Bali, Dari Gunung Hingga Pantai Semua Tentang Burung

Minggu lalu dari hari Rabu hingga hari Jum’at tiba – tiba saya berada Bali. Padahal tidak ada perencanaan saya berangkat ke sana. Bahkan rencana saya ke Bukit Sega lokasi pengamatan raptor migran paling ciamik untuk migrasi jalur barat Indonesia harus gagal. Lha kok yo ndilalah ada pekerjaan harus nemenin Kameramen + Reporter dari SCTV liputan ke bali. Idenya datang ketika kami bertemu hari Senin (3/11/14), diskusi ide liputan Burung Migran, di sepakati selasa (4/11/14) berangkat ke Bali.

Berangkatlah kami dari Yogyakarta menggunakan mobil yang sudah pasti si kameramenlah yang bakal nyetir PP Yogyakarta – Bali dan Bali – Yogyakarta dikarenakan saya cuma bisa setir kiri. Setelah melewati beberapa kota dari Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur kami masuk ke Pulau Bali pukul 04.00 WITA dan langsung menuju ke Karangasem. Lokasi yang kami tuju adalah bukit sega. Di sana kami akan melakukan liputan migrasi burung pemangsa (raptor) dan mewawancarai salah satu pengamat raptor migran di bukit sega sembari bekerja di Stasiun Riley TVRI. Kalau di pikir – pikir ini seperti jalan Alloh untuk saya bisa kembali menyambangi bukit sega sama seperti tahun lalu.

Sekitar jam duaan kami sampai di Sega. Pak Dono Waluyo, narasumber yang akan kami wawancarai sudah menunggu sembari mengamati raptor migran yang melintas. Menurut beliau sedari jam duabelas siang sudah sekitar 300an individu Accipiter yang di dominasi Accipiter soloensis atau dalam nama indonesia Elangalap Cina. Lumayan lah masih ada harapan bisa dapat gambar yang flocking.

Burung – burung itu kembali muncul sekitar jam tiga. Masih lumayan panas dan butuh kacamata hitam untuk menangkal sinar matahari dari barat. Sembari pengamatan dan liputan, wawancara dibuat seperti sedang mengobrol dan diskusi sehingga tidak kaku. Sore itu lumayan banyak dan catatan yang menarik adalah Elang Kelabu (Butastur indicus) tiga individu yang berbaur dengan Elangalap Cina. Sikepmadu Asia (Pernis ptilorhyncus orientalis) dan Elangalap Jepang (Accipiter gularis) juga ikut menyemarakan langit Sega sore itu.

Bukit sega kalau menurut saya memang secara topography landsecap cukup mendukung untuk jalur migrasi. Sisi timur langsung laut lepas sehingga hembusan angin lebih tinggi dan sebelah barat adalah Gunung Agung dimana semua individu dan jenis raptor, kemungkinan, menggunakan kawasan itu sebagai persinggahannya sebelum melanjutkan perjalanan migrasinya melintas sega dan langsung menuju selat Lombok.

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

View Gunung Agung dari Sega. 5.11.14

Pulau Serangan, Terminal burung pantai dan air

Setelah sega, lokasi selanjutnya adalah Pulau Serangan. Sebuah kawasan pulau yang kemudian di reklamasi justru sekarang ini menjadi tempat singgah burung pantai migran. Bahkan untuk 2013 banyak individu yang dijumpai dengan bulu berbiak ada di sana. Serangan pun menjadi salah satu lokasi yang menjadi target lokasi pengamatan burung dalam list saya. Alhamdulillah kesampaian juga saya menyambangi lokasi itu. Kali ini saya tidak tiarap seperti di Trisik,..

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Foto wajib kalau pengamatan/hunting. Di mana pun dan kapan pun

Ditemani Udhyn, kawan lama saya yang sudah lama juga tidak bertemu. Kalau tidak salah ya sekitar 2005an kami terakhir bertemu yakni di PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Tegal Alur, Jakarta Barat. Setelah itu baru kemarin (6/11/14) kami bertemu kembali. Dipertemukan oleh burung di Pulau Dewata. Pulau serangan menjadi roosting dan wintering site beberapa jenis burung pantai migran dan beberapa jenis burung air. Tidak dapat saya sebutkan jenisnya satu per satu di sini, yang jelas banyak. ( foto lihat di galeri bawah ). 

Gajahan Pengala sore itu kembali dibagi menjadi beberapa kelompok kedatangan. Ratusan hingga ribuan pada masing – masing rombongan membawa suasana sore menjadi semakin mengasikan. Ya, meskipun saya tidak dapat foto bagus tak mengapa. Keinginan menyambangi Serangan dan mendapat jenis baru yakni Kedidi Ekor Tajam atau dalam nama inggris disebut Sharp-tailed Stint , Pelikan Australia, Pecuk padi Belang, Gajahan Timur dan beberapa jenis yang lain itu sudah lebih dari cukup.

Oia,. hari itu kami ke Serangan tujuannya sama seperti kami ke Sega. Untuk liputan burung migran. Kali ini narasumbernya adalah Udhyn. Dia bererita mengenai jenis – jenis burung pantai migran yang ada di serangan. Ups,.. ada satu yang menarik adalah di Serangan juga menjadi lokasi singgah Pelikan Australia yang mana sebelumnya tidak ada catatan jenis ini di bali. Jenis burung Pecuk padi pun sangat melimpah di Serangan. Dan, kalau mendengar cerita udhyn, terlalu banyak jenis burung di serangan dan pasti akan susah mengingatnya.

Pulau serangan yang berada di dekat Pelabuhan Tanjung Benoa dan dekat dengan jalan By pass Ngurah Rain sangatlah mudah untuk diakses. Jadi bagi anda kawan semua yang punya hobi fotografi burung dan pengamatan burung bisa menuju ke serangan. Lokasi yang sangat bagus untuk belajar identifikasi jenis burung pantai.

Sunset di Pulau Serangan

Sunset di Pulau Serangan

Selain burung pantai, lokasi tersebut kerap dikunjungi wisatawan hanya untuk melihat matahari terbenam (sunset) pun cukup bagus. Foto diatas sayang pake kamera prosumer sehingga hasilnya kurang bagus. Kalau yang di pakai kamera Pro hasilnya pasti cetar membahana,.

Pesona si Hitam dan Pemburu Madu

Ngamatin si hitam

Kamis 10/01. Saya, Gunawan dan Slamet jalan ke Kawasan Gunung Salak untuk pengamatan Raptor. Kami berangkat setelah sebelumnya menyempatkan untuk makan pagi dan ngopi dirumah Gunawan. Tujuan kami adalah untuk survey Raptor di Kawasan Gunung Salak. Selama ini data Raptor di Taman Nasioal Gunung Halimun Salak masih terbatas di sekitaran Halimun atau Koridor Halimun-Salak saja. Belum menyentuh kawasan sekitar Ciapus.

Kebetulan hari itu saya sedang tidak bekerja di tempat saya bekerja alias sedang libur jadi bisa jalan-jalan untuk melihat Raptor.

Untuk mendapat arah pandang yang cukup lega dan strategis bisa melihat ke segala arah kami sempat bingung karena hampir semua tempat di tanami Pohon Pisang dan Tanaman Sayuran. Kami terus berjalan walapun “menggeh-menggeh” dan Ngos-ngosan kami terus mencari tempat yang lumayan bagus.

Continue reading

Dari Elang Jawa menjadi Elang Brontok kemudian di Sulap Menjadi Elang Hitam

photo by Iwan Londo

Photo by Iwan Londo

Dari Elang Jawa Spizaetus bartelsi , jadi Elang Brontok Spizaetus cirrhatus kemudia disulap menjadi Elang Hitam Ictinaetus malayensis? Hebat banget ya si penyulap itu? Pasti akan berpikiran seperti itu. Kata-kata disulap ini saya ambil dari salah satu judul tulisan salah satu blogger yang bekerja jadi Pengendali Ekosistem Hutan(PEH) di Taman Nasional Baluran. Sebuah beban tanggung jawab yang sangat besar. Dia sebagai Pengendali Ekosistem Hutan dengan tanggung jawabnya jawabnya yang begitu besar masih bisa ngeblog sudah pasti hebat. Gimana tidak hebat coba,.. bayangin saja lha wong mengendalikan hawa napsunya sendiri saja belum tentu bisa, nah ini, dia sampai harus mengendalikan ekosistem hutan, wes dah pasti hebat,… hehehe,.. (ayo arep komentar opo masbro swiss?),..

Gimana ceritanya kok elang brontok bisa disulap jadi elang hitam?.. jadi begini ceriteranya.

Tanggal 4-5 Juli kami(saya dan beberapa teman pengamat burung yang ada di bogor) melakukan pengamatan bersama di kawasan Suaka Elang yang berada di Resorts Salak I Seksi Konservasi Wilayah Bogor Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di lokasi para pemburu burung ini karena lumayan banyak(11-an orang) maka di bagi menjadi 2 tim. Nah,.. pas hari kedua kira-kira sekitar jam 8(delapan) waktu suaka elang tim pertama(kebetulan saya di tim pertama) melihat satu ekor Elang terbang sangat rendah. Namanya juga penggila burung sudah pasti matanya langsung pada jelalatan. Bagi yang membawa Kamera dengan perbesaran lensa yang mumpuni untuk mengabadikan  elang tersebut langsung lari kea rah elang itu terbang, dan kebetulan elang tersebut menyempatkan untuk soaring jadi masih bisa di foto walaupun hasilnya masih kurang bagus.

Continue reading

Lima ekor Elang di Pulau Panaitan TN. Ujung Kulon

Tanggal 30 Juli 2009 merupakan perjalanan yang mengasikan juga merupakan perjalanan yang membuat badan lumayan lelah. sebelumnya, lebih kurang 8(delapan) jam perjalanan yang ditempuh dari Bogor menuju Sumur, Ujung Kulon, Propinsi Banten. Perjalanan itu kemudian dilanjutkan ke Pulau Panaitan Taman Nasional Ujung Kulon menggunakan kapal Motor dari Balai Taman Nasional.

Perjalanan kali ini adalah dalam rangka untuk Pelepasliaran kembali Monyet Ekor Panjang(Macaca fascicularis) dari International Animal Rescue Indonesia yang akan dilepasliarkan pada tanggal 1 Agustus 2009. Kebetulan saya ikut menjadi tim Monitoring ketika monyet ekor panjang itu dilepas nantinya.

peta1_bigPulau Panaitan merupakan wilayah yang masuk dalam Seksi Pengelolaan 1 Taman Nasional Ujung Kulon dengan luasan kawasan 17.500 hektare dengan kondisi hutan yang masih cukup bagus. Menurut sejarah pengelolaan kawasan TNUK, Pulau panaitan dibagi menjadi 3 Resort Pengelolaan yaitu Legon Butun, Legon Bajo dan Legon Kadam. Selain keragaman ekosistem hutan yang masih perawan, pulau panaitan juga mempunyai lokasi-lokasi wisata lainya yang sering di kunjungi para wisatawan baik Domestik maupun wisatawan asing. Untuk kegiatan Penyelaman(Diving) juga bisa dilakukan di sekitaran kawasan laut Pulau Panaitan. Yang menarik di pulau panaitan khususnya bagi para penggiat kegiatan olahraga Surfing bisa di lokasi Legon Bajo yang di sebut sebagai One Palm point.

Continue reading

Menyusuri Kali cibadak Memburu Burung

Kamis, 18 Juni 2009
Pulang dari lokasi kerja di sekitaran Kawasan Curug Nangka sekitar jam 8 pagi karena kebetulan malamnya malas pulang. Pagi setelah mandi bingung mau ngapain dan tempat yang menjadi tujuan kalau sedang bingung gak tau mau ngapain paling kost temen yang kebetulan dekat dengan kostku.
Ternyata temenku juga mau pergi.
“Ikut aja yuk ke suaka elang. Lagian ngapain juga dirumah ga ada teman”. Ajak temenku, Gunawan.
“ Ya lah,.. Eh,.. sekalian pengamatan burung yuk!”. Kataku
“ Ya udah”.
Tadinya sih aku Cuma mau nitip kuitansi untuk di tanda tangani salah seorang yang ada di suaka elang yang waktu pelatihan RAIN jadi penanggung jawab untuk Konsumsi peserta.
Akhirnya aku pun beranjak pulang untuk ganti pakaian lapang sekalian mengambil sepeda motorku yang akan selalu siap mengantar kemanapun si empunya pergi kecuali ke kamar mandi,.. hehehehee,…
Buku catatan kecil beserta pensil, kemudian Binocullare tak lupa aku siapkan dan segera ku masukan ke dalam tas sebagai perlengkapan pengamatan. Setelah semua beres dan sepertinya sudah tidak ada yang tertinggal, langsung saja si Shogun SP yang angsuran kreditnya belum lunas itu pun aku hidupkan dan siap berangkat. Akhirnya setelah semua beres untuk persiapan pengamatan burung kami pun berangkat menuju lokasi suaka elang di Loji, Kecamatan Cogombong, Bogor.
Perjalanan dengan kondisi jalan yang naik turun kami tempuh kurang lebih satu jam dan kami pun sampai di lokasi.
Sekitar Pukul 11.10 wib kami mulai menyusuri Sungai Kecil yang menuju Curug Cibadak untuk pengamatan burung. Baru saja mau turun ke Sungai, di atas kanopi tanaman hutan Pinus seekor Elang Jawa(Spizaetus bartelsi) yang masih berwarna cokelat terang sedang soaring. Kami pun langsung mengarahkan Bino kami kea rah dimana si elja muda itu soaring. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Baru mau mulai pengamatn sudah di sambut si elja yang menjadi mascot Negara kita tercinta. Hanya beberapa kali putaran akhirnya si elja menghilang ke balik bukit dan kami pun melanjutkan perjalanan kami menyusuri kali cibadak yang batunya besar-besar dan airnya yang sangat jernih sampai-sampai dasar air itu terlihat.
Suara riuh burung Cucak Kutilang(Pycnonotus aurigaster) riuh terdengar saling saut sautan satu sama lain menambah suasana hutan begitu terasa.
“ Kemarin disini ada Meninting Kecil”. Kata gunawan. Burung kecil dengan warna bulu hitam dengan garis putih di kepala, sayap dan corak-corak putih pada ekornya itu mempunyai nama latin,Enicurus velatus,itu memang sungguh indah menurut keterangan beberapa teman saya yang sudah pernah melihat. Saya yang belum pernah melihat langsung dan hanya mendengar suaranya jadi penasaran. Seperti apa sih bentuknya?.. Belum juga jalan begitu jauh si meninting terlihat di antara semak dan terbang ke batu besar di depan kami dan menghilang. Meninting Kecil itu seperti Guide perjalanan kami menuju Curug Cibadak. Ia kadang muncul di depan kami hanya beberapa meter kemudian meghilang lagi.
Setelah mengamati beberapa burung semak kami berhenti sebentar untuk istirahat. Kami yang sedang duduk-duduk sambil sesekali melihat ke pepohonan kemabli di suguhi pemandangan si elja yang sedang soaring dan mengeluarkan suara khasnya. Tidak lama soaring ia menukik seperti hendak menangkap burung kecil makanan kesuakaannya. wussshhh…. ia menukik begitu cepat dan bertengger di salah satu pohon yang saya sendiri tidak tau pohon apa itu. Si elja hinggap di situ dan mengeluarkan suaranya yang begitu melengking. Tidak lam bertengger ia terbang lagi dan sepertinya perburuannya kali ini gagal soalnya ketika ia terbang sepengawasan kami ia tidak membawa hasil buruanya. Puas mengamati aksi si elja kami pun melanjutkan kembali perjalanan menyususi Kali Cibadak.
Empat Puluh Menit perjalanan dari Information center suaka elang kami di suguhi seekor Beluk Jampuk(Bubo sumatranus) yang begitu gagah. Sebelum kami melihat langsung, gunawan sudah melihat seekor elang besar terbang dari pohon dimana ia bertengger dan ternyata itu si beluk jampuk yang di ganggu oleh Srigunting Kelabu(Dicrurus leucophaeus leucophaeus). Si Bubo, begitu kami berempat menyebutnya. Kami jadi berempat saat pengamatan karena ditemani oleh salah satu Polhut TNGHS.
Selain elang, bubo dan srigunting yang suka mengganggu burung yang lebih besar terutama elang itu, terlihat beberapa burung Kacamata Gunung(Zosterops montanus) asik terbang saling kejar-kejaran dengan teman sejenisnya. Sekitar sepertiga perjalanan, kami menemukan sebuah sarang elang yang sudah tidak lagi di pergunakan. Hal itu di tunjukan dengan adanya tumbuhan yang tumbuh di sarang tersebut. Kemungkinan si empunya sarang itu memutuskan untuk pindah pada pohon lain karena ada aktifitas manusia yang membuat Bak Air di bawah pohon(sejenis ficus) yang dijadikan tempat untuk bersarang. Merasa ada gangguan dari aktifitas pembuatan bak air itu akhirnya si elang itu pun pergi meninggalkan sarangnya.
Sepanjang perjalanan menuju curug kami seperti di tuntun oleh si meninting kecil yang kadang mundul kemudian menghilang di antara bebatuan. Satu jam lebih perjalanan menyusuri sungai dengan batu-batu besar akhirnya kami sampai di Curug Cibadak. Hawa sejuk dan suara gemerujug air menghantam bebatuan menambah suasana menjadi lebih lengkap. Rasa tak sabar ingin segera masuk kedalam air yang begitu jernih akhirnya dapat sedikit terobati dengan tingkah laku meninting kecil yang malu-malu meloncat-loncat di atas batu besar yang jaraknya sekitar 5meter dari arah kami istirahat.
Byurrrr,….. mmggghhhh,… duingiiiiinnnnnnnn,…. Gak lebih satu menit masuk ke air dan keluar lagi. Air yang tertampung di sebuah batu besar itu begitu dingin. sekitar 15menit saya dan satu teman saya menikmati dinginya air curug cibadak. Karena tak tahan dengan dinginya air curug itu saya memutuskan untuk menyudahi main basah-basahan.
Duapuluhan menit cukup untuk kami menikmati indahnya Curug Cibadak dan memutuskan untuk kembali ke bawah. Tapi sayang, Curug yang harusnya tetap indah dan bersih sedikit terganggu pemandangannya dengan adanya beberapa bungkus plastic bekas makanan kecil yang di tinggal oleh pemiliknya. Hampir disepanjang jalan kami turun kami melihat beberapa plastic dan kain berserakan mengotori jalur menuju curug tersebut.
Di pertengahan menuju pulang ada sebuah shelter dan kami pun istirahat sebentar. Kebetulan ada pohon jambu air. Melihat pohonya sedang berbuah, teman saya, Mono, langsung naik. saya bertiga tetap duduk di shelter. Suara burung begitu jelas terdengar di samping kami. Setelah mencoba mencari dari mana arah suara itu akhirnya yang punya suara itu keluar dari semak-semak. Seekor burung kecil dengan warna jingga di kening dan dada bertengger pada ranting-ranting kecil. Jaraknya hanya sekitar dua meter dari tempat kami duduk. Setelah di cocokan dengan gambar yang ada di fieldguide ternyata itu jenis Tukik Tikus(Sasia abnormis). Si tukik tikus itu pergi di gantikan dengan pemandangan seekor Sikep Madu Asia(Pernis ptilorhynchus ptilorhynchus) sedang soaring. Tapi si OHB begitu kami menyebutnya, tidak lama memperlihatkan keanggunanya di udara pada kami karena dia langsung menghilang ke balik bukit.
Sepertinya cuaca sudah mulai tidak mendukung untuk kamii berlama-lama di atas dan kami pun bergegas turun. Jalan berbatu hasil susunan penduduk local cukup membuat kaki-kaki saya pegal karena susunan batu itu tidak sama rata. Ada yang tinggi dan ada yang rendah.
Tiga jam perjalanan pergi pulang antara Information center dengan curug bukan waktu yang lama karena perjalanan kami cukup menyenangkan dengan berbagai burung yang menemani perjalanan kami. Akhirnya, yang di pagi hari bingung mau ngapain, dapat terbayarkan dengan perjalanan ke curug cibadak dan beberapa jenis burung yang membuat perjalanan tidak mengecewakan.
Setelah istirahat sebentar kami pun memutuskan untuk kembali ke Ciapus dimana kami bertiga tinggal. hari yang menyenangkan,…(^-^),….

List Burung sepanjang jalur sungai curug cibadak, Loji, Bogor

  1. Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
  2. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
  3. Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)
  4. Srigunting Gagak (Dicrurus anectans)
  5. Srigunting Kelabu (Didrurus leucophaeus leucophaeus)
  6. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)
  7. Beluk Jampuk (Bubo sumatranus)
  8. Meninting Kecil (Enicurus velatus)
  9. Kacamata Gunung (Zozterops montanus)
  10. Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquata)
  11. Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides)
  12. Empuloh Janggut (Alophoixus bres balica)
  13. Tukik Tikus (Sasia abnormis)
  14. Wiwik Uncuing (Cuculus sepulclaris)
  15. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus ptilorhynchus)
  16. Gelatik Batu Kelabu (Parus major)
  17. Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps)
  18. Cekekak Sungai (Todirhampus cloris)
  19. Perenjak Jawa (Prinia familiaris)
  20. Bentet Kelabu (Lanius schach)