#video Phonescoping; Black-tailed Godwit | Biru-laut ekor-hitam

Burung pantai pengembara dari belahan bumi bagian utara ini merupakan pengunjung rutin di muara sungai progo di Yogyakarta. Mereka menempuh ribuan kilometer untuk menghindari musim dingin di tempat asalnya agar terus bisa bertahan hidup.

Nah, muara progo hingga wilayah persawahan di Desa Banaran, Galur, Kulon Progo menjadi lokasi persinggahan sementara sebelum melanjutkan migrasinya hingga Australia.

Continue reading

Ngintip Burung Pantai, Membumi di Delta Progo

Delta Progo 18 Oktober 2014

Sesi foto bersama sebelum pulang

Sesi foto bersama sebelum pulang

Akhirnya bisa kembali menyambangi Delta Progo menyambangi para pengembara dari belahan bumi utara yang sedang singgah sementara sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya mencari penghidupan dalam pengembaraan panjangnya. Hari itu saya bersama kawan – kawan dari Bogor, Bandung, Sidoarjo dan Jogja tentunya, bersama – sama berangkat ke delta progo dengan satu tujuan dan niat yang sama yakni ngamati burung pantai. Selain ngamati tentunya juga motret yang bisa di potret. Dalam perjalanan menuju lokasi ternyata ada tambahan personil yang akan bergabung. Tamu dari Brisbane, Australia, yang sedang ada di Jogja ingin bergabung, bersama – sama ngintip tamu dari Utara. Siapakah yang dari Ausie itu? tak lain dan tak bukan beliau adalah Om Agustinus Yogiyono.

Membumi itu hal yang pasti

Ada satu hal yang terkadang membuat saya kangen hunting burung pantai di delta progo. Disitu sensasi yang bisa kita rasakan dan itu hanya berlaku bagi yang ingin mengabadikan burung pantai sebagai model. Untuk hasil yang bagus dan perfecto menurut kita, maka kita harus tiarap, membumi, ngglungsar, merayap secara perlahan supaya bisa sedekat mungkin dengan object yang akan kita foto.

IMG_5942

Nah seperti foto di atas ini. anda harus melakukan hal yang sama untuk mendapatkan foto dengan hasil yang bagus, dekat, eye level, maka hal yang harus anda contoh adalah seperti yang dilakukan oleh kedua sohib di atas ini.

Pelan tapi pasti dengan melakukan hal seperti dibawah ini di pastikan anda bisa lebih dekat dengan object yang akan anda foto. Jangan takut siku tangan dan tumit anda akan lecet. Dengan menggunakan celana panjang yang lumayan tebal dijamin bagian tumit anda akan aman. Sudah dibuktikan sama kawan dari Sidoarjo ini yang sebenarnya asli orang Salatiga.

IMG_5948

Bagi sebagian orang hal ini dianggap aneh karena kami sendiri terkadang juga merasa aneh dengan apa yang kami lakukan. Mungkin orang menganggap kami gila. Tapi kami tidak gila, kami hanya aneh. hohoho,.

Bagi Om Yogi ini pun sepertinya menjadi pengalaman yang tidak akan Beliau temukan ketika hunting burung pantai di Brisbane, Australia. Hanya di Indonesia dibutuhkan hal semacam itu.

IMG_5951

Berbeda dengan Komandan BWP ini. Hal semacam ini sudah biasa beliau lakukan. Bukan hanya di delta progo akan tetapi di Bali pun juga begitu. Hari itu sih pamitnya mau kondangan, ternyata oh ternyata.

IMG_5949

Jika sudah dalam posisi seperti itu burung pantai biasanya akan lebih nyaman, tinggal kita yang tangan pegal tahan kamera. hehe,.

Foto bagus adalah bonus

Sudah lazim dan selayaknya namanya berburu foto itu yang diharapkan adalah foto bagus dan sebisa mungkin dapatnya full frame semua. Tapi bagi saya jika itu terjadi terhadap saya, maka itu saya anggap sebagai bonus karena sudah merayap dan merangkak. Dengan peralatan yang super sederhana itu adalah hal luar biasa kalau bisa mendapatkan hasil yang bagus.

Hari itu saya hanya mendapatkan beberapa jenis saja. tidak banyak dan tidak bagus. Bisa anda lihat di bawah ini. Klik

Puasa, pengamatan di Trisik? Siapa takut!

Pantai Trisik bukanlah tempat asing bagi sebagian besar pengamat burung di Jawa khususnya yang berada di Yogyakarta. Ya! Pantai Trisik sampai ke Delta Pandansimo berada di Kabupaten Kulon Progo. Kalau dari Kota Jogja waktu tempuh kira – kira satu jam menggunakan sepeda motor baik melalui Jalan Bantul maupun Jalan Lingkar Luar – Wates.

Pantai Trisik merupakan kawasan penting di Yogyakarta sebagai tempat singgah burung – burung pantai migran dari belehan bumi utara ketika di benua utara mengalami perubahan musim dari hangat menjadi dingin. Selain itu juga menjadi habitat penting bagi jenis burung pantai endemik, Cerek Jawa Charadrius javanicus. Nah, saking pentingnya kawasan itu yang menarik perhatian kawan – kawan yang punya kesamaan hobi mengamati burung konsisten melakukan pendataan di lokasi tersebut. Saya cuma ikut-ikutan,.

Kamis lalu [ 17/7/2014 ], meskipun sedang dalam keadaan Puasa tidak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi Pantai Trisik. Pokokya saya kepingin ke trisik. Entah nanti ada burung apa tidak yang penting berangkat dulu. Janjian sama Wahab dan Zul meskipun bung Zulfikar tak jadi berangkat karena tak enak badan.

Berangkat dari Jogja setengah tujuh dan sampai di Delta Trisik/Pandansimo sekitar setengah sembilan karena harus mampir – mapir terlebih dahulu. Itu pun masih harus salah lokasi. Awalnya saya pikir akan pengamatan di Laguna Trisik, ternyata Wahab sudah lebih dulu melakukan pengamatan di Delta. Berhubung peralatan ada di Delta bersama Wahab maka saya pun menyusul dia. Dari Trisik ke Pandansimo masih sekitar 10 – 15 menit karena harus muter.

Matahari sudah terasa panas. Tidak seperti beberapa hari sebelumnya yang mendung. Tapi wajar sih, namanya juga pantai ya pasti panas. Ketika saya sampai di lokasi Wahab tampak sedang mengamati jenis burung yang menurut dia tidak biasa. Ringed Plover atau Charadrius hiaticula. Saya pun langsung semangat mengingat saya juga belum pernah lihat secara langsung. Hanya lihat foto di BirdingAsia 20 (2013) yang di foto oleh Shaim Basyari tahun lalu. Selain itu, saya juga masih abu – abu kalau masalah identifikasi burung pantai jadi ya manut saja.

Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius) dengan bulu berbiak. Dalam masa berbiak burung pantai ukuran badan lebih besar dari ukuran normal.

Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius) dengan bulu berbiak. Dalam masa berbiak burung pantai ukuran badan lebih besar dari ukuran normal.

Inilah yang menjadi incaran hari itu yang ternyata bukan C. hiaticula seperti yang diharapkan. Tahu kenapa? setelah saya kroscek ke buku panduan burung pantai ternyata sangat beda C. hiaticula bulu berbiak. Asumsi kami jenis ini pada saat di Trisik adalah C. hiaticula dengan bulu berbiak. Akan tetapi setelah saya cek di buku panduan sangat beda. Kalau ini hiaticula bulu berbiak seharusnya pangkal paruh hingga sepertiga paruh warnanya orange dan ujung paruh hitam, sedangkan ini tidak. Kemudian kalau ini bukan bulu berbiak pada bagian kepala depan/kening warnanya putih, tidak ada warna hitam seperti topi. Akhirnya saya beralih ke Charadrius dubius atau Cerek Kalung Kecil. Nah, pada bagian C. dubius  lah saya yakin kalau burung yang kami amati adalah C. dubius bulu berbiak. Untuk meyakinkan identifikasi saya maka saya share foto itu ke Forum sebagai pembanding.

Oke,. kita kembali lagi ke Delta Trisik yang semakin panas karena matahari semakin tinggi.

Selain Cerek Kalung Kecil dan Cerek Jawa kami juga menemukan 4 (empat) individu Kedidi Putih Calidris alba. Sepertinya mereka idividu muda yang belum siap kawin sehingga tidak kembali ke tempat kelahirannya dan memutuskan untuk stay di Trisik. Wahab juga melihat adanya Greater San Plover/ Cerek Pasir Besar atau Charadrius leschenaulti yang masih beredar di Trisik.

Kedidi putih

Kedidi putih

Seharusnya di frame ini ada empat individu. Tapi yang satu tertutup oleh individu yang lain.

Cerek Jawa, posisi duduk seolah bersembunyi.

Cerek Jawa, posisi duduk seolah bersembunyi.

Awalnya saya pikir tidak ada burung di pasir – pasir itu. mereka sangat pandai berkamuflase dengan pasir. Memanfaakan cekungan yang ada di pasir untuk bersembunyi.

saya pun tak tahu ini indivdu dewasa apa muda

saya pun tak tahu ini indivdu dewasa apa muda

dia berkamuflase dengan batu

dia berkamuflase dengan batu

Kedidi putih ini pun terlihat lebih nyaman ketika saya juga duduk tenang. Oia,. semua foto ini dihasilkan dari teknik fotografi digiscoping.

Kedidi putih

Kedidi putih

Pengamatan hari itu kami sudahi sekitar pukul 11:30. Panas di Delta pun sudah sangat terasa dan cukup membuat rasa haus itu menghampiri kami. Selain itu pasang air laut sudah mulai tinggi. Puasa itu bukan berarti bermalas – malasan, dan kami buktikan dengan berpanas – panasan di Delta Trisik.