Australian Pelican

Enaknya nyebut ini New Sighting apa New Record apa New List ? haha,. yang jelas ini bulan dimana saya ketemu beberapa jenis baru untuk catatan pribadi saya. Dalam tata nama Indonesia burung ini bernama Undan Kacamata (Pelecanus conspicillatus) atau Australian Pelican.

Berbiak di Australia dan Tasmania. Meluas ke utara, dan P.Irian, dan kadang-kadang ke Indonesia bagian barat dan Pasifik bagian barat daya. Musim dingin berkunjung sampai Jawa dan Sumatera (MacKinnon et.al. 2010). Berarti ini catatan baru dong untuk Bali? Kalau kata teman – teman di Bali ” Iya “.

Australian Pelican ¦ Pulau Serangan 06.11.2014

satu dari dua yang ada di Serangan, Bali.

satu diantara dua yang ada di Serangan, Bali.

Dua individu yang sudah beberapa bulan di Serangan, Bali.

Dua individu yang sudah beberapa bulan di Serangan, Bali.

Bali, Dari Gunung Hingga Pantai Semua Tentang Burung

Minggu lalu dari hari Rabu hingga hari Jum’at tiba – tiba saya berada Bali. Padahal tidak ada perencanaan saya berangkat ke sana. Bahkan rencana saya ke Bukit Sega lokasi pengamatan raptor migran paling ciamik untuk migrasi jalur barat Indonesia harus gagal. Lha kok yo ndilalah ada pekerjaan harus nemenin Kameramen + Reporter dari SCTV liputan ke bali. Idenya datang ketika kami bertemu hari Senin (3/11/14), diskusi ide liputan Burung Migran, di sepakati selasa (4/11/14) berangkat ke Bali.

Berangkatlah kami dari Yogyakarta menggunakan mobil yang sudah pasti si kameramenlah yang bakal nyetir PP Yogyakarta – Bali dan Bali – Yogyakarta dikarenakan saya cuma bisa setir kiri. Setelah melewati beberapa kota dari Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur kami masuk ke Pulau Bali pukul 04.00 WITA dan langsung menuju ke Karangasem. Lokasi yang kami tuju adalah bukit sega. Di sana kami akan melakukan liputan migrasi burung pemangsa (raptor) dan mewawancarai salah satu pengamat raptor migran di bukit sega sembari bekerja di Stasiun Riley TVRI. Kalau di pikir – pikir ini seperti jalan Alloh untuk saya bisa kembali menyambangi bukit sega sama seperti tahun lalu.

Sekitar jam duaan kami sampai di Sega. Pak Dono Waluyo, narasumber yang akan kami wawancarai sudah menunggu sembari mengamati raptor migran yang melintas. Menurut beliau sedari jam duabelas siang sudah sekitar 300an individu Accipiter yang di dominasi Accipiter soloensis atau dalam nama indonesia Elangalap Cina. Lumayan lah masih ada harapan bisa dapat gambar yang flocking.

Burung – burung itu kembali muncul sekitar jam tiga. Masih lumayan panas dan butuh kacamata hitam untuk menangkal sinar matahari dari barat. Sembari pengamatan dan liputan, wawancara dibuat seperti sedang mengobrol dan diskusi sehingga tidak kaku. Sore itu lumayan banyak dan catatan yang menarik adalah Elang Kelabu (Butastur indicus) tiga individu yang berbaur dengan Elangalap Cina. Sikepmadu Asia (Pernis ptilorhyncus orientalis) dan Elangalap Jepang (Accipiter gularis) juga ikut menyemarakan langit Sega sore itu.

Bukit sega kalau menurut saya memang secara topography landsecap cukup mendukung untuk jalur migrasi. Sisi timur langsung laut lepas sehingga hembusan angin lebih tinggi dan sebelah barat adalah Gunung Agung dimana semua individu dan jenis raptor, kemungkinan, menggunakan kawasan itu sebagai persinggahannya sebelum melanjutkan perjalanan migrasinya melintas sega dan langsung menuju selat Lombok.

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

Pulau Serangan, Terminal burung pantai dan air

Setelah sega, lokasi selanjutnya adalah Pulau Serangan. Sebuah kawasan pulau yang kemudian di reklamasi justru sekarang ini menjadi tempat singgah burung pantai migran. Bahkan untuk 2013 banyak individu yang dijumpai dengan bulu berbiak ada di sana. Serangan pun menjadi salah satu lokasi yang menjadi target lokasi pengamatan burung dalam list saya. Alhamdulillah kesampaian juga saya menyambangi lokasi itu. Kali ini saya tidak tiarap seperti di Trisik,..

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Ditemani Udhyn, kawan lama saya yang sudah lama juga tidak bertemu. Kalau tidak salah ya sekitar 2005an kami terakhir bertemu yakni di PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Tegal Alur, Jakarta Barat. Setelah itu baru kemarin (6/11/14) kami bertemu kembali. Dipertemukan oleh burung di Pulau Dewata. Pulau serangan menjadi roosting dan wintering site beberapa jenis burung pantai migran dan beberapa jenis burung air. Tidak dapat saya sebutkan jenisnya satu per satu di sini, yang jelas banyak. ( foto lihat di galeri bawah ). 

Gajahan Pengala sore itu kembali dibagi menjadi beberapa kelompok kedatangan. Ratusan hingga ribuan pada masing – masing rombongan membawa suasana sore menjadi semakin mengasikan. Ya, meskipun saya tidak dapat foto bagus tak mengapa. Keinginan menyambangi Serangan dan mendapat jenis baru yakni Kedidi Ekor Tajam atau dalam nama inggris disebut Sharp-tailed Stint , Pelikan Australia, Pecuk padi Belang, Gajahan Timur dan beberapa jenis yang lain itu sudah lebih dari cukup.

Oia,. hari itu kami ke Serangan tujuannya sama seperti kami ke Sega. Untuk liputan burung migran. Kali ini narasumbernya adalah Udhyn. Dia bererita mengenai jenis – jenis burung pantai migran yang ada di serangan. Ups,.. ada satu yang menarik adalah di Serangan juga menjadi lokasi singgah Pelikan Australia yang mana sebelumnya tidak ada catatan jenis ini di bali. Jenis burung Pecuk padi pun sangat melimpah di Serangan. Dan, kalau mendengar cerita udhyn, terlalu banyak jenis burung di serangan dan pasti akan susah mengingatnya.

Pulau serangan yang berada di dekat Pelabuhan Tanjung Benoa dan dekat dengan jalan By pass Ngurah Rain sangatlah mudah untuk diakses. Jadi bagi anda kawan semua yang punya hobi fotografi burung dan pengamatan burung bisa menuju ke serangan. Lokasi yang sangat bagus untuk belajar identifikasi jenis burung pantai.

Sunset di Pulau Serangan

Sunset di Pulau Serangan

Selain burung pantai, lokasi tersebut kerap dikunjungi wisatawan hanya untuk melihat matahari terbenam (sunset) pun cukup bagus. Foto diatas sayang pake kamera prosumer sehingga hasilnya kurang bagus. Kalau yang di pakai kamera Pro hasilnya pasti cetar membahana,.

Bali – Blue-tailed Bee-eater

Taman Nasional Bali Barat, tak disangka – sangka dan ndak ada di rencana ketika saya berangkar dari jogja 19 Oktober lalu. Tujuan utama adalah Kawah Ijen. Gara – gara satu individu Elang Kelabu (Butastur indicus) yang secara spontan memunculkan ide untuk segera menyeberang ke Bali. Singat cerita, dan akhirnya, kami ketemu elang kelabu itu di Gn. Sega, Karangasem. Mungkinkah itu yang kami lihat di Kawah Ijen. Who knows??

Oke, dan inilah akhirnya saya bisa sampai ke Taman Nasional Bali Barat. Thanks to Bonenk (Dian Tri) yang sudah menjadi Guide sekaligus tuan rumah yang begitu ramah dan baik. Hari terakir di bali tripnya adalah ke ujung barat Pulau Bali. Pure Segara Rupek tujuan hari itu untuk menghadang raptor migran dan sambutan yang cukup riuh dari Kirik-kirik Laut atau Blue-tailed Bee-eater atau Merops philippinus.

Kirikkirik laut-tnbb-aap-1

Cahaya matahari yang belum terlalu terik dan kondisi langit yang biru cukup menyenangkan bagi pengguna Prosumer seperti saya ini. Jika itu dua hal itu terpenuhi bisa dijamin hasil foto mendekati sempurna layaknya kamera D-SLR.

Kirikkirik laut-tnbb-aap-2Dan, siapa sangka kalau kirik-kirik ini sedang mulai menunjukan perilaku berbiaknya. Gundukan tanah dengan lubang-lubang kecil itu ternyata adalah sarang burung yang sebagian dari mereka juga migran dari utara.

Kirikkirik laut-tnbb-aap-3Jelas sekali, bahkan burung apapun akan sibuk dan ribut ketika posisi sarangnya di dekati. Mereka tahu bahwa ancaman ada disekitar mereka. Dan seperti foto diatas ini, mereka saling berterbangan. Adapun mereka yang bertengger tak lebih dari satu menit langsung terbang lagi.

Kirikkirik laut-tnbb-aap-4Dan inilah yang saya maksud. Kotak merah pada pojok kanan foto ini adalah lubang yang mereka jadikan sarang. Saya baru tahu kalau mereka bersarang pada gundukan tanah. Sebelumnya, yang saya tahu jenis ini bersarang pada lubang tanah yang ada di tebing. Bukan di gundukan tanah layaknya burung dari keluarga Megapodidae.

 

Bali – Rufous-backed Kingfisher

Udang-punggung Api atau Rufous-backed Kingfisher salah satu burung yang pengen saya temukan dan akhirnya saya menemukannya di Taman Nasional Bali Barat. Sebelumnya di Taman Nasional Baluran sewaktu ada event Baluran Bird Competition saya terlewatkan lihat jenis ini. Padahal dulu sudah nungguin lama. Rela-relaan digigit nyamuk yang seabreg banyaknya. Atas jasa Masbro Bonenk akhirnya saya bisa melihat jenis burung yang masuk kedalam keluarga Raja Udang itu. Burungnya kecil, sukanya di dekat air dan tersamar dengan daun yang mengering. Kalau tidak ada yang menunjukan posisi si burung pasti akan terlewat juga. Untungnya ada pointer alat yang cukup membantu. Dan disitu pula saya baru tahu kalau senjata seorang Bird Tour Guide gak cuma Bino, Mono, Buku Panduan dan Kamera saja, tapi ada satu yang tak kalah penting. Pointer untuk menunjukan posisi si burung.

Common Name: Rufous-backed Kingfisher / Scientific name: Ceyx rufidorsa Strickland, 1847

Asman Adi Purwanto 2013

Asman Adi Purwanto 2013