Bird Banding di Suaka Elang #2 (habis)

Rasanya saya sudah lupa sudah berapa kali saya lihat blog saya yang lama tak update. Tulisan Bird Banding di Suaka Elang #1 seperti menunggu kelanjutan cerita hari kedua. Saya pun hanya mikir kapan meh nulis neh? (kapan mau nulis lagi). Rasa malas  membuat semua menjadi terhambat dan itu benar terjadi pada diri saya yang malas sekali untuk nulis. Walaupun hanya sekedar beberapa paragraf saja. Wes ra sah kakean cing cong,..

Hari kedua jam/waktu pemasangan jaring dilakukan lebih awal dari hari sebelumnya untuk antisipasi waktu yang terlalu kesiangan sehingga burung yang tertangkap jadi sedikit. Hari kedua pemasangan jaring kabut dilakukan sebelum waktu Shalat Subuh(04:00). Mata masih burem karena baru bangun dan badan masih nagih karena tidur sudah larut malam dan tidur tidak nyenyak karena kedinginan. Continue reading

Fluffy Tit (Zeltus amasa maximinianus)

Fluffy Tit Zeltus amasa maximinianus Fruhstorfer, 1912

Merupakan jenis dari suku Lycaenidae. Kupu cantik dengan bulu menjuntai kebelakang layaknya dua buah ekor yang menyatu dengan sayap. Kemungkinan kegunaan ekor adalah untuk mengecoh predator pada saat kedua sayapnya membuka karena hampir mirip dengan antena di kepalanya.

Location : Suaka Elang

Continue reading

Ikut Menjadi Orangtua Asuh Elang Jawa

Elang Brontok di kandang perawatan

Ikut berpartisipasi dalam upaya Konservasi Satwa Liar yang ada di indonesia tidak harus menjadi aktivis satwa liar yang gemar dan rajin melakukan demo Hentikan perdagangan satwa liar dan semacamnya. Indonesia saat ini sudah memiliki beberapa Fasilitas Pusat Rehabilitasi dan Pusat Penyelamatan Satwa. Tempat-tempat itu dibangun untuk menjawab kebuntuan mengenai permasalahan satwa liar saat ini. Dengan adalanya lembaga-lembaga tersebut diharapkan pelestarian satwa liar di indonesia bisa lebih baik lagi.

Suaka Elang adalah Pusat Rehabilitasi dan Sanctuary(rumah akhir satwa yang tidak bisa di lepas lagi ke habitatnya) yang di resmikan pada tanggal 25 November 2008. Di tempat tersebut saat ini ada 6 Ekor elang yang merupakan hasil penegakan hukum yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam melalui pertiban di Pasar-pasar burung di Kawasan jakarta dan sekitarnya termasuk Jawa Barat.

Continue reading

Dari Elang Jawa menjadi Elang Brontok kemudian di Sulap Menjadi Elang Hitam

photo by Iwan Londo

Photo by Iwan Londo

Dari Elang Jawa Spizaetus bartelsi , jadi Elang Brontok Spizaetus cirrhatus kemudia disulap menjadi Elang Hitam Ictinaetus malayensis? Hebat banget ya si penyulap itu? Pasti akan berpikiran seperti itu. Kata-kata disulap ini saya ambil dari salah satu judul tulisan salah satu blogger yang bekerja jadi Pengendali Ekosistem Hutan(PEH) di Taman Nasional Baluran. Sebuah beban tanggung jawab yang sangat besar. Dia sebagai Pengendali Ekosistem Hutan dengan tanggung jawabnya jawabnya yang begitu besar masih bisa ngeblog sudah pasti hebat. Gimana tidak hebat coba,.. bayangin saja lha wong mengendalikan hawa napsunya sendiri saja belum tentu bisa, nah ini, dia sampai harus mengendalikan ekosistem hutan, wes dah pasti hebat,… hehehe,.. (ayo arep komentar opo masbro swiss?),..

Gimana ceritanya kok elang brontok bisa disulap jadi elang hitam?.. jadi begini ceriteranya.

Tanggal 4-5 Juli kami(saya dan beberapa teman pengamat burung yang ada di bogor) melakukan pengamatan bersama di kawasan Suaka Elang yang berada di Resorts Salak I Seksi Konservasi Wilayah Bogor Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di lokasi para pemburu burung ini karena lumayan banyak(11-an orang) maka di bagi menjadi 2 tim. Nah,.. pas hari kedua kira-kira sekitar jam 8(delapan) waktu suaka elang tim pertama(kebetulan saya di tim pertama) melihat satu ekor Elang terbang sangat rendah. Namanya juga penggila burung sudah pasti matanya langsung pada jelalatan. Bagi yang membawa Kamera dengan perbesaran lensa yang mumpuni untuk mengabadikan  elang tersebut langsung lari kea rah elang itu terbang, dan kebetulan elang tersebut menyempatkan untuk soaring jadi masih bisa di foto walaupun hasilnya masih kurang bagus.

Continue reading

Hari kebebasan untuk si “piter”

Accipiter trivirgatus photo by Iwan Londo

Pagi itu di hari Sabtu di bulan Oktober tanggal 17 sebuah prosesi pelepasliaran satu ekor Elang Alap Jambul,Accipiter trivirgatus, terlihat begitu meriah. Suaka Elang pada hari itu mempunyai Hajat besar yaitu pelepasliaran satu ekor elang yang telah menghuni fasilitas kandang beberapa bulan. Selain pelepasliaran kegiatan pada hari yang tak kalah penting adalah Peresmian Jembatan oleh Pihak Antam selaku donatur sehingga jembatan yang menghubungkan punggungan di resorts salak satu itu bisa kita gunakan saat ini, juga sekalian pembukaan Kemah Konservasi oleh Pihak Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kegiatan kemah konservasi yang di ikuti beberapa sekolah menengah atas yang di kordinir oleh Uni Konservasi Fauna Institut Pertanian Bogor merupakan kegiatan positif yang sangat bagus. Apalagi berbarengan dengan kegiatan pelepasliaran oleh suaka elang.

Elang yang dilepas terbilang tidak lama menghuni kandang di salah satu fasilitas yang ada di suaka elang. elang tersebut di evakuasi dari kantor balai TNGHS pada tanggal 07 September 2009 dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya tanggal 17 Oktober 2009. Proses yang sangat cepat sekali untuk ukuran rehabilitasi elang yang sudah pernah di pelihara oleh masyarakat. Awalnya Elang alap jambul yang masih muda itu di pelihara oleh masyarakat di sekitar kawasan taman nasional. Mengetahui bahwa elang tersebut merupakan jenis satwa yang dilindungi, salah satu tetangga dari si pemelihara itu melaporkan ke pihak taman nasional yang kemudian di tindaklanjuti dengan melakukan tindakan penyadartahuan yang akhirnya hasil dari pendekatan yang dilakukan oleh petugas taman nasional itu dengan diserahkanya elang tersebut. Akhir cerita setelah elang tersebut berhasil di evakuasi ke kantor taman nasional adalah di evakuasinya elang tersebut ke suaka elang. Kebetulan saya yang berangkat untuk mengevakuasi elang alap jambul itu dari kantor taman nasional yang berada di Kabandungan, Jl Raya cipanas, sukabumi. Butuh waktu 3 jam dari bogor untuk bisa sampai ke kantor yang menjalankan kebijakan pengelolaan kawasan halimun salak itu.

Continue reading