Akhirnya, Leptogomphus lansbergei lansbergei

Akhirnya, si misterius ini ketemu juga identitasnya. Setelah menunggu jawaban dari para suhu mengenai Capung Ghoib ini akhirnya terjawab sudah. Dia punya nama Leptogomphus lansbergei lansbergei, anak jenis yang tersebar di Pulau Jawa. Jenis ini saya temukan di aliran air belakang Resort Cilimus, Taman Nasional Gunung Ciremai. Cerita penemuannya pernah saya ceritakan di Sini [ Leptogomphus sp ] . 

Kalau menurut para pemerhati capung, jenis ini memang minim catatan. Catatan pertama sepertinya mbah Lieftinck yang mengawali blusukannya nguber – nguber capung di Tanah Jawa dan sepertinya memang belum di deskripsikan dengan detil. Terima kasih kepada para suhu dari Indonesian Dragonfly Society yang sudah membantu identifikasi.

Betina

Female, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Male, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Male, Cilimus, Kuningan 15.3.14

Kuningan – Lesser Coucal

Nama Indonesianya adalah Bubut Alang-alang dengan nama ilmiah Centropus bengalensis. Jenis burung ini berasal dari keluarga Cuculida dan marga Centropus.  Nama lokal burung ini dikalangan masyarakat berbeda – beda. Ada yang bilang Dudud, Bubut, Tutut, dan lain sebagainya yang rata – rata nama diambil dari suaranya yang khas.

Foto ini saya dapat sewaktu kegiatan pemantauan Elang Jawa Nisaetus bartelsi di Pasawahan, Kuningan 23 April 2014 lalu. Burung ini muncul sehabis hujan. Mungkin bermaksud untuk mengeringkan bulu – bulunya.

Lesser Coucal Centropus bengalensis. Kuningan 23/4/2014

Lesser Coucal Centropus bengalensis. Kuningan 23/4/2014

Mayana – Black-winged Flycatcher-shrike

Mayana, Kadugede-Kuningan, 29.3.2014

Denga nama Indonesia Jingjing Batu, burung ini merupakan jenis pemakan serangga. Termasuk jenis burung yang tidak terlalu sensitif berdasarkan pengalaman saya. Nama ilmiahnya Hemipus hirundinaceus, umum di temukan di Pulau Jawa. Foto ini saya peroleh di Gunung(tepatnya bukit) Mayana, Kuningan pada saat pengamatan raptor di sana.

 

Jatan (Male), 29.3.2014

Jatan (Male), 29.3.2014

Betina(female), 29.3.2014

Betina(female), 29.3.2014

Jantan terlihat bertengger, 29.3.2014

Jantan terlihat bertengger, 29.3.2014

Cibeureum – Drepanosticta sundana Kruger, 1898

Di Cibeureum, Resort Cilimus baru ketemu dari Genus Drepanosticta ya sundana ini, belum nambah lagi. Tapi setidaknya ini menjadi catatan penting persebaran Drepanosticta sundana di Jawa. Di tempat lain, di Mayana saya dapet jenis ini yang sedang kawin.

Cibeureum, 07.3.14, Jantan

Cibeureum, 07.3.14, Jantan

Ini foto pertama yang saya foto di Cibeureum, Kuningan. Jantan

Cibeureum, 15.3.14. Betina

Cibeureum, 15.3.14. Betina

Betina dapet fotonya sewaktu dapet Leptogomphus sp.

Anggrek – Epipogium roseum (D.Don) Lindl.

Untuk sementara saya posting yang chibi-cibi dulu. Kali ini Anggrek saprofit dari genus Epipogium. Tahun lalu sempat terlewat untuk motret jenis Epipogium roseum yang ada di Merapi. Waktu itu bunga sudah rontok dan hanya tersisa batang. Alhamdulillah, bulan ini saya ketemu jenis ini di dua lokasi yang berbeda dengan tingkat bunga mekar yang berbeda. Pertama saya nemuin jenis ini di Taman Nasional Gunung Ciremai, blok Condang Amis dengan ketinggian 1.250 m dpl saat ikut survey Kehati. Sebenarnya saya bagian ambil data burung, tapi kalau ada anggrek ya saya ikutan motret juga. Kebetulan jalan bareng tim Anggrek dan Mamalia.

Taman Nasional Gunung Ciremai, 18/11/13

Taman Nasional Gunung Ciremai, 18/11/13

Ok, kalau sudah begini apakah anda sebagai orang awam sama seperti saya akan berpikir bahwa yang anda temukan itu adalah anggrek? Ketika anda hanya menemukan batang putih tumbuh dari umbi coklat dan tidak ada ciri maupun label yang bilang kalau itu anggrek. Hanya ketika kita bersama orang-orang yang tau dan paham betul tentang anggrek. Saya pun begitu, kalau jalan sendiri di hutan apalagi belum pernah lihat sebelumnya pasti akan cuek dengan apa yang saya lihat. Kecuali memang ciri anggreknya terlihat.

Taman Nasional Gunung Ciremai, 18/11/13

Taman Nasional Gunung Ciremai, 18/11/13

Di lokasi itu ada 3 individu yang terlihat mulai berbunga. Dan, setelah mata dibuka sambil pecicilan ternyata disekitar lokasi tumbuhnya bunga – bunga ini ternyata banyak yang sudah rontok dan tinggal batang yang banyak terinjak – injang pendaki. Kang Anwar Muzakir lah yang jadi mata bagi saya untuk anggrek di TNGC.

Berikutanya adalah ketika perjalanan saya ke Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, Jawa Timur,  bersama teman – teman dari Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam rangka cek keberadaan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di kawasan tersebut. Di selokan panjang peninggalan kekuasaan Jepang yang sudah dipenuhi dengan serasah yang menjadi media tumbuh si putih ini ada 3 individu yang sudah mekar penuh.

Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, 26/11/13

Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, 26/11/13

Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, 26/11/13

Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, 26/11/13

Epipogium, menurut Sulistyono (2011) dalam bukunya Anggrek Merapi, jenis ini merupakan anggrek yang tumbuh di daerah teduh dengan substrat yang kaya humus. Untuk bunga memang tidak pernah mekar penuh, umumnya terpolinasi sendiri. 

Ciremai – Crested-serpent Eagle

Sebenarnya ini bukan sebuah kejutan yang gimana – gimana. Awalya saya pikir yang bertengger. Adalah Kus, anak SMK Kehutanan yang sedang PKL yang lebih dulu melihat burung ini sedang bertengger. ” Ayo mas, bawa kameranya. ada elang bertengger”. Gak pikir panjang saya langsung ambil kamera dan ikut dengan dia naik motor. Hati sudah senang duluan. Berharap Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang bertengger. Setelah mendekat ternyata Elang-ular Bido (Spilornis cheela).

Nama : Elang-ular Bido / Scientific Name: Spilornis cheela/ Lokasi: Blok Seda, Resort Mandirancan.

Elangular Bido-Ciremai-aap-1Lumayan lah masih dapet yang bertengger. Mungkin merasa terusik degan kedatangan saya maka hanya beberapa jepretan saja dia pindah pohon tidur