Radar Hill, Aku akan datang kepadamu,..

Radar Hill dan baza hitam

Radar hill adalah lokasi pengamatan rapto migrant yang sudah menjadi lokasi tetap bagi kawan-kawan di Thai Raptor Group setiap tahunya. Radar Hill sendiri yang masuk dalam pengelolaan Thailand Authority of Telecommunication and Royal Thai Army itu berada di Provinsi Prachuap Khiri Kan di Thailand bagian selatan.

Kalau tidak ada aral melintang maka pada tanggal 10 September sampai 13 November saya akan berada disana untuk ikut memantau para pengembara dari utara itu. Tahun kemarin saya mencoba iseng-iseng mengutarakan keinginan saya ke Dr. Chaiyan yang menjadi kordinator pemantauan disana kalau saya ingin sekali belajar disana. Dan, beberapa minggu yang lalu dapat konfirmasi kalau saya bisa berangkat ke sana. Continue reading

Elangalap Cina

 

Elang-alap Cina Accipiter soloensis Horsfield, 1821.

 

Berukuran kecil. Panjang tubuh 27-35 cm, Rentang Sayap 52-62 cmdan berat tubuh untuk individu jantan 140 gram dan Betina 204 gram.
Dewasa: ” Tubuh bagian atas berwarna abu-abu gelap”. Tubuh bagian bawah umumnya putih”. Tenggorokan dan sisi perut berwarna merah muda hingga coklat kekuning kuningan” dan ”Bulu prmer yang kehitaman” merupakan ciri yang membedakannya dari jenis lain. Individu jantan dan betina umumnya sama, bagian dada punggungnya lebih kecoklatan dan lebih pudar, bagian dada dan sisi perut berwarna merah karat tipis hingga coklat kekuningan dengan gars lengkung ke bawah dan melintang. Mata coklat tua hingga merah tua. Continue reading

Workshop International Migrasi Raptor di Asia

”Nilai penting Indonesia untuk Raptors di Asia”
Bogor, 24 Februari 2011

 

Brosur Workshop

Raptor adalah istilah lain atau terminoligi untuk sebuah komunitas burung pemangsa, bahasa Indonesia lebih menyebutnya dengan elang. Keberadaannya selalu menarik untuk diperhatikan baik mengenai kehidupannya maupun hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Sebagai Top Predator dalam piramida makanan menjadikan keberadaan dan fungsi raptor sangat penting sebagai penyeimbang ekosistem sebuah kawasan, sehingga sebagian besar masyarakat di Indonesia telah mengenal jenis burung ini sejak lama dalam kehidupan sehari-hari dengan istilah Garuda, Rajawali, Jatayu dan sebagainya. 

Continue reading

Sang Pengembara Yang Terdampar

Minggu 24 Mei 2009 di saat saya sedang berada di kantor teman saya di daerah Warung Jambu tiba-tiba saja HP saya bunyi. Nomer yang masuk saya tidak kenal. Saya angkat itu telephone yang masuk. Siapa tau itu penting. Ternyata teman saya yang di ujung telephone.

“Ini ada elang dari BKSDA mau di masukin di kandang mana?”. Kata teman saya begitu saya angkat telephonenya.

“Lha,.. emange kita punya kandang untuk elang?”. Saya balik nanya.

“Lha terus mau ditaruh dimana?”

“Taruh di Klinik saja pakai kandang angkut aluminium yang besar. Besok kita bikinkan dia kandang. Sekarang kondisinya seperti apa?”.

“Sekarang masih di Dus aqua. Kasihan ini”.

“Ya sudah cepetan dikeluarin dan masukan ke kandang yang lebih besaran.”

Teman saya yang menelephon tidak tau itu elang jenisnya apa. Sebelumnya saya sudah bicara dengan teman saya yang lain kalau ternyata setelah di cek ke lokasi dimana elang itu di jual ternyata itu Sikep Madu Asia(Pernis ptylorhinchus). Jenis ini ada yang penetap dan ada juga yang melakukan migrasi setiap tahunya. Menurut cerita teman saya sikep madu yang ini merupakan jenis yang melakukan migrasi.

Sikep Madu Asia yang berhasil di selamatkan dari pedagang di samping Kebun Raya Bogor ini kemungkinan merupakan jenis yang melakukan Migrasi. Kalau benar berarti tidak menutup kemungkinan ketika musim Migrasi Raptor pada bulan September-November(arus datang) dan Maret-Mei(arus balik) banyak pemburu yang melakukan perburuan terhadap jenis raptor yang melakukan migrasi. Saya dulu sempat dengar cerita kenapa pemburu lebih sendang berburu raptor yang bermigrasi itu karena lebih mudah. Kenapa lebih mudah? karena jumlahnya yang begitu banyak sampai ratusan bahkan ribuan itu akan lebih memudahkan pemburu untuk menangkapnya.

Keesokan harinya(Hari ini, 25/05) saya coba untuk memastikan apa benar jenisnya itu. Sikep Madu Asia. Dan ternyata benar. Saya dan teman saya yang dari paramedis langsung menyiapkan kandang yang lebih besar dengan menggunakan jaring nylon yang biasa di pakai untuk elang juga. Kebetulan masih ada bekas yang dulu di pakai untuk ELang Laut Perut Putih(Haliaeetus leucogaster).

Persiapan pembuatan kandang segera dilakukan. Mulai dari jaring, bambu sampai tali-tali pengikat jaring di siapkan. Pembuatan kandang untuk sang pengembara ini ternyata tidak memakan waktu yang cukup lama. Hanya sekitar satu jam semuanya beres.

Pemindahan dari kandang di klinik ke kaandang yang lebih besar langsung dilakukan. Hal itu untuk mengurangi tingkat stress si elang itu sendiri. Sebelum dipindah ke kandang yang baru selesai di buat, terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badan dan pengecekan bulu-bulu sayap. Dari penimbangan berat badan itu diketahui hasilnya yaitu 1,1kg dan kondisi bulu-bulu pada masing-masing sayapnya cukup bagus. Selesai itu semua langsung si elang dipindah ke kandang yang lebih besar.

Begitu dimasukan kedalam kandang, si elang masih terlihat bingung. Dia diam ditanah dan matanya jelalatan melihat orang-orang yang berada di sekitar kandang. Akhirnya kami putuskan untuk menjauh dari kandang. Kondisinya masih sama. Belum mau beranjak dari tanah. Dia malah naik-naik ke jaring kandang. kadang dia menggantung menggunakan kakinya. wow,.. ternyata si pengembara yang seharusnya sudah kembali ke tempat asalnya dari benua baian utara ini masih sangat stress.

semoga setelah menjalani pemeriksaan medis, si pengembara ini bisa dibawa ke Raptor Sanctuary untuk mendapatkan kandang yang lebih besar dan pelatihan sehingga di musim migrasi yang akan datang bisa dilepas kembali dan dia bisa bergabung dangan kawanan raptor lainya yang juga sedang melakukan migrasi.