Bukit Sega lokasi pengamatan raptor migran paling ciamik untuk migrasi jalur barat Indonesia harus gagal. Lha kok yo ndilalah ada pekerjaan harus nemenin Kameramen + Reporter dari SCTV liputan ke bali. Idenya datang ketika kami bertemu hari Senin (3/11/14), diskusi ide liputan Burung Migran, di sepakati selasa (4/11/14) berangkat ke Bali.

Berangkatlah kami dari Yogyakarta menggunakan mobil yang sudah pasti si kameramenlah yang bakal nyetir PP Yogyakarta – Bali dan Bali – Yogyakarta dikarenakan saya cuma bisa setir kiri. Setelah melewati beberapa kota dari Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur kami masuk ke Pulau Bali pukul 04.00 WITA dan langsung menuju ke Karangasem. Lokasi yang kami tuju adalah bukit sega. Di sana kami akan melakukan liputan migrasi burung pemangsa (raptor) dan mewawancarai salah satu pengamat raptor migran di bukit sega sembari bekerja di Stasiun Riley TVRI. Kalau di pikir – pikir ini seperti jalan Alloh untuk saya bisa kembali menyambangi bukit sega sama seperti tahun lalu.

Sekitar jam duaan kami sampai di Sega. Pak Dono Waluyo, narasumber yang akan kami wawancarai sudah menunggu sembari mengamati raptor migran yang melintas. Menurut beliau sedari jam duabelas siang sudah sekitar 300an individu Accipiter yang di dominasi Accipiter soloensis atau dalam nama indonesia Elangalap Cina. Lumayan lah masih ada harapan bisa dapat gambar yang flocking.

Burung – burung itu kembali muncul sekitar jam tiga. Masih lumayan panas dan butuh kacamata hitam untuk menangkal sinar matahari dari barat. Sembari pengamatan dan liputan, wawancara dibuat seperti sedang mengobrol dan diskusi sehingga tidak kaku. Sore itu lumayan banyak dan catatan yang menarik adalah Elang Kelabu (Butastur indicus) tiga individu yang berbaur dengan Elangalap Cina. Sikepmadu Asia (Pernis ptilorhyncus orientalis) dan Elangalap Jepang (Accipiter gularis) juga ikut menyemarakan langit Sega sore itu.

Bukit sega kalau menurut saya memang secara topography landsecap cukup mendukung untuk jalur migrasi. Sisi timur langsung laut lepas sehingga hembusan angin lebih tinggi dan sebelah barat adalah Gunung Agung dimana semua individu dan jenis raptor, kemungkinan, menggunakan kawasan itu sebagai persinggahannya sebelum melanjutkan perjalanan migrasinya melintas sega dan langsung menuju selat Lombok.

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

Pulau Serangan, Terminal burung pantai dan air

Setelah sega, lokasi selanjutnya adalah Pulau Serangan. Sebuah kawasan pulau yang kemudian di reklamasi justru sekarang ini menjadi tempat singgah burung pantai migran. Bahkan untuk 2013 banyak individu yang dijumpai dengan bulu berbiak ada di sana. Serangan pun menjadi salah satu lokasi yang menjadi target lokasi pengamatan burung dalam list saya. Alhamdulillah kesampaian juga saya menyambangi lokasi itu. Kali ini saya tidak tiarap seperti di Trisik,..

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Ditemani Udhyn, kawan lama saya yang sudah lama juga tidak bertemu. Kalau tidak salah ya sekitar 2005an kami terakhir bertemu yakni di PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Tegal Alur, Jakarta Barat. Setelah itu baru kemarin (6/11/14) kami bertemu kembali. Dipertemukan oleh burung di Pulau Dewata. Pulau serangan menjadi roosting dan wintering site beberapa jenis burung pantai migran dan beberapa jenis burung air. Tidak dapat saya sebutkan jenisnya satu per satu di sini, yang jelas banyak. ( foto lihat di galeri bawah ). 

Gajahan Pengala sore itu kembali dibagi menjadi beberapa kelompok kedatangan. Ratusan hingga ribuan pada masing – masing rombongan membawa suasana sore menjadi semakin mengasikan. Ya, meskipun saya tidak dapat foto bagus tak mengapa. Keinginan menyambangi Serangan dan mendapat jenis baru yakni Kedidi Ekor Tajam atau dalam nama inggris disebut Sharp-tailed Stint , Pelikan Australia, Pecuk padi Belang, Gajahan Timur dan beberapa jenis yang lain itu sudah lebih dari cukup.

Oia,. hari itu kami ke Serangan tujuannya sama seperti kami ke Sega. Untuk liputan burung migran. Kali ini narasumbernya adalah Udhyn. Dia bererita mengenai jenis – jenis burung pantai migran yang ada di serangan. Ups,.. ada satu yang menarik adalah di Serangan juga menjadi lokasi singgah Pelikan Australia yang mana sebelumnya tidak ada catatan jenis ini di bali. Jenis burung Pecuk padi pun sangat melimpah di Serangan. Dan, kalau mendengar cerita udhyn, terlalu banyak jenis burung di serangan dan pasti akan susah mengingatnya.

Pulau serangan yang berada di dekat Pelabuhan Tanjung Benoa dan dekat dengan jalan By pass Ngurah Rain sangatlah mudah untuk diakses. Jadi bagi anda kawan semua yang punya hobi fotografi burung dan pengamatan burung bisa menuju ke serangan. Lokasi yang sangat bagus untuk belajar identifikasi jenis burung pantai.

Sunset di Pulau Serangan

Sunset di Pulau Serangan

Selain burung pantai, lokasi tersebut kerap dikunjungi wisatawan hanya untuk melihat matahari terbenam (sunset) pun cukup bagus. Foto diatas sayang pake kamera prosumer sehingga hasilnya kurang bagus. Kalau yang di pakai kamera Pro hasilnya pasti cetar membahana,.

Delta Progo 10 Nov : Semua Gara-gara Trinil Nordmann

Yogyakarta 10.11.2014: Tanpa pikir panjang kemarin ( 9 Nov 2014 ) saya langsung bilang ” sesuk budhal trisik “ ketika Wahab bilang ada Trinil Nordman (Tringa guttifer) di Delta Progo. Jumlahnya pun bertambah dari tahun kemarin yang hanya tercatat 3 ekor menjadi 4 ekor. Saat membaca pesan singkat itu kebetulan saya masih di Surabaya perjalanan menuju Yogyakarta. Pokoknya saya harus bisa mengabadikan si Nordmann itu. Pahitnya, kalaupun saya ndak bisa memotret si nordmann minimal saya bisa lihat langsung burung pengembara yang populasinya diperkirakan antara 330 – 670 individu di seluruh dunia (Birdlife International 2014).

Maka, hari ini saya bersama bung AZA (bukan nama sebenarnya) bersama – sama berangkat menuju Delta Progo atau muara Sungai Progo di Kabupaten Kulon Progo. Kami mempunyai tujuan yang sama yakni menemui si nordmann. Telah menunggu kami saudara Adin sambil bersembunyi dibalik rerumputan yang tingginya mampu membungkusnya dalam posisi duduk.

Begitu sampai di lokasi saya tak mau berlama – lama, langsung saja keluarkan senjata andalan. Nikon Monarch 8 x 36 ijo yang sudah mulai kewalahan. Pembalutnya (baca: karetnya) mulai cuwil – cuwil tak tahan menahan terpaan panas matahari takala berada di pantai dan dinginnya udara takala di pegunungan.

Tampak di kejauhan 4 bocah nakal mirip nordmann. Senjata saya tak mampu mendeteksi siapa mereka. Cuma sedikit berangan – angan kalau yang terlihat si nordmaan. Dan benar saja ketika si nikon hitam besar itu diarahkan ke target langsung terdekteksi bahwa 4 bocah itulah target yang sedang kami kejar.

Empat Trinil Nordman dan satu Cerek Kernyut (Pluvialis fulva). Delta Progo 10.11.2014

Empat Trinil Nordman dan satu Cerek Kernyut (Pluvialis fulva). Delta Progo 10.11.2014

Yes!! akhirnya saya bisa mendapatkannya setelah berpuasa menahan rasa ingin menjumpainya langsung selama setahun. Ya, tahun lalu saya melewatkannya karena sesuatu. Jurus selanjutnya adalah jurus komodo mengejar mangsa. Merayap, mengendap mendekati target.

Cuma tiga, yang satu menyingkir takut terkenal. Delta Progo 10.11.2014

Cuma tiga, yang satu menyingkir takut terkenal. Delta Progo 10.11.2014

Setelah mendapatkan beberapa jepretan foto si doi kabur lantaran ada dua orang sedang menjaring ikan mendekat ke lokasi si nordmann dan si kernyut. Saya sudah memperkirakan kejadian itu bakal terjadi ketika cerek kernyut ikut bergabung dengan si nordmann. Kalau si kernyut terbang si nordmann pasti akan kebawa pergi juga. Dan ternyata benar,. aahhhh!!!,..

Eits!! Harus tetao bersyukur. Alhamdulillah sudah diberi kesempatan bertemu langsung dengan nordmann dan bikin panas kawan di Jakarta yang belum bisa ke Jogja dan ikut motret si nordmann.

Cerek Kernyut (Pluvialis fulva). Delta Progo 10.11.2014

Cerek Kernyut (Pluvialis fulva). Delta Progo 10.11.2014

Cerek kernyut ini sebenarnya ada lima individu di sekitaran trinil nordman dan terpencar. Salah satunya ada di dua foto di atas.

Lifer kedua

Ada istilah di kalangan pengamat burung untuk jenis – jenis baru yakni Lifer. Keberuntungan sedang berpihak pada saya. Ketika saya, aza dan adin melintas di timur Laguna Pantai Trisik si adin teriak ” Phalarope!!”. Sontak kami langsung berhenti dan benar saja si doi sedang bersolek di pinggir laguna. Sebenarnya kami sedang dalam perjalanan menuju rumah seorang kawan sekalian istirahat siang di Trisik dan sengaja lewat jalur sisi timur laguna supaya ndak kena retribusi. hehe,.. modus yang dapet bonus.

Laguna Trisik 10.11.2014

Laguna Trisik 10.11.2014

Kalau dari pengalaman teman – teman yang pernah memotret jenis ini katanya tidak terlalu sensitif. Bahkan ada yang bisa dari jarak 30 centimeter. Hmmm,.. manuk apa pitik kate!!. Foto diatas merupakan foto pertama saya untuk jenis ini. Lagi – lagi sama kasusnya seperti trinil nordmann di atas. Tahun lalu saya juga tidak kebagian mengabadikan burung dengan nama Kaki Rumbai Kecil (Phalaropus lobatus) atau Red-necked Phalarope dalam bahasa inggris.

Laguna Trisik 10.11.2014

Laguna Trisik 10.11.2014

Foto kedua bisa lebih close-up setelah si doi sempat terbang. Untungnya tidak menjauh tapi kembali lagi.

Dara Laut Jambul (Sterna bergii). Delta Progo 10.11.2014

Dara Laut Jambul (Sterna bergii). Delta Progo 10.11.2014

Kami kembali lagi ke delta progo sekitar jam empat sore. Harapannya bisa menjumpai si nordmann lagi dan bisa bikin foto lebih detil lagi. Setelah teropong – teropong dan keker – keker tenyata yang di cari tidak muncul. Pelariannya adalah foto di atas ini. Dara Laut Jambul (Sterna bergii) atau Greater-crested Tern yang memang cukup banyak di trisik.

Selain Dara-laut Jambul diatas ini juga ada Gajahan Pengala (Numenius phaeopus) yang sedang di berontok shuter kamera saa Mr. Ijo. Saya pun ikutan tiarap dan merayap mencoba mendekat sedekat mungkin dengan burung dengan nama inggris Whimbrel itu.

Gajahan Pengala (Numenius phaeopus). Delta Progo 10.11.2014

Gajahan Pengala (Numenius phaeopus). Delta Progo 10.11.2014

Sampai dengan sore hari ketika matahari sudah beranjak turun pun si nordmann tak kembali menampakan diri. Untungnya ada tambahan hiburan sore hari. Dua individu Trinil Pembalik Batu (Arenaria interpres) atau yang biasa di sebut si Ruddy karena nama inggrisnya adalah Ruddy Turnstone.

Sendirian aje, lagi ditinggal pergi sama abangnya. Delta Progo 10.2014

Sendirian aje, lagi ditinggal pergi sama abangnya. Delta Progo 10.2014

Saya mencoba untuk mendokumentasikan si doi yang menurut saya aneh. Burung ini merupakan burung yang membuat saya kepincut dan ikut mengamati burung pantai. Pertama kali saya lihat burung ini di Pulau panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 2010. Saat itu saya lansung menamainya di list burung di buku catatan saya dengan nama Trinil Pembalik Batu. Setelah di cek di puku panduan ternyata namanya benar. wow,..

Selain dokumentasi foto, saya juga mencoba mendokumentasikannya dalam bentuk video. Video juga penting karena suatu saat nanti pasti akan kepakai juga.

Yang satunya sepertinya memang lapar. Cari makan terus. Delta Progo 10.11.2014

Yang satunya sepertinya memang lapar. Cari makan terus. Delta Progo 10.11.2014

Oke,. saya rasa cukup yah. Ini sudah pukul 00:48 waktu indonesia wilayah Ring Road utara Yogyakarta. Bagi yang ingin mendokumentasikan dan ikut narsis bareng trinil nordman dan kaki rumbai kecil silahkan langsung ke delta progo dan sekitar laguna trisik.

Kalipagu, 30 Ramadhan 1435 H

Prepegan, sebuah istilah di kalangan masyarakat Jawa menamai hari terakhir puasa ramadhan. Ada apa pada hari prepegan? Pada hari itu hampir semua pasar dan pusat perbelanjaan bisa di pastikan penuh orang berbelanja. Dari yang berbelanja kulit ketupat, sampai keperluan untuk berlebaran. Dari yang kecil sampai yang besar. Dan biasanya harga-harga dipastikan naik.

Kita tinggalkan mereka yang di Pasar. Hari terakhir puasa ramadhan 1435 Hijriah kemarin saya dan dua teman orang teman memutuskan untuk pergi ke Kalipagu. Sebuah tempat yang sangat pas bagi yang hendak menyepi dari ramainya kota, juga bagi yang ingin menghirup segarnya udara lereng selatan Gunung Slamet. Bagi sebagian orang Purwokerto kalipagu mungkin sudah tak asing lagi. Apa lagi bagi kalangan fotografer alam liar dan pengamat burung. Lokasinya berada di sebelah barat Pancuran Tujuh, Baturaden. Ya, selain pancuran tujuh, kawasan Kalipagu juga terkenal sebagai lokasi Camping dan wisata alamnya.

Oke, sepertinya cukup sedikit prolog dari postingan ini. Intinya adalah hari itu Saya, Apris dan Asyief pergi ke Kalipagu untuk hunting foto. Ya, hunting foto. Target? Apa aja yang penting bisa melepas rasa suntuk karena terlalu lama berdiam diri di rumah dan mulai tidak produktif. Kami berangkat dari markas Biodiversity Society pukul 09:00 waktu Pabuaran, Purwokerto. Padahal janjiannya jam 07:30 kumpul. Manusia memang boleh punya rencana, tapi tetap Gusti Alloh ingkang Moho Agung ingkang ngijabah. Ndilalah Apris kebablas tidur sampe jam sembilan.

Kalipagu hari itu sepi. Jalur ke pancuran tujuh pun sepi. Tidak nampak ada aktifitas kegiatan wisatawan yang berkunjung. Mungkin sedang ikut prepegan ke pasar beli daging dan cangkang kupat. Sudah jadi hukumnya kalau ada jalan menanjak pasti ada jalanan menurun. Itu pun ada di Kalipagu. Anak tangga itu tampak panjang. Ah, bisa dipastikan pulang nanti akan tarik napas lebih panjang dari tadi berangkat. Saya coba dokumenasikan gambaran panjang tangganya karena saya juga ndak menghitung ada berapa banyak anak tangga itu.

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tampak tiga individu Elangular Bido Spilornis cheela terbang berputar tapi enggan mendekat. Hanya Kadal (Mabuya sp) sedang berjemur, kupu – kupu jenis Melanitis leda, Junonia almana dan Eurema sp yang jadi model pertama kami. Sebelumnya, saya sudah pernah mengunjungi tempat ini yakni dua tahun lalu. Waktu itu kami melakukan pengamatan Owa Jawa Hylobates moloch. Nah, pada kunjungan di akhir ramadhan kami tidak lagi mengunjungi lokasi bermain Owa Jawa, tapi kami langsung menuju sumber air dengan target (akhirnya punya target) jenis capung. Syukur – syukur bisa nemu anggrek liar yang sedang berbunga.

Oia,. Bagi yang suka berburu bangunan lama peninggalan zaman penjajahan dulu, Kalipagu pun menarik untuk dijadikan lokasi hunting. Saluran air disana dibangun pada zaman penjajahan belanda. Pondasi – pondasi saluran air itu masih terlihat kuat. Begitu juga dengan Dam penampung air yang saat ini dijadikan penampungan air Indonesia Power PLTA Ketenger, Banyumas. Kolam penampungan itu di bangun pada tahun 1938.

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Elang Jawa dan Drepanosticta

Dalam perjalanan kami menuju pancuran tujuh tiba – tiba terdengar suara yang  sudah tak asing di telinga saya. Meski suara itu terdengar samar tapi jelas itu suara siapa.

“ Suara elang jawa bro!”. Kata saya.

“ Endi? Udu lah “. Jawab apris yang artinya “Mana? Bukan lah”.

Tapi suara itu terus terdengar dan makin jelas ketika kami sedikit demi sedikit kami berjalan menuju pancuran tujuh. Saya coba cari lokasi si pemilik suara itu menggunakan Binocullar yang saya bawa. Dan benar dugaan saya. Individu dewasa Elang Jawa Nisaetus bartelsi bertengger di dahan kering pada pohon tinggi tapi jauuuhhhhhhh,…

“Oke, kita dekati si doi!”. Dan kami pun mencoba mencari jalur untuk mendekati pohon tempat si Jambul itu bertengger.

Demi si jambul, blusukan pun kami lakonni yang penting foto bisa diperoleh. Menerka – nerka jalur dan posisi pohon tempat bertengger pun kami lakukan. Rasa percaya diri yang tinggi dan tentunya penuh perhitungan adalah modal utama hunting foto di alam. Tapi untungnya Apris menguasai medan di Kalipagu, jadi saya tambah PeDe. Sambil mengawasi dan mengamati pohon tinggi kami juga mengamati tebing sisi jalan yang kami lewati. Apa lagi tebing itu lembab dan di beberapa bagian mengalir air. Tempat kesukaan Capung Jarum dari jenis Drepanosticta, Capung langka dari Jawa.

Memang, yang namanya hoki itu tidak pilih – pilih siapa yang bakal memperolehnya. Individu jantan Drepanosticta spatulifera bertengger pada rumput yang tumbuh di tebing sisi jalan. Seketika usaha mengejar elang jawa berhenti karena si Drepa. Seolah kami sudah merelakan elang jawa itu terbang pindah pohon tengger. Si kecil hitam dengan ujung abdomen biru itu seperti menyihir kami untuk berhenti dan memotretnya. Elang jawa membawa kami pada si drepa.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Sesi pemotretan selesai dan kami kembali melanjutkan mendekati lokasi pohon dimana elja itu bertengger. Tidak ada petunjuk yang meyakinkan posisi pohon itu. Kami hanya menerka dan memutuskan untuk sedikit masuk ke dalam. Meskipun pada akhirnya kami menemukan jalan buntu dan pohon itu tidak kami temukan. Sedikit ngos – ngosan dan ngap – ngapan kami mengawasi setiap pohon tnggi dan hasilnya nihil dan Kami pun memutuskan untuk kembali turun. Lupakan elja itu, kita cari lagi lain waktu dilokasi yang sama.

Hari itu memang tidak maksimal. Waktu hunting hanya tiga jam karena kesiangan. Mungkin kalau kami berangkat lebih awal bisa dapat object lebih banyak dari yang kami dapatkan hari itu. Tapi itu pun tidak jadi masalah bagi kami. Yang penting sudah berusaha.

Berikut adalah foto Satwaliar yang berhasil terdokumentasikan. Klik Foto untuk memperbesar masing-masing foto: