Kalipagu, 30 Ramadhan 1435 H

Prepegan, sebuah istilah di kalangan masyarakat Jawa menamai hari terakhir puasa ramadhan. Ada apa pada hari prepegan? Pada hari itu hampir semua pasar dan pusat perbelanjaan bisa di pastikan penuh orang berbelanja. Dari yang berbelanja kulit ketupat, sampai keperluan untuk berlebaran. Dari yang kecil sampai yang besar. Dan biasanya harga-harga dipastikan naik.

Kita tinggalkan mereka yang di Pasar. Hari terakhir puasa ramadhan 1435 Hijriah kemarin saya dan dua teman orang teman memutuskan untuk pergi ke Kalipagu. Sebuah tempat yang sangat pas bagi yang hendak menyepi dari ramainya kota, juga bagi yang ingin menghirup segarnya udara lereng selatan Gunung Slamet. Bagi sebagian orang Purwokerto kalipagu mungkin sudah tak asing lagi. Apa lagi bagi kalangan fotografer alam liar dan pengamat burung. Lokasinya berada di sebelah barat Pancuran Tujuh, Baturaden. Ya, selain pancuran tujuh, kawasan Kalipagu juga terkenal sebagai lokasi Camping dan wisata alamnya.

Oke, sepertinya cukup sedikit prolog dari postingan ini. Intinya adalah hari itu Saya, Apris dan Asyief pergi ke Kalipagu untuk hunting foto. Ya, hunting foto. Target? Apa aja yang penting bisa melepas rasa suntuk karena terlalu lama berdiam diri di rumah dan mulai tidak produktif. Kami berangkat dari markas Biodiversity Society pukul 09:00 waktu Pabuaran, Purwokerto. Padahal janjiannya jam 07:30 kumpul. Manusia memang boleh punya rencana, tapi tetap Gusti Alloh ingkang Moho Agung ingkang ngijabah. Ndilalah Apris kebablas tidur sampe jam sembilan.

Kalipagu hari itu sepi. Jalur ke pancuran tujuh pun sepi. Tidak nampak ada aktifitas kegiatan wisatawan yang berkunjung. Mungkin sedang ikut prepegan ke pasar beli daging dan cangkang kupat. Sudah jadi hukumnya kalau ada jalan menanjak pasti ada jalanan menurun. Itu pun ada di Kalipagu. Anak tangga itu tampak panjang. Ah, bisa dipastikan pulang nanti akan tarik napas lebih panjang dari tadi berangkat. Saya coba dokumenasikan gambaran panjang tangganya karena saya juga ndak menghitung ada berapa banyak anak tangga itu.

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tangga menuju Pancuran Tujuh. Kalipagu, 27.7.2014

Tampak tiga individu Elangular Bido Spilornis cheela terbang berputar tapi enggan mendekat. Hanya Kadal (Mabuya sp) sedang berjemur, kupu – kupu jenis Melanitis leda, Junonia almana dan Eurema sp yang jadi model pertama kami. Sebelumnya, saya sudah pernah mengunjungi tempat ini yakni dua tahun lalu. Waktu itu kami melakukan pengamatan Owa Jawa Hylobates moloch. Nah, pada kunjungan di akhir ramadhan kami tidak lagi mengunjungi lokasi bermain Owa Jawa, tapi kami langsung menuju sumber air dengan target (akhirnya punya target) jenis capung. Syukur – syukur bisa nemu anggrek liar yang sedang berbunga.

Oia,. Bagi yang suka berburu bangunan lama peninggalan zaman penjajahan dulu, Kalipagu pun menarik untuk dijadikan lokasi hunting. Saluran air disana dibangun pada zaman penjajahan belanda. Pondasi – pondasi saluran air itu masih terlihat kuat. Begitu juga dengan Dam penampung air yang saat ini dijadikan penampungan air Indonesia Power PLTA Ketenger, Banyumas. Kolam penampungan itu di bangun pada tahun 1938.

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Kolam Penampungan Air dengan tahun pembuatan 1938

Elang Jawa dan Drepanosticta

Dalam perjalanan kami menuju pancuran tujuh tiba – tiba terdengar suara yang  sudah tak asing di telinga saya. Meski suara itu terdengar samar tapi jelas itu suara siapa.

“ Suara elang jawa bro!”. Kata saya.

“ Endi? Udu lah “. Jawab apris yang artinya “Mana? Bukan lah”.

Tapi suara itu terus terdengar dan makin jelas ketika kami sedikit demi sedikit kami berjalan menuju pancuran tujuh. Saya coba cari lokasi si pemilik suara itu menggunakan Binocullar yang saya bawa. Dan benar dugaan saya. Individu dewasa Elang Jawa Nisaetus bartelsi bertengger di dahan kering pada pohon tinggi tapi jauuuhhhhhhh,…

“Oke, kita dekati si doi!”. Dan kami pun mencoba mencari jalur untuk mendekati pohon tempat si Jambul itu bertengger.

Demi si jambul, blusukan pun kami lakonni yang penting foto bisa diperoleh. Menerka – nerka jalur dan posisi pohon tempat bertengger pun kami lakukan. Rasa percaya diri yang tinggi dan tentunya penuh perhitungan adalah modal utama hunting foto di alam. Tapi untungnya Apris menguasai medan di Kalipagu, jadi saya tambah PeDe. Sambil mengawasi dan mengamati pohon tinggi kami juga mengamati tebing sisi jalan yang kami lewati. Apa lagi tebing itu lembab dan di beberapa bagian mengalir air. Tempat kesukaan Capung Jarum dari jenis Drepanosticta, Capung langka dari Jawa.

Memang, yang namanya hoki itu tidak pilih – pilih siapa yang bakal memperolehnya. Individu jantan Drepanosticta spatulifera bertengger pada rumput yang tumbuh di tebing sisi jalan. Seketika usaha mengejar elang jawa berhenti karena si Drepa. Seolah kami sudah merelakan elang jawa itu terbang pindah pohon tengger. Si kecil hitam dengan ujung abdomen biru itu seperti menyihir kami untuk berhenti dan memotretnya. Elang jawa membawa kami pada si drepa.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Apris menunjukan posisi Drepanosticta bertengger.

Sesi pemotretan selesai dan kami kembali melanjutkan mendekati lokasi pohon dimana elja itu bertengger. Tidak ada petunjuk yang meyakinkan posisi pohon itu. Kami hanya menerka dan memutuskan untuk sedikit masuk ke dalam. Meskipun pada akhirnya kami menemukan jalan buntu dan pohon itu tidak kami temukan. Sedikit ngos – ngosan dan ngap – ngapan kami mengawasi setiap pohon tnggi dan hasilnya nihil dan Kami pun memutuskan untuk kembali turun. Lupakan elja itu, kita cari lagi lain waktu dilokasi yang sama.

Hari itu memang tidak maksimal. Waktu hunting hanya tiga jam karena kesiangan. Mungkin kalau kami berangkat lebih awal bisa dapat object lebih banyak dari yang kami dapatkan hari itu. Tapi itu pun tidak jadi masalah bagi kami. Yang penting sudah berusaha.

Berikut adalah foto Satwaliar yang berhasil terdokumentasikan. Klik Foto untuk memperbesar masing-masing foto:

Fluffy Tit (Zeltus amasa maximinianus)

Fluffy Tit Zeltus amasa maximinianus Fruhstorfer, 1912

Merupakan jenis dari suku Lycaenidae. Kupu cantik dengan bulu menjuntai kebelakang layaknya dua buah ekor yang menyatu dengan sayap. Kemungkinan kegunaan ekor adalah untuk mengecoh predator pada saat kedua sayapnya membuka karena hampir mirip dengan antena di kepalanya.

Location : Suaka Elang

Continue reading

Dibuang Sayang

Kalau yang cantik dibuang itu ya sayang lah. Jangankan dibuang, dibiarin begitu saja juga sayang. Dia, bahkan mereka semua bukan target saya sampai saya harus ke Thailand. Tapi keindahan dan kecantikan tubuhnya itu sayang untk dilewatkan begitu saja. Kupu-kupu indentik dengan kecantikan. Warna dan corak yang begitu indah membuat jenis ini mendapat hati dari sebagian besar penghuni bumi ini.

Si Cantik yang tentunya punya peran penting kenapa mereka di ciptakan. Tentunya Gusti Ingkang Maha Agung, Gusti Allah, menghadirkan mereka ke dunia ini, di antara manusia-manusia seperti kita ini tentunya ada manfaatnya. Salah satunya untuk saya Foto,.. hehehe,.. Bukan, banyak sekali yang kita sendiri harus banyak mempelajarinya.  Continue reading

Oleh-oleh dari hutan Way Rilau, Lampung

Lama rasanya tidak menulis walaupun hanya sekedar tulisan yang tidak ada junturungane.. Ternyata ide untuk menulis itu hilang seketika ketika berada di depan komputer. Apa karena laporan meunggu dan sudah di kejar deadline?..

Tapi untuk beberapa foto, aku mencoba untuk memilah-milah mana yang sekiranya bisa saya bagi dengan teman-teman. Sebenarnya sih, banyak bahan yang bisa dijadikan satu bahkan bisa lebih utuk sebuah artikel. Salah satunya adalah tentang Seriwang Asia yang pada akhirnya saya bisa melihat secara langsung dengan jarak yang tidak jauh karena tanpa menggunakan alat bantu seperti Binokullare pun masih bisa melihat dengan detil. Tapi kok ya cuma mentok sampe disini?..

Continue reading