Akhirnya, Leptogomphus lansbergei lansbergei

Akhirnya, si misterius ini ketemu juga identitasnya. Setelah menunggu jawaban dari para suhu mengenai Capung Ghoib ini akhirnya terjawab sudah. Dia punya nama Leptogomphus lansbergei lansbergei, anak jenis yang tersebar di Pulau Jawa. Jenis ini saya temukan di aliran air belakang Resort Cilimus, Taman Nasional Gunung Ciremai. Cerita penemuannya pernah saya ceritakan di Sini [ Leptogomphus sp ] . 

Kalau menurut para pemerhati capung, jenis ini memang minim catatan. Catatan pertama sepertinya mbah Lieftinck yang mengawali blusukannya nguber – nguber capung di Tanah Jawa dan sepertinya memang belum di deskripsikan dengan detil. Terima kasih kepada para suhu dari Indonesian Dragonfly Society yang sudah membantu identifikasi.

Betina

Female, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Male, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Male, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Kalipagu, 30 Ramadhan 1435 H

Prepegan, sebuah istilah di kalangan masyarakat Jawa menamai hari terakhir puasa ramadhan. Ada apa pada hari prepegan? Pada hari itu hampir semua pasar dan pusat perbelanjaan bisa di pastikan penuh orang berbelanja. Dari yang berbelanja kulit ketupat, sampai keperluan untuk berlebaran. Dari yang kecil sampai yang besar. Dan biasanya harga-harga dipastikan naik.

Kita tinggalkan mereka yang di Pasar. Hari terakhir puasa ramadhan 1435 Hijriah kemarin saya dan dua teman orang teman memutuskan untuk pergi ke Kalipagu. Sebuah tempat yang sangat pas bagi yang hendak menyepi dari ramainya kota, juga bagi yang ingin menghirup segarnya udara lereng selatan Gunung Slamet. Bagi sebagian orang Purwokerto kalipagu mungkin sudah tak asing lagi. Apa lagi bagi kalangan fotografer alam liar dan pengamat burung. Lokasinya berada di sebelah barat Pancuran Tujuh, Baturaden. Ya, selain pancuran tujuh, kawasan Kalipagu juga terkenal sebagai lokasi Camping dan wisata alamnya.

Oke, sepertinya cukup sedikit prolog dari postingan ini. Intinya adalah hari itu Saya, Apris dan Asyief pergi ke Kalipagu untuk hunting foto. Ya, hunting foto. Target? Apa aja yang penting bisa melepas rasa suntuk karena terlalu lama berdiam diri di rumah dan mulai tidak produktif. Kami berangkat dari markas Biodiversity Society pukul 09:00 waktu Pabuaran, Purwokerto. Padahal janjiannya jam 07:30 kumpul. Manusia memang boleh punya rencana, tapi tetap Gusti Alloh ingkang Moho Agung ingkang ngijabah. Ndilalah Apris kebablas tidur sampe jam sembilan.

Kalipagu hari itu sepi. Jalur ke pancuran tujuh pun sepi. Tidak nampak ada aktifitas kegiatan wisatawan yang berkunjung. Mungkin sedang ikut prepegan ke pasar beli daging dan cangkang kupat. Sudah jadi hukumnya kalau ada jalan menanjak pasti ada jalanan menurun. Itu pun ada di Kalipagu. Anak tangga itu tampak panjang. Ah, bisa dipastikan pulang nanti akan tarik napas lebih panjang dari tadi berangkat. Saya coba dokumenasikan gambaran panjang tangganya karena saya juga ndak menghitung ada berapa banyak anak tangga itu.

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tampak tiga individu Elangular Bido Spilornis cheela terbang berputar tapi enggan mendekat. Hanya Kadal (Mabuya sp) sedang berjemur, kupu – kupu jenis Melanitis leda, Junonia almana dan Eurema sp yang jadi model pertama kami. Sebelumnya, saya sudah pernah mengunjungi tempat ini yakni dua tahun lalu. Waktu itu kami melakukan pengamatan Owa Jawa Hylobates moloch. Nah, pada kunjungan di akhir ramadhan kami tidak lagi mengunjungi lokasi bermain Owa Jawa, tapi kami langsung menuju sumber air dengan target (akhirnya punya target) jenis capung. Syukur – syukur bisa nemu anggrek liar yang sedang berbunga.

Oia,. Bagi yang suka berburu bangunan lama peninggalan zaman penjajahan dulu, Kalipagu pun menarik untuk dijadikan lokasi hunting. Saluran air disana dibangun pada zaman penjajahan belanda. Pondasi – pondasi saluran air itu masih terlihat kuat. Begitu juga dengan Dam penampung air yang saat ini dijadikan penampungan air Indonesia Power PLTA Ketenger, Banyumas. Kolam penampungan itu di bangun pada tahun 1938.

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Elang Jawa dan Drepanosticta

Dalam perjalanan kami menuju pancuran tujuh tiba – tiba terdengar suara yang  sudah tak asing di telinga saya. Meski suara itu terdengar samar tapi jelas itu suara siapa.

“ Suara elang jawa bro!”. Kata saya.

“ Endi? Udu lah “. Jawab apris yang artinya “Mana? Bukan lah”.

Tapi suara itu terus terdengar dan makin jelas ketika kami sedikit demi sedikit kami berjalan menuju pancuran tujuh. Saya coba cari lokasi si pemilik suara itu menggunakan Binocullar yang saya bawa. Dan benar dugaan saya. Individu dewasa Elang Jawa Nisaetus bartelsi bertengger di dahan kering pada pohon tinggi tapi jauuuhhhhhhh,…

“Oke, kita dekati si doi!”. Dan kami pun mencoba mencari jalur untuk mendekati pohon tempat si Jambul itu bertengger.

Demi si jambul, blusukan pun kami lakonni yang penting foto bisa diperoleh. Menerka – nerka jalur dan posisi pohon tempat bertengger pun kami lakukan. Rasa percaya diri yang tinggi dan tentunya penuh perhitungan adalah modal utama hunting foto di alam. Tapi untungnya Apris menguasai medan di Kalipagu, jadi saya tambah PeDe. Sambil mengawasi dan mengamati pohon tinggi kami juga mengamati tebing sisi jalan yang kami lewati. Apa lagi tebing itu lembab dan di beberapa bagian mengalir air. Tempat kesukaan Capung Jarum dari jenis Drepanosticta, Capung langka dari Jawa.

Memang, yang namanya hoki itu tidak pilih – pilih siapa yang bakal memperolehnya. Individu jantan Drepanosticta spatulifera bertengger pada rumput yang tumbuh di tebing sisi jalan. Seketika usaha mengejar elang jawa berhenti karena si Drepa. Seolah kami sudah merelakan elang jawa itu terbang pindah pohon tengger. Si kecil hitam dengan ujung abdomen biru itu seperti menyihir kami untuk berhenti dan memotretnya. Elang jawa membawa kami pada si drepa.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Sesi pemotretan selesai dan kami kembali melanjutkan mendekati lokasi pohon dimana elja itu bertengger. Tidak ada petunjuk yang meyakinkan posisi pohon itu. Kami hanya menerka dan memutuskan untuk sedikit masuk ke dalam. Meskipun pada akhirnya kami menemukan jalan buntu dan pohon itu tidak kami temukan. Sedikit ngos – ngosan dan ngap – ngapan kami mengawasi setiap pohon tnggi dan hasilnya nihil dan Kami pun memutuskan untuk kembali turun. Lupakan elja itu, kita cari lagi lain waktu dilokasi yang sama.

Hari itu memang tidak maksimal. Waktu hunting hanya tiga jam karena kesiangan. Mungkin kalau kami berangkat lebih awal bisa dapat object lebih banyak dari yang kami dapatkan hari itu. Tapi itu pun tidak jadi masalah bagi kami. Yang penting sudah berusaha.

Berikut adalah foto Satwaliar yang berhasil terdokumentasikan. Klik Foto untuk memperbesar masing-masing foto:

Banyumas – Tholymis tillarga (Fabricius, 1798)

Suro, Kalibagor, Banyumas 16.2.2014

Putih pada daun singkong yang menjadi background dari Capung ini adalah abu vulkanik kiriman dari Gunung Kelud yang meletus beberapa bulan lalu (waktu ambil foto ini). Memang, ini foto lama yang belum sempat saya upload di blog. Daripada blog kosong tidak ada yang baru, yawes lah,. yang lama pun tak apa. Foto menjadi pengganti narasi atau tulisan dikarenakan saya tak pandai menulis, merangkai kata menjadi satu cerita utuh.

Suro, Banyumas 16.2.2014

Suro, Banyumas 16.2.2014

Ada Capung di Rumahku

Sebenarnya seberapa besar kah kita peka terhadap hal- hal kecil yang ada di sekitar kita? Apakah kita benar – benar peduli dengan yang ada di lingkungan kita? Mungkin kita selalu memandang hal – hal besar diluaran sana yang jauh dari pandang. Kadang kita lupa bahwa banyak hal kecil yang sepele dan kita sering menyepelekan hal itu.

Selama satu bulan lebih selama bulan Ramadhan saya tinggal dirumah dan benar – benar menghabiskan waktu puasa saya di rumah. Satu hari sampai satu minggu mungkin akan biasa saja tapi hal yang biasa saja itu tak akan bertahan lama. Rasa bosan mulai datang, mati ide dan gaya. Kenapa gak keluar bawa kamera dan cari object yang bisa di foto? Saya lupa bahwa rasa penasaran saya pada sesosok misterius yang selalu berterbangan dekat kandang sapi Bapak saya pas waktu Maghrib. Ya, saya sangat penasaran dengan capung misterius yang saya yakini dari keluarga capung besar. Rasa penasaran itu yang mengajak saya membawa kamera andalan saya Canon SX40HS menuju kebun belakang rumah dengan beberapa pohon bambu yang mulai rindang. Tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan sosok misterius yang bikin penasaran. Satu ekor Capung dengan abdomen panjang dan mata majemuk yang lumayan besar. Alhasil si Gynacantha subinerupta sedang tidur siang di batang pohon Angsana (mbuh bener mbuh ora),. Si gyna kadang terbang dan pindah ketika merasa terganggu.

Gynacantha subinterrupta, capung misterius yang aktif diwaktu petang.

Gynacantha subinterrupta, capung misterius yang aktif diwaktu petang.

Kinjeng, sebutan untuk capung – capung di sekitar rumahku untuk jenis – jenis capung ukuran sedang seperti Capungsambar Biru, Neurothemis sp, Itik untuk jenis – jenis dari keluarga Zygoptera dan Kemalau untuk jenis capung besar seperti Paragmphus, Ictinogomphus, dll,.

Capungjarum centil (Agriocnemis femina) menjadi catatan pertamaku terhitung bulan Ramadhan yang lalu. Mungkin lebih tepatnya catatan yang terlewat, karena dulunya gak pernah peduli dan mencoba mencarinya. Lumayan banyak individunya dari yang remaja sampai yang dewasa.

Jenis lain yang juga tak kalah menarik dari ragam capung yang ada di sekitar rumahku adalah jenis Neurothemis terminata.

Untuk temuan Neurothemis terminata – 1, dirumah itu buanyak, akeh.

Kemudian Capungsambar garishitam (Crocothemis servilia) saya temukan di aliran sungai serayu. Bulan Ramadhan kemarin hanya beberapa individu saja baik jantan maupun betina. Ini menarik karena saya selalu menjumpai jenis sambar garis hitam ini diwaktu kemarau saja. 

Kemudian yang paling umum baget, nget, nget, mainan saya dulu waktu kecil adalah Capungsambar Hijau (Ortrethum sabina). Jenis ini sakbajek akehe dan sangat mudah, termasuk Capungsambar perutpipih (Pontamarcha congener) yang banyak bertengger di kabel – kabel maupun tali jemuran. 

Capungsambar Hijau

Capungsambar Hijau

Yang belum sempat dapet fotonya adalah Capungpancing Jawa (Paragomphus reinwardtii) dan jenis capung yang punya nama Kinjeng Kebo dikampungku itu hanya ketemu sekali. Itu pun pas lihat si kebo langsung terbang nyari posisi yang lebih tinggi.

Capungsambar perutpipih, penunggu kabel-kabel listrik

Capungsambar perutpipih, penunggu kabel-kabel listrik