Sunday Morning, Birding atau Sekedar Jalan-jalan?

Yogayakarta, 2.02.2014; Sumpah,.. Ini baru pertama kalinya saya mencoba berjalan kaki dari Pogung Lor tempat saya mondok sampai ke Lembah UGM. Lembah UGM adalah sebuah tempat yang kalau tidak salah itu semacam tempat resapan yang memang di bangun oleh pihak Universitas. Lembah selalu menjadi alternative kalau lagi galau dan pengen lihat burung.

Berjalan kaki, bercelana pendek, tas di punggung dengan satu botol air minum di bagian kiri tas, sandal jepit biru dan semangat dalam dada, menyusuri jalanan perumahan Pogung Kidul adalah jalur alternative paling recommended lah kalau gak pengen ribet dengan banyaknya kendaraan di Jalan Kaliurang. Tapi kalau bawa kendaraan sendiri lebih enak  lewat jalan kaliurang.

Jalan di minggu pagi mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar penghuni perumahan. Pagi – pagi sehabis Sholat Subuh, mungkin sehabis ngaji satu Juz juga yah, jalan – jalan pagi akan terasa lebih enak.

Jalanan yang biasanya rame mahasiswa/i berangkat kuliah pagi tadi terasa lengang. Mungkin karena jum’at kemarin sudah mulai libur kali ya jadinya pada pulang kampong. Hanya bertemu dengan beberapa orang yang pulang dari olahraga pagi. Memang tidak seperti hari – hari biasa sih.

Dua ekor anak Kowak-malam Kelabu yang sudah keluar dari sarang dan menunggu untuk terbang perdananya. UGM, 2.02.2014

Dua ekor anak Kowak-malam Kelabu yang sudah keluar dari sarang dan menunggu untuk terbang perdananya. UGM, 2.02.2014

Memasuki jalanan Selokan Mataram, mobil dan sepeda motor pun sudah mulai banyak. Nah, di jalur ini kita bisa sambil pengamatan Cangak Abu (Ardea cinerea) dan Kowak-malam Kelabu (Nycticorax nycticorax) yang sibuk hilir mudik sambil membawa potongan ranting di paruhnya. Dua jenis burung yang umum kita temukan di sekitar UGM khususnya di Kebun Biologi dan Arboretum Fakultas Kehutanan. Dua tempat yang kondisi pohonnya bias dibilang cukup bagus diantara gedung – gedung kampus. Karena kerimbunannya itulah kedua lokasi menjadi tempat berbiak cangak dan kowak malam itu.

Saya terus menyusur trotoar jalan yang terlihat hijau karena lumut. Tampak beberapa plastic diikat menggantung pada pohon mangga pinggir selokan. Bukan hanya plastik, kasur merah yang sepertinya sengaja dibuang pemiliknya dan potongan karung berwarna putih itu menjadi bukti ketidak taatan warga atas himbauan dilarang membuang sampah di Kali. Sampah-sampah itu benar – benar membuat kondisi menjadi tidak enak. Yang seharusnya terlihat asri malah jadi membosankan karena hampir tidak ada tempat umum yang luput dari tangan jahil dengan seenak udelnya buang sampah sembarangan.

Sampah-sampah di Selokan Mataram yang berada di Utara Selokan Mataram, Yogyakarta. 2.02.2014

Sampah-sampah di Selokan Mataram yang berada di Utara Selokan Mataram, Yogyakarta. 2.02.2014

Ok, mari kita tinggalkan sampah visual itu dan kita lanjutkan perjalanan. Jalan – jalan pagi itu katanya menyehatkan,. Hehe,. Jadi inget ada baliho di perempatan monjali yang mengimbau “ Beraktifitas minimal 30 menit dalam satu hari dapat menyehatkan jantung anda”. Nah, semoga dengan jalan – jalan yang saya lakukan pagi tadi minimal dapat memperpanjang masa berlaku jantung saya sebelum saklar ‘off’ di klik sama Gusti Allah.

Ketika sampai di utara Fakultas Kehutanan berharap aka nada aktifitas penjual – penjual di pertigaan FKH dan Perikanan. Pengennya motret aktifitas Pasar Kaget Sunday Morning, tapi kegiatan SunMor sudah dipindah ke sekitar UNY. Hanya suara music dangdut yang terdengar. Y awes lah, masuk ke lembah saja.

Cangak Abu, Lembah. 2.02.2014

Cangak Abu, Lembah. 2.02.2014

Suara burung di lembah lebih bervariasi karena jenisnya lumayan banyak. Cipoh Kacat menjadi suara terbanyak dan paling rame. Kemudian di susul Cinenen Pisang dan kadang Wiwik Kelabu. Tampak Cangak Abu turun ke pinggir kolam, Rajaudang Meninting mencicit, matanya focus mengamati permukaan air di bawahnya dan hap!!,. sekali luncur satu ekor ikan kecil ada di antara paruhnya. Mereka adalah jenis burung yang umum di Lembah dan tukang mancing. Hehehe

Ah,. Nyamuknya nggilani, kemruyuk !!!

Jalan memutar mengelilingi kolam yang ada di tengah lembah memang biasa saya lakukan sambil ngamati burung. Tampak satu individu Kareo Padi sedang mencari makan. Memanfaatkan pucuk pohon bambu yang menjulur ke kolam dan menyentuh permukaan air sebagai pijakan sehingga dia bisa mencari makan di situ.

Kareo padi sedang mencari makan, 2.02.2014

Kareo padi sedang mencari makan, 2.02.2014

Nah, di saat saya sedang memotret rajaudang meninting terdengar di kejauhan suara burung yang asih bagi saya. Tapi, ketika saya ingat – ingat betul suara itu mengingantkan saya ke suatu tempat di Jakarta Barat 10 tahun lalu. Di tempat itu dulu saya tiap hari mendengar suara yang berasal dari Kakatua Raja(Probosciger aterrimus). Ha! Itu artinya si burung Papua ada tidak jauh dari saya.

Meninting dengan Cincin yang dipasang oleh PPBJ Birdbanding Club - IBBS

Meninting dengan Cincin yang dipasang oleh PPBJ Birdbanding Club – IBBS

Ok Meninting, kamu saya tinggal untuk beberapa saat saja. Ada yang harus saya selesaikan,. Haha.. suaranya begitu keras tapi wujud dari burung itu belum nampak. Begitu Nampak tidak mau diam. Jalan – jalan terus. Akhirnya ketemu juga setelah beberapa bulan mendengar keberadaan burung tersebut. Burung peliharaan yang terlepas dari pemeliharanya itu kini menjadi penguin kebun biologi dan arboretum kehutanan. Meskipun saya tidak mendapatkan foto yang bagus tapi sudah cukup senang karena si raja masih survive. Minimal sampe tadi pagi saya lihat.

Seekor Kakatua Raja yang terlepas dari pemiliknya hari ini muncul di kawasan Lembah dan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, 2.02.2014

Seekor Kakatua Raja yang terlepas dari pemiliknya hari ini muncul di kawasan Lembah dan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, 2.02.2014

Jalan – jalan pagi yang penuh dengan warna. Kenapa tidak dari sejak lama saya lakukan kegiatan macam itu ya. Rasa malas yang selalu mejadi penghalang untuk melakukan hal itu. Padahal tidaklah jauh Lembah dari Pogung Lor. Dan, 19 jenis burung masuk dalam list pengamatan burung yang bisa dibilang cukup singkat hasil jalan sehat. Hasil jalan-jalanya adalah berkeringat sehat, hasil birdingnya dapet beberapa foto.

Gitu aja wes,.

  1. Black-crowned Night Heron
  2. Grey Heron
  3. Eurasian Tree Sparrow
  4. Common Iora
  5. Olive-backed Sunbird
  6. Blue-eared Kingfisher
  7. White-breasted Waterhen
  8. Common Tailorbird
  9. Shoty-headed Bulbul
  10. Black-naped Oriole
  11. Scarlet-headed Flowerpecker
  12. Bar-winged Prinia
  13. Great Tit
  14. Yellow Vented Bulbul
  15. Plaintive cuckoo
  16. Palm Cockatoo
  17. Spotted Dove
  18. Javan Munia
  19. Scaly-breasted Munia

Suaka Margasatwa Balai Raja Lenyap

Suaka Margasatwa Balai Raja di Desa Sebanga, Duri, Riau, lenyap. Kawasan hutan seluas 16.000 hektar yang pada awal 1990-an ditetapkan sebagai areal konservasi gajah itu kini hampir tidak ada lagi karena sudah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Saat Kompas berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) di Sebanga, Duri, yang berjarak 125 kilometer dari Pekanbaru, Sabtu (3/4/2010), kawasan yang masuk dalam Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja itu hanya tersisa sekitar 50 hektar. Lahan itu pun sudah diklaim sebagai kepunyaan warga.

PLG Sebanga pada Juni 1992 disahkan Gubernur Riau sebagai kawasan konservasi gajah seluas 5.873 hektar. PLG merupakan satu kesatuan kawasan dengan SM Balai Raja. PLG dibuat untuk tempat melatih gajah, sementara SM Balai Raja lebih diperuntukkan sebagai lahan relokasi gajah yang saat itu mulai memasuki permukiman penduduk, seperti di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu, yang tidak jauh dari Sebanga.

Saat ini seluruh SM Balai Raja sudah hilang, sementara kawanan gajah tidak jadi direlokasi dan masih sering masuk permukiman penduduk. Continue reading

Elang Bondol di Kepulauan Seribu Belum Punah

“Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai ‘Maskot DKI Jakarta.’ Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara ‘Burung Elang Bondol’ sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet’. ‘Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata,’ ujar Budi”

Tulisan di atas adalah pernyataan yang menyatakan bahwa Elang Bondol(Haliastur indus) sudah punah. Tulisan tersebut saya dapat dari salah satu blog dan saya lupa apa itu nama blognya.

Kalau dibilang Elang bondol sudah punah, memang, tapi itu kalau dijakarta. terutama di deretan kalai2 yang ada di Jakarta. Tapi coba kita lihat di pasar2 burung yang ada dijakarta. Kita bisa sangat mudah sekali menjumpai nelang bondol yang diperjualbelikan. Harganya pun cukup mahal karena lebih dikenal dengan Elang Gudang Garam(sebagai bintang iklan bersama seorang pawang dan harimau).

Ironis memang, Elang yang sudah jelas-jelas menjadi maskot ibukota negara tercinta ini ternyata masih bebas dijual dipasar burung yang ada di Jakarta. Padahal di alam, jumlahnya makin menurun akibat perburuan untuk di perdagangkan. Tidak usah jauh-jauh. Di Kepulauan Seribu sendiri, yang masih di kawasan Jakarta kadang masih ada saja orang yang memelihara elang bondol. Terakhir saya dapat informasi dari teman saya minggu kemarin. Kebetulan teman saya bekerja di Pusat Rehabilitasi Elang di Kepulauan Seribu yang salah satunya adalah program penyelamatan Elang bondol. Dia menginformasikan ke saya kalau di salah satu pulau yang bersebelahan dengan kantor kabupaten, ada seorang warga yang memelihara elang bondol. Ironisnya, orang tersebut adalah seorang pengajara/Guru yang jelas-jelas pasti tau temtang hukum. Dan yang lebih membuat saya heran adalah bahwa orang tersebut memelihara elang itu sudah sekitar 5 tahun dan tidak ada tindakan dari petugas. Padahal Undang-undang yang menyatakan pelarangan terhadap kegiatan perburuan maupun pemeliharaan terhadap satwa yang dilindungi sudah jelas. Bahwa barang siapa melakukan Perburuan, Penangkapan,pemeliharaan dan memperniagakan satwa dilindungi dapat dikenakan tindakan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda uang sebesar Rp. 100.000.000(seratus juta rupiah). UU No.5 Tahun 1990.

Ketika mengetahui hal tersebut, Teman saya langsung menghubungi petugas dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu yang mempunyai wewenang untuk mengamankan elangf tersebut dari pemilik. Kata teman saya, awalnya para bapak-bapak petugas sangat geram dan langsung merespon laporanya. Dengan seragam Polisi kehutanan dan ada juga yang membawa senjata, mereka menuju ke rumah si pemelihara itu tadi. Tapi,… setelah sampai dirumah si pemelihara,… ngobrol2 dan hati para bapak2 petugas jadi melunak dan kedatangan hari itu tanpa hasil dan elang masih belum bisa di ambil. Sudah begitu, teman saya makin kesal. Langsung dia menghubungi Kepala balai selaku komandan mereka dan elang bondol baru bisa di ambil. Bapak… bapak… masa mau menegakan hukum harus dikasih omelan dari pimpinan dulu,……

Dari cerita teman saya itu, saya berfikir,… kenapa untuk masalah penegakan hukum di indonesia masih menganut rasa” gak enak akh! yang punyanya masih kerabat”…. aneh sekali.

Oke, kembali ke atas lagi. Bahwa tulisan yang menyatakan bahwa elang bondol sudah punah itu tidak benar. Yang lebih tepatnya adalah” Hampir punah”. Karena di kepulauan seribu sendiri masih ada dan dibeberapa daerah juga masih ada. Yang masih terbilang lumayan banyak populasinya adalah di Sumatera dab Kalimantan. Sedangkan untuk Jawa dan Bali sendiri jumlahnya sudah terbilang jarang.