Elang Jawa sang “garuda” yang terancam

Elang Jawa, atau nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi merupakan satwa karismatik dan istimewa karena menjadi lambang Negara, Garuda. Banyak fotografer alam liar yang ingin mengabadikan burung berjambul ini. Satu tahun yang lalu saya berkesempatan untuk menemani seorang Fotografer Satwa Liar profesional memotret makhluk tuhan paling seksi ini. Kesempatan yang belum tentu semua pengamat burung bisa dapatkan. Bukan karena berdampingan dengan si Fotografernya, tapi kesempatan menyaksikan anakan elang jawa berpolah di sarangnya menunggu sang induk mengantar makanannya. Bonus setelah bangun pagi (jam 3 dinihari) menuju lokasi, mulai mendaki jam setengah 5 pagi, rasanya ini setimpal dengan perjuangan kami.

Berikut beberapa foto yang bisa saya share dengan kawan-kawan semua.

Menanti sang induk datang membawa makan siang / Asman Adi Purwanto 2012

Menanti sang induk datang membawa makan siang / Asman Adi Purwanto 2012

Continue reading

Mari Mengenal Elang Jawa

Elang Jawa Dewasa/Telapak

Dalam penamaan Nasional disebut Elang Jawa dengan Nama Ilmiah/Latin Spizaetus/Nisaetus bartelsi . Elang Jawa masuk dalam Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Sub-Filum Vertebrata, Kelas Aves, Order Falconiformes dalam Keluarga Accipitridae, Genus Spizaetus/Nisaetus dan Jenis Spizaetus/Nisaetus Bartelsi.

Sesuai dengan namanya Elang ini diseluruh dunia hanya dapat ditemukan di Indonesia. Di Indonesia pun hanya ada di Jawa.

Tersebar hampir diseluruh hutan pegunungan di Pulau Jawa. Jawa Barat, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Sawal, Gunung Simpang, Gunung Tangkuban Perahu, Panaruban, Cagar Alam Takokak Cianjur, dan Gunung Ceremai. Jawa Tengah di Gunung Slamet, Baturaden, Dieng, Gunung Merapi. Jawa Timur data masih minim informasi. Continue reading

Elang jawa citayam dilepasliarkan

Info mengenai adanya Elang jawa(Spizaetus bartelsi) yang dipelihara di salah satu kios tanaman hias di daerah Citayam, Depok-Jawa Barat diketahui oleh IAR Indonesia pada bulan Desember 2007 yang kemudian dilakukan pendekatan terhadap pemilik kios tersebut. Setelah dilakukan pendekatan, ternyata elang jawa tersebut hendak dijual jika ada orang yang berminat membelinya. Penempatan elang jawa di Kios/Toko Tanaman hias yang memang berada tepat dipinggir jalan itu memang mudah sekali mendapat perhatian dari pengenadara sepeda motor maupun mobil yang lewat dilokasi tersebut. Selain lokasinya tepat dipinggir jalan raya, lokasi tersebut juga kerap terjadi kemacetan pada jam-jam tertentu yang disebabka oleh jalanan yang rusak akibat genangan air ketika musim hujan.

Asal mula Elang jawa itu berada di toko itu berawal dari salah seorang murid dari orangtua pemilik toko tersebut. Menurut informasi pemilik toko sekaligus pemilik elang jawa itu, orang tuanya di kasih anakan elang jawa sebagai hadiah dari salah satu muridnya sebagai ucapan terima kasih. Namun semakin bertumbuh kembangnya elang jawa tersebut menjadi dewasa, pemilik toko tersebut mempunyai keinginan atau bermaksud untuk menjual elang itu jika ada orang yang berminat membelinya. Harga yang di tawarkan pun terhitung mahal. Satu juta rupiah harga yang ditawarkan.

Evakuasi

Setelah melalui beberapa kali pedekatan yang dilakukan oleh IAR Indonesia akhirnya pemilik elang jawa tersebut secara sukarela mau menyerahkan elangnya setelah tahu bahwa elang jawa itu merupakan satwa yang dilindungi undang-undang dan hampir punah.

Tepat pada tanggal 23 Februari 2008 elang jawa di evakuasi oleh IAR Indonesia yang kemudian di translokasikan ke Pabaruban Raptor Center di daerah subang yang tepatnya di Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Panaruban Raptor Center dibangun berdasarkan inisiasi dari YPAL(Yayasan Pribumi Alam Lestari) sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang Pelestarian Keanekaragaman hayati di Indonesia dengan bekerjasama dengan PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater serta masyarakat Kampung Panaruban. Panaruban Raptor Center didirikan dan diresmikan pada tanggal 4 Juni 2006 dengan tujuan melakukan upaya-upaya pelestarian jenis burung pemangsa dan habitatnya melalui peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat.

Sebelumnya IAR Indonesia sudah menjalin hubungan kerjasama dengan Panaruban Raptor Center dalam hal penanganan raptor maka dari itu Elang jawa yang berhasil di evakuasi IAR di translokasi ke Panaruban Raptor Center. Perjalanan ke Panaruban Raptor Center dari lokasi elang jawa dipelihara ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil.

Sesampainya di Panaruban Raptor Center, tindakan selanjutnya adalah pengecekan secara keseluruhan kondisi fisik elang jawa tersebut yaitu dengan melakukan morfometrik bagian tubuh dan kelengkapan sayap. Dari hasil pengecekan, diketahui bahwa kondisi bulu sayap Primer telah dipotong. Pada bagian sayap kanan bulu primer yang sudah dipotong ada 8 bulu primer dan sayap kiri 5 bulu primer yang dipotong dan diketahui juga pada sayap kiri pada bagian bulu primer terdapat dua bulu primer yang baru tumbuh. Sedangkan untuk tindakan medis akan dilakukan menyusul.

Rehabilitasi

Hari-hari berikutnya elang jawa tersebut terus dilakukan pemantauan oleh Team Panaruban Raptor Center dan setiap perkembangannya akan dilakukan pencatatan sehingga dapat diketahui bahwa elang jawa tersebut dapat masuk ke tahapan rehabilitasi lebih lanjut.

Habituasi

Setelah beberapa bulan dilakukan pemantauan secara terus menerus akhirnya pada bulan Agustus 2008 elang jawa tersebut dimasukan ke kandang habituasi yang lebih besar yang lokasinya berada di pinggir hutan perbatasan antara Perkebunan Teh dan hutan panaruban. Hal itu dilakukan bertujuan supaya elang jawa tersebut bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu, tujuan dari habituasi yang dilakukan juga berdasarkan hasil observasi ketika dikandang sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi dari kandang sebelumnya perkembanganya terlihat cukup bagus. Ketika ada elang liar yang datang ke kandang observasi, elang jawa itu langsung coba menyerang dari dalam kandang. Dari hal-hal seperti itu dan beberapa perkembangan prilaku yang lain akhirnya pada bulan agustus elang jawa di pindahkan ke kandang habituasi. Kandang terakhir dari tahapa rehabilitasi.

Release

Setelah dua bulan melalui tahapan habituasi akhirnya pada tanggal 21 oktober 2008 si elang jawa di release di hutan Panaruban. Release elang jawa yang dilakukan Panaruban raptor center juga diliput oleh Nippon Hoso Kyokai(NHK) Jepang yang sebelumnya ketika evakuasi juga ikut meliput. TV dari jepang yang mengikuti proses dari evakuasi, rehabilitasi sampai dengan release serta moitoring itu sedang melakukan pembuatan film bertajuk ”garuda”.

Tepat pukul 11:00 elang jawa dilepas dengan cara membuka salah satu sisi kandang dengan cara membuka jaring kandang yang bertujuan supaya elang jawa tersebut bisa terbang keluar. Realease kali ini sama seerti dengan release sebelumnya yang selalu menggunakan metode yang sama yaitu dengan membuka jaring di salah satu sisi kandang. Selanjutnya elang jawa ini akan terus di moitoring perkembanganya setelah reselase. Hal itu bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan perkembangnya ketika berada diluar setelah release. Untuk memudahkan dalam monitoring, Panaruban Raptor center memasang Transmiter dan Wingmarker pada elang jawa itu. Sebelum kegiatan reselase dilakukan, terlebih dahulu tim monitoring melakukan pengecekan transmiter menggunakan Transceiver atau radio penerima signal dari transmiter yang dipasang pada elang jawa itu. Pengecekan dilakukan dengan cara menyamakan frequency yang ada pada transmiter ke receiver.

Setelah team menunggu sekitar dua jam setengah akhirnya elang jawa tersebut keluar dari kandangnya dengan cara di usir oleh tim yang nantinya akan terus memonitor perkembanganya. Uniknya yang dilakukan oleh panaruban raptor center dalam pengelolaan rehabilitasi dan kegiatan monitoring serta penelitian raptor selalu melibatkan masyarakat kampung panaruban. Monitoring kali ini pun sama. Untuk monitoring elang jawa kali ini dilakukan oleh masyarakat yang ikut terlibat dalam program rehabilitasi dan di dampingi oleh staff Panaruban Raptor Center.

photo:

Asman A. Purwanto

Panaruban Raptor Center