Morning Call dan Tarian dari Hutan Way Rilau

Sudah bukan rahasia lagi kala di dalam hutan yang ada hanya suara-suara penghuni hutan. Mulai dari suara burung, belalang dan sudah pasti tidak akan kita dengar suara kendaraan bermotor yang biasa kita dengar begitu kita terbangun dari tidur kita di pagi hari.

Bersama

Menjadi bagian dalam sebuah tim yang bekerja untuk memonitor keberlangsungan kelompokBeruk(Macaca nemestrina) pasca dilepaskanya mereka ke habitatnya yang mengantarkan saya berada ke hutan Way Rilau di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Tujuh belas hari tinggall di dalam hutan seperti menjadi obat untuk me-refresh diri yang setiap hari dihadapkan pada sebuah kepenatan hidup di kota besar. Tujuhbelas hari pula kita di tuntut untuk bisa memanage segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup kita didalam hutan selama kegiatan berlangsung.

Bagi saya yang suka dengan burung(yang jelas burung yang bisa terbang) itu menjadi pengalaman yang cukup mahal kalau harus di uangkan. Bagaimana tidak, kalau harus sengaja berangkat dengan ongkos dari kantong sendiri sudah pasti tekor bandar. Disini saya menjadi orang yang beruntung karena apa yang selama ini saya nantikan untuk bisa ikut ke kawasan way rilau bisa terlaksana.

Kalau dulu hanya mendengar cerita atau baca langsung dari satu artikel tentang suara-suara yang di keluarkan oleh jenis-jenis primata ketika menyambut pagi atau yang biasa di sebut dengan sebutan Morning Call akhirnya setiap hari pada saat didalam hutan itu benar-benar kami alami. Suara Owa Ungko(Hylobates agillis) yang saling bersahut-sahutan, Siamang(Symphalangus syndactylus) dengan suara kerasnya tidak pernah terlewatkan setiap harinya.

Kalau di sekitaran Gunung Salak kadang terdengar suara Owa Jawa(Hylobates moloch) tapi kecil karena jaraknya yang berkilo-kilo. Beda dengan di way rilau yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Suara owa yang bersahutan terdengar melengking seolah mengabarkan bahwa merekalah penghuni kawasan itu. Suara yang menandakan bahwa kawasan itu merupakan daerah keuasaan mereka. Begitu juga Siamang yang mempunya kantung udara di tenggorokan pun sama. Saling brsahutan satu sama lain. Jantan dengan Betina, satu keluarga dengan keluarga yang lain untuk menandakan bahwa mereka punya teretory sendiri-sendiri.

Pun demkian, yang tak kalah menarik adalah nyanyian para burung penghuni kawasan itu. Kebetulan camp kami berada di pinggir sungai dan sekitaran camp semak belukar yang sangat menguntungkan sekali kalau kita mau mendengar suara burung-burung semak menyambut pagi. Ada satu hal yang menarik perhatian saya pada saat itu adalah suara keributan yang di keluarkan oleh beberapa ekor burung. Keriuhan suara yang terjadi setiap hari. Di dera rasa penasaran itulah yang menambah semangat saya untuk bisa mengetahui dan memastikan itu suara burung apa. Duduk di atas batu besar dengan Kitab Panduan Burung Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali serta satu binokullar pagi itu sudah harus dapat memastikan jenisnya apa. Satu burung keluar dari semak pindah ke ranting pohon tepat di atas air yang kemudaian di susul individu lainya.

Empat burung  terkumpul jadi satu. Sekelompok Pelanduk Dada Putih(Trichastoma rostratum Blyth, 1842)itu selain mengeluarkan suara yang riuh juga melakukan goyangan badan seperti sedang menari. Sebuah tarian yang seolah-olah dikeluarkan untuk menarik pasangan mereka.

Foto: Dig deep

White-chested Babbler, begitu nama Inggrisnya untuk burun satu ini ternyata di buku Checklist Daftar Burung Indonesia No.2 yang hanya tersebar di Sumatera dan Kalimantan termasuk burung yang sudah mendekati Keterancaman.

Sebenarnya masih banyak burung-burung yang menarik perhatian saya pagi itu, tapi tarian dari burung yang masuk dalam Keluarga Timaliidae ini mampu menahan saya berlama-lama duduk di atas batu di pagi itu. Sebuah pemandangan langka yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Ternyata untuk melihat burung menari saya tidak harus berangkat ke Gunung Arfak hanya untuk melihat burung Cenderawasih menari di lantai hutan untuk menarik sang Betina karena di Way Rilau saya juga bisa menyaksikan burung kecil itu menari. Pelanduk Dada Putih dengan suara riuhnya juga tidak kalah menarik dengan Cenderawasih dari Papua.

Nyanyian dan Tarian para penghuni Way Rilau menghadapkan kita pada satu Ciptaan yang maha kuasa yang mengingatkan kita pada satu kata yaitu “Manusia bukan apa-apa di balik semua Ciptaanya”. Kita itu kecil dibanding dengan apa yang ada di alam ini. Kita hanya satu dari bagian begitu banyak dan besarnya keagungan tuhan.

7 thoughts on “Morning Call dan Tarian dari Hutan Way Rilau

  1. Weehh…
    pengen bangett bisa lihat cendrawasih menari….
    kalau di kaltim ada jenis burung Agusianus argus yg juga suka menari…
    sayang saya juga belum pernah bertemu langsung…baru melihat lokasi biasa jenis tersebut menari saja… ^^

    Yaahh semoga punya kesempatan bisa melihatnya menari…
    Salam dari borneo…

    Like

  2. “Bagi saya yang suka dengan burung(yang jelas burung yang bisa terbang)” –> wes ganti orientasi to masbro? hehehehe…

    ## aku yo senenge karo manuk sing iso mabur,.. lha nek manuk sing isone nglimpruk nang bungkusan aku dhewe yo nduwe masbro,.. hahaha##

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s