Elang laut sungai Pematang Gadung

Ukuranya Besar. Masuk dalam golongan elang pemakan ikan. Warnna bulunya masih terlihat cokelat menandakan bahwa dia masih muda. Bertengger pada pohon kering yang menjulang tinggi di pinggir sungai Pematang Gadung seperti baru saja menyelesaikan perburuanya di sore hari.

Elang laut Perut Putih Haliaeetus leucogaster muda ini ditemukan dalam perjalanan pulang kami setelah mengunjungi daerah Danau Perendaman. Seperti yang aku bilang, dia sedang bertengger pada pohon kering yang tinggal menunggu waktunya roboh. Melihat dia sedang bertengger seperti reflek langsung menyuruh pengemudi speed boat memberhentikan lajunya yang sedang melaju kencang. Jepret,.. jepret,.. jepret,.. beberapa gambar berhasil terdokumentasikan.

Jenis yang umum

White-bellied Sea-eagle begitu nama inggrisnya jenis ini merupakan jenis yang sangat umum dan mudah di jumpai di lokasi ini. Lokasi ini memang lokasi yang sangat bagus untuk jenis elang pemakan ikan. Bukan hanya jenis ini yang bisa ditemukan dengan mudah. Selain jenis ini ada juga Elang Bondol Haliastur indus dan Elang Ikan Kepala Kelabu Ichthyophaga ichthyaetus yang juga dari golongan elang pemakan ikan. Mereka sama-sama menyukai daerah perairan.

Continue reading

Pasangan yang setia(Elang Laut Perut Putih)

Senin, 2009 Juni 29

Sebelum kapal yang membawa kami melanjutkan perjalanan pulang, saya menyempatkan meminta kepada Kapten Kapal Motor untuk lebih mendekat ke pohon Cemara Laut(Cassuarina equisetifolia) yang sedang digunakan oleh pasangan Elang Laut Perut Putih(Haliaeetus leucogaster) bersarang(Juli 2007). Pasangan elang laut yang kami beri nama Yudi dan Yuni ini bersarang di Pohon Cemara laut tepat di pinggir pantai(bagian pulau paling pinggir). Kami, Team Monitoring, Pada saat itu memberi nama pasangan itu Yudi dan Yuni karena secara kebetulan nama Pulau dimana pasangan elang ini bersarang adalah Pulau Yu Barat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Begitu kapal mendekat saya langsung membidikan Kamera saya ke pohon tersebut dengan arah yang sudah pasti posisi sarangnya berada. Tanpa saya sadari ternyata tidak jauh dari sarang dengan perkiraan 3 meter dari sarang ada Individu Jantan sedang bertengger menunggui si Yuni sang Betina yang sedang berada di sarang. Saya baru tahu kalau ada si Yudi setelah melihat hasil Jepretan tadi.
Terlihat jelas sekali kalau Yudi begitu setia menunggui pasangannya yang sedang menjalankan tugasnya menungerami telur buah hasil percintaan mereka. Yudi disaat sedang tidak pergi untuk mencari makan dia akan bertengger di dahan atau di pohon yang tidak jauh dari lokasi sarang mereka berada.

Continue reading

Elang Laut Perut Putih

Dewasa

Elang Laut Perut Putih Haliaeetus leucogaster, Gmelin 1788
Nama Inggris : White – bellied Sea – eagle
Nama Lokal : Rajawali, Garuda (Karimunjawa), Elang Putih, Elang Laut.

Karakteristik
Mempunyai panjang tubuh 70-85 cm, rentang sayap 178-218 cm dengan berat tubuh jantan 1,8 – 2,9 kg dan betina 2,5 – 3,9 kg. Bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan bagian bawah, kepala dan leher berwarna putih. Iris coklat. Kuku, paruh dan sera berwarna abu-abu. Tungkai tanpa bulu dan kaki berwarna abu-abu. Saat terbang, ekornya yang pendek tampak berbentuk baji dan sayapnya terangangkat ke atas membentuk huruf V.

Juvenile

Penyebaran
Di Dunia : India, Asia Tenggara, Filipina, Indonesia dan tersebar luas di Australia
Di Indonesia : Terserbar diseluruh kepulauan di Indonesia.
Di Jawa : Pulau Panaitan, TNUK, Kepulauan Seribu, SM Cikepuh, Pesisir Pantai Pegunungan Seribu, TN Baluran, Pulau Sempu hingga Madura dan Bawean.

Suara
Teriakannya nyaring seperti rangkong ”ah-ah-ah-…” seperti suara burung Gagak(Corvus spp)

Habitat
Ditemukan di seluruh daerah, berputar-putar sendirian atau berkelompok di atas perairan. Mengunjungi pesisir, sungai, rawa-rawa dan danau sampai ketinggian 3000 m.

Berbiak
Musim berbiak: Musim kawin di Pulau Kalimantan dan Asia tenggara Januari – Juli. Di Jawa dan Sulawesi musim kawinnya adalah beberapa bulan (tetapi kebanyakan Mei – Oktober).
Sarang: sangat besar dengan lebar 1,2-1,5 m (bila digunakan secara menerus dapat mencapai 3 m) dan kedalaman 0,5 – 1,8 m. Terdiri dari dedaunan hijau, rerumputan dan rumput laut.
Jumlah Telur: Kebanyakan bertelur 2 butir, dengan masa pengeraman 40-45 hari.

Makanan
Makanannya cukup bervariasi, namun tidak seluruh jenis dimakan. Terutama memakan ular laut, kura-kura dan penyu kecil, burung-burung air seperti penggunting laut, petrell, camar, cikalang, pecuk dan cangak. Juga burung burung air besar seperti angsa-angsaan, bebek dan belibis. Mamalia umumnya hewan pengerat domestik. Cara berburu jenis ini hampir menyerupai Elang Bondol Haliastur indus yaitu terbang berputar sambil mengawasi permukaan air dan seketika akan meluncur ke mangsanya begitu mangsa terlihat. Menangkap mangsanya menggunakan kakinya yang kuat kemudian membawa mangsanya terbang. Dapat membawa mangsa yang besar sambil terbang.

2nd years

Status Perlindungan
Dilindungi Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, PP 7 dan 8 tahun 1999. Di kategorikan ke dalam populasi Low Risk dalam Red Book data List IUCN Appendix II Cites.

Pengamatan sarang Elang laut di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Bulan Juni adalah bulan dimana Elang Laut Perut Putih(Haliaeetus leucigaster) masuk musim berbiak. Sebenarnya sudah dari bulan April pasangan elang laut itu memulai aktifitasnya dengan pembuatan sarang atau bahkan pembenahan sarang yang sudah dipakai sebelumnya. Disini saya akan mencoba menceritakan pengalaman tahun lalu ketika saya dan teman-teman dari Jakarta Birdwatcher’s Community melakukan pengamatan aktivitas berbiaknya elang laut di Pulau Yu Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatanya sebenarnay di mulai dari bulan Maret yaitu dengan melakukan pengukuran karakteristik sarang yang kemudian dilakukan pemantauan berkala. Tepatnya bulan Mei 2007 ketika saya coba melakukan pemnatauan ulang untuk mengetahui aktivitas pasangan elang laut di pulau tersebut. Waktu itu saya dan teman saya melihat ada perubahan pada elang laut tersebut yaitu dengan adanya sarang baru yang tidak jauh dari sarang yang lama yaitu sekitar lebih kurang 50meter. Aktivitasnya juga sudah mulai lebih banyak disarang dan terlihat seperti sedang mengerami telurnya. Melihat aktivitas seperti itu akhirnya saya coba menghubungi teman-teman JBC untuk merencanaka kegiatan pengamatan pada pasangan elang laut tersebut. Gayung pun bersambut, JBC menyetujui rencana tersebut.

100_1205Akhirnya pada bulan Juli kami memulai pengamatan. JBC pada gelombang pertama menugaskan 2 anggota dari FMIPA Universitas Negeri Jakarta(UNJ). Pengamatan yang dilakukan dalam setiap pergantian tim dengan lama waktu pengamatan 12 hari yang akan digantikan oleh tim yang baru. Di setiap tim pengamat, satu personil dari IAR Indonesia dan 2-3 dari JBC. Pengamatan yang dilakukan dimaluai dari pukul 06:00-17:30wib walau kadang sampai jam enam sore. Pengamatan pasangan elang laut yang sedang berbbiak ini memang kami tim pengamat mengalami beberapa kendala terutama dari jarak dan ketika si elang meninggalkan sarang. Lokasi pengamatan dengan sarang memang beda pulau. Lokasi sarang berada di Pulau Yu Barat sedangkan lokasi tim pengamatan di Pulau Yu Timur. Pengamatan terus dilakukan dan kabar yang mengagetkan waktu itu adalah ketika tim ketiga pengamatan. Pasangan elang laut tersebut pindah kesarang yang lama dengan aktivitas yang baru juga yaitu memulai lagi dengan pembenahan sarang.

Pengamatan dilakukan sampai September awal. Waktu itu tim berasumsi bahwa elang laut itu gagal berbiak karena bulan september seharusnya anakan elang laut sudah bisa terbang sedangkan yang terjadi pasangan elang dipulau tersebut masih pembenahan sarang dan lebih sering diluar sarang. Akhirnya tim memutuskan untuk mengakhiri kegiatan tersebut.

lebih detail kegiatan yang dilakukan silahkan lihat di laporan yang ada dibawah ini;

laporan-pengamatan-haliaeetus-leucogaster_-pulo-yu

photo & tulisan;

© Asman A Purwanto