Lambosir – Changeable Hawk-eagle, Dark Morph

Lambosir, Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan 04.2.2014

Selama berkegiatan di Taman Nasional Gunung Ciremai belum pernah nemuin Elang Brontok Nisaetus cirrhatus yang terang, semuanya selalu nemunya yang dark morph alias yang hitam, gelap, coklat gelap mendekati hitam.

Lambosir, 04.2.2014

Lambosir, 04.2.2014

Wonosadi – Changeable Hawk-eagle, dark morph [ 2 ]

Masih Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) edisi Hutan Adat Wonosadi, tapi yang ini fotonya dari luar hutan. Yang berbeda dari postingan kedua ini Alhamdulillah saya dapet foto dimana mereka sedang berdua di pohon yang sama.

Changeable Hawk-eagle, Dark Morph [Flight]

Changeable Hawk-eagle, Dark Morph [Flight]

Di postingan pertama memang sudah ada foto terbang dari individu ini, akan tetapi kurang tampak sayap bagian bawah. Nah, kebetulan pas dapet yang begini ya saya posting lagi saja,.. 🙂

Bertengger di Pohon munggur memantau pergerakan Sikepmadu Asia yang sedang soaring [03/10/13]

Bertengger di Pohon munggur memantau pergerakan Sikepmadu Asia yang sedang soaring [03/10/13]

Meskipun tidak clingsari tapi masih bisa bilang kalau itu dua elang yang sedang bertengger.

Changeable Hawk-eagle, dark morph [ 1 ]

Amazing!!,. Target hari ini [28/09/13] tercapai meskipun hasilnya belum maksimal. Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) dark morph berhasil terdokumentasi meskipun masih harus dilakukan pengulangan. Tapi, paling tidak species ini sudah diamankan terlebih dahulu.

Dark morph-1a

Dark morph-1a

Meskipun sempat terlewatkan padahal jaranknya sangat dekat dengan kami [saya, wahab & gentur] yang asik mengamati Anggrek yang sudah layu. Asik ngamatin anggrek si bronti yang ada di belakang kami benar-benar terlewatkan. Alhamdulillah, keberuntungan masih ada pada kami,. Bronti ndak lama dan ndak jauh-jauh pindah pohon bertengger. Dia bersuara seperti memanggil yang diikuti dengan 2 bronti lain yang soaring (terbang berputar) diatas pohon dia bertengger.

-Individunya sama-

-Individunya sama-

Ini merupakan foto pertama saya untuk Elang Brontok dengan ciri morphologi yang gelap [dark morph]. Meskipun dalam pelaksanaan eksekusinya bulu kuduk ndak berhenti terasa “ser ser”,.. Benar kata sesepuh Dusun Duren megenai Hutan Adat Wonosadi.

Elang Brontok

Elang Brontok by Andhy PS

Elang Brontok Nisaetus cirrhatus Gmelin, 1788

Synonim: Spizaetus cirrhatus
Nama Lain    : Garuda dan Rajawali

Karakteristik; Jenis burung ini Berukuran besar 57-79 cm. Jantan dan betina sama. Namun demikian, Jenis ini dibedakan menjadi 3 fase karena mempunyai banyak pola warna bulu yaitu; fase terang, fase menengah dan fase gelap.
Fase terang dewasa; Umumnya berwarna gelap dibagian atas dan pucat pada baian bawah.
Fase menengah dewasa; sama dengan fase terang hanya bagian bawahnya berwarna abu-abu kecoklatan.
Fase gelap dewasa; warna coklat sangat gelap dan hitam Continue reading

Dari Elang Jawa menjadi Elang Brontok kemudian di Sulap Menjadi Elang Hitam

photo by Iwan Londo

Photo by Iwan Londo

Dari Elang Jawa Spizaetus bartelsi , jadi Elang Brontok Spizaetus cirrhatus kemudia disulap menjadi Elang Hitam Ictinaetus malayensis? Hebat banget ya si penyulap itu? Pasti akan berpikiran seperti itu. Kata-kata disulap ini saya ambil dari salah satu judul tulisan salah satu blogger yang bekerja jadi Pengendali Ekosistem Hutan(PEH) di Taman Nasional Baluran. Sebuah beban tanggung jawab yang sangat besar. Dia sebagai Pengendali Ekosistem Hutan dengan tanggung jawabnya jawabnya yang begitu besar masih bisa ngeblog sudah pasti hebat. Gimana tidak hebat coba,.. bayangin saja lha wong mengendalikan hawa napsunya sendiri saja belum tentu bisa, nah ini, dia sampai harus mengendalikan ekosistem hutan, wes dah pasti hebat,… hehehe,.. (ayo arep komentar opo masbro swiss?),..

Gimana ceritanya kok elang brontok bisa disulap jadi elang hitam?.. jadi begini ceriteranya.

Tanggal 4-5 Juli kami(saya dan beberapa teman pengamat burung yang ada di bogor) melakukan pengamatan bersama di kawasan Suaka Elang yang berada di Resorts Salak I Seksi Konservasi Wilayah Bogor Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di lokasi para pemburu burung ini karena lumayan banyak(11-an orang) maka di bagi menjadi 2 tim. Nah,.. pas hari kedua kira-kira sekitar jam 8(delapan) waktu suaka elang tim pertama(kebetulan saya di tim pertama) melihat satu ekor Elang terbang sangat rendah. Namanya juga penggila burung sudah pasti matanya langsung pada jelalatan. Bagi yang membawa Kamera dengan perbesaran lensa yang mumpuni untuk mengabadikan  elang tersebut langsung lari kea rah elang itu terbang, dan kebetulan elang tersebut menyempatkan untuk soaring jadi masih bisa di foto walaupun hasilnya masih kurang bagus.

Continue reading

Pengamatan elang jawa di Tapos, Sukamantri

Sabtu pagi 20/06/2009 bingung mau ngapain padahal waktu malamnya nulis status di FB rencana mau coba pengamatan Elang Jawa(Spizaetus bartelsi) di kawasan Tapos, Sukamantri. Bangun pagi masih ragu antara jadi apa tidak pengamatan pagi itu. Daripada bengong di kostan sendirian mendingan jalan ke kost teman yang kebetulan dekat sekalian ngajakin pengamatan juga biar ada teman.

Salah satu temenku masih tidur dengan balutan Sleeping bag walaupun si Anin anaknya temenku, Gunawan, sudah bangun sedari pagi dan sudah selesai mandinya. Langsung saja ku bangunin dia dan saya ajak untuk pengamatan elang jawa.

” Wei, bangun!” sambil saya tendang kakinya yang masih terbalut sleeping bag.”Pengamatan elang yuk di tapos”.

” Ayo. Emang jam berapa sekarang?”. Tanya dia.

” Udah jam 7 bos”.

Dia, Mono, langsung bangun dan menuju kamar mandi. Entah untuk mandi atau cuma buang hajat soale dia lama dan keluar sudah terlihat segar.

” Kalau mau pengamatan jam sembilanan”. kata gunawan. ” Waktu itu saya aja jam sepuluh lihat banyak dalam waktu yang singkat”. Imbuh dia.

Sambil menunggu waktu agak siangan dikit teh manis menjadi teman kami bertiga ngobrol. Anin, si kecil yang selalu membuat hati kami senang asik dengan mainan teropongnya yang sudah tidak ada kacanya. Dia asik mondar-mandir sambil sesekali berceloteh. Tak terasa jarum jam menunjukan pukul 09.00. Saya pun langsung menyiapkan peralatan tempur kami kali ini. Sebuah Monocullare merek Kowa dengan perebesaran 77X25 berserta Tripodnya dan buku panduan burung Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali tak lupa saya masukan ke dalam tas.

” Anin juga mau lihat buyung(Burung)”. Begitu melihat saya dan mono memasukan peralatan yang kami bawa.

” Nanti Anin menyusul sama Ayah sama Bunda ya”. Kata saya. Tapi dia tetap saja keukeh pengin ikut. Akhirnya saya pun main kucing-kucingan jangan sampai ia lihat saya sama mono keluar dari rumah.

Sebelum berangkat, rumah makan sederhana menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan perut kami pagi itu. Makan dengan lauk seadanya pun jadi yang penting saat pengamatan gak kelaparan.

Perjalanan menuju lokasi pengamatan kami tempuh dengan sepeda motor kurang lebih sekitar 30 menit dari Kostan yang berada di Ciapus.

Terlihat para petani perkebunan Nanas sudah dari pagi beraktifitas. Terlihat dari bekas tanah dan rumput yang mereka cabut itu masih baru dan cukup luas hasil yang mereka kerjakan dari pagi.

Baru juga memarkir Motor, suara elang sudah terdengar. Mata langsung melihat ke segala arah dan Binocullare alat pertama yang saya pakai untuk mencari sumber suara itu berada. Dan ternyata di arah barat daya terlihat seekor elang yang disusul oleh temanya.

” Wah! Elang jawa tuh”. kataku ” Ada dua,.. eh,.. ada lagi tuh di bawahnya dan masih muda”.

” Kayaknya bukan deh”. Kata mono. ” Tadi itu suara Elang Brontok(Spizaetus cirrhatus)”.

Memang, Secara sepintas bentuk sayap elang brontok dengan elang jawa agak mirip. Terlihat si elang makin menjauh. Biar pengamatan kami bisa lebih leluasa dan dekat akhirnya kami pun naik ke bukit yang lumayan dekat dengan hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak(TNGHS).

” Punten pa, bu, mau lihat elang nih”. Kata saya pada dua orang petani yang sepertinya suami isteri itu.

” Mangga jang,.. di atas banyak tuh. Kadang juga sampai kampung si elang terbang”. kata si ibu. ” Biasanya yang warnaya hitam. Kadang ayam di akmpung juga di ambil”. Wah, si ibu seperti curhat.

Dengan membawa monocullare yang sudah terpasang ke tripod saya dan mono menyusuri keun nanas yang posisinya naik dan lumayan tinggi. Begitu sampe di lokasi yang dirasa nyaman dan jangkauan pandangan kami luas, nafas kami berdua terlihat sekali kalau itu hasilnya dari seorang perokok. Baru naik bukit sedikit saja sudah ngos-ngosan. Payah!!!!!!!!!

Elang yang tiga ekor itu masih terlihat melakukan soaring. Saya masih penasaran antara Brontok apa elang jawa yang tadi saya lihat pas begitu sampe di lokasi. Pandangan yang agak siluet(Bahasa indonesia yang benar gimana kalau bilang siluet?) bikin sedikit susah untuk meng-identifikasi.

Sedang asik-asiknya ngamatin yang tiga ekor, datang dari arah samping dua ekor elang yang satu dewasa dan yang satu terlihat masih sangat cokelat dan kondisi bulu di dua sayapnya ada beberapa yang Moulting/tanggal/lepas.

” Elang jawa mon!”. Saya yakin sekali kalau yang dua itu elang jawa anak dan induknya yang sedang menjelajahi daerah itu.

Begitu Mono mengarahkan bino-nya si elang sudah jauh.

Pengamatan dilanjutkan pada tiga ekor elang yang kami masih bingung antara elang jawa apa elang brontok itu. Satu ekor terlihat terbang mendekat ke arah lokasi kami berada. Begitu si elang terlihat jelas, dan,………..

” Wah,.. sialan,… itu elang Brontok!”. Kataku sambil sedikit tertawa setelah tadi lumayan lama engkel-engkelan(id- Berdebat) dengan si Mono.

Si Mono cuma tertawa setelah saya yakin kalau itu elang brontok.

” kan saya sudah bilang suaranya tuh bukan suara elang jawa”. Kata Mono.

” Iya ih,.. tapi tadi saya bener-bener penasaran. Soale bentuk sayap hampir mirip, cuma kok garis di ekornya beda dan ternyata bentuknya seperti ini”. Seraya saya menunjuk ke gambar elang brontok pada penampakan terbang. Terlihat garis hitam hanya satu garis pada bagian ekor.” Nah kalau yang dua tadi itu aru elang jawa”. kataku lagi. ” Bodohnya diriku”.

Waktu sudah beranjak siang. Panas mulai terasa dan kami lupa tidak membawa perbekalan minum maupun makanan kecil.

” Pulang yuk”. Kata saya. ” Dah siang nih, lapar and haus”.

” hayu,.. emang sudah jam berapa?”.

” Jam duabelas lewat”.

Mono juga sepakat untuk megakhiri pengamatan hari itu. Peralatan kami bungkus kembali.

Di bawah terlihat tiga orang bapak-bapak sedang menanam pohon nanas. Kami melintas di samping bapak-bapak itu.

” Pernah lihat segerombolan elang elang lewat sini dalam jumlah banyak gak pak”. Tanya mono pada tiga bapak itu.

” Paling ge empat”. Kata si bapak. ” Kalau sarang Elang Jawa ada de di dalam kawasan. Pa Otang juga sering lihat kesana”. Kata si bapak lagi sambil menyebutkan tetangganya yang sering mengecek sarang elang jawa di hutan. Si bapak terus bercerita perihal keterlibatan pa otang dalam hal memonitoring elang jawa yang dulunya di inisiasi oleh beberapa peneliti elang di indonesia di kawasan itu.

Setelah sedikit banyak ngobrol dengan tiga bapak itu kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Di saat kami menuruni bukit, terlihat seekor Elang Hitam(Ictinacetus malayensis) sedang soaring di atas perkampungan. Sepertinya di mau berburu. Soalnya ketika saya dan mono lihat itu, si elang hitam posisinya langsung meluncur ke bawah dan langsung tidak terlihat lagi. Saat kami sedang berada di atas motor sambil menuruni jalanan batu yang tertata rapi terlihat lagi satu ekor elang dan ternyata itu elang hitam yang tadi soaring.

Pengamatan di hari sabtu cukup mengobati kerinduan saya pada elang jawa dan elang-elang lain,…

Ayo,.. ada yang tertarik. Kapan kita mau pengamatan bareng? silahkan,… Kami siap menemani,.. Hoho,…